18 August 2026

Get In Touch

Ruang Nyaman Menelusuri Islam Nusantara di MINHA

Ruang Nyaman Menelusuri Islam Nusantara di MINHA

SURABAYA ( LENTERA ) - Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), perhatian kembali tertuju pada Tebuireng, Jombang, salah satu kawasan yang lekat dengan sejarah perjalanan NU dan tradisi pesantren di Indonesia. Di kompleks Pesantren Tebuireng, Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy’ari (MINHA) menawarkan cara lain untuk membaca sejarah yaitu melalui manuskrip, benda pribadi ulama, artefak dakwah, hingga jejak perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Museum itu tidak menyambut pengunjung dengan denting dramatis atau instalasi yang mencolok. Begitu melewati pintu utama, perhatian justru tertuju pada sosok kuda berwarna tembaga yang merepresentasikan kuda Pangeran Diponegoro.

Patung tersebut seolah menjadi penanda awal perjalanan di MINHA. Kisah yang dibangun museum ini tidak berhenti pada perkembangan Islam sebagai agama, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ulama, pesantren, dan masyarakat Muslim berkelindan dengan sejarah perjuangan bangsa.

MINHA diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2018. Setelah beberapa tahun beroperasi, museum terus berbenah. Wajah terbarunya rampung pada akhir 2025 melalui pembaruan ruang pamer sekaligus penguatan narasi koleksi.

Penanggung jawab unit MINHA, Mujibur Rohman, mengatakan pembaruan museum diarahkan untuk membuat pengunjung memahami hubungan antara benda yang dipamerkan dan konteks sejarah di baliknya.

“Kami ingin pengunjung tidak sekadar melihat benda, tetapi memahami konteks sejarahnya. Setiap ruangan kami tata sebagai bab dalam perjalanan panjang Islam dan bangsa ini,” ujar Mujibur.

Membaca Sejarah dari Empat Zona

Ruang pamer MINHA kini ditata dalam empat zona tematik. Narasinya bergerak dari sejarah penyebaran Islam di Nusantara, perkembangan pesantren, peran ulama, hingga kontribusi umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa.

Dari ruang pembuka, pengunjung diarahkan menuju dua ruang tokoh sentral: Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan K.H. Hasyim Asy’ari.
Ruang Abdurrahman Wahid tampil dengan suasana lebih kontemporer. Linimasa kehidupan Gus Dur, dokumentasi kebijakan, aktivitas intelektual, dan sejumlah memorabilia disusun untuk memperlihatkan perjalanan pemikiran tokoh yang pernah menjadi Presiden keempat Indonesia tersebut.

Salah satu benda yang mencuri perhatian adalah barongsai yang digunakan untuk menyambut Gus Dur setelah pemerintah mengizinkan kembali perayaan Imlek dan pertunjukan barongsai. Peristiwa itu berlangsung pada 2000.

Koleksi tersebut bukan sekadar memorabilia. Ia ditempatkan sebagai bagian dari narasi mengenai gagasan kebangsaan, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman yang menjadi bagian penting dari pemikiran Gus Dur.
Di ruang berikutnya, pengunjung memasuki dunia K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng sekaligus salah satu ulama penting dalam sejarah Islam Indonesia.

Foto-foto perjuangan, reproduksi dokumen Resolusi Jihad, serta berbagai arsip masa revolusi memenuhi ruang pamer. Sebuah kitab terbuka ditempatkan di dalam vitrin kaca di tengah ruangan, seperti mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan menjadi salah satu fondasi utama perjuangan.

Koleksi yang berkaitan langsung dengan Mbah Hasyim juga dipamerkan, antara lain jubah asli, tongkat kayu dan tasbih. Manuskrip serta kitab kuno koleksi Tebuireng ditempatkan dalam vitrin dengan pengaturan suhu khusus untuk menjaga kondisinya.

Panel digital melengkapi koleksi fisik. Pengunjung dapat membaca ringkasan isi kitab dan mengenali biografi sejumlah ulama Nusantara. Majalah-majalah Islam yang terbit pada awal abad ke-20 juga memperlihatkan bagaimana gagasan keagamaan berkembang dan diperdebatkan pada masa itu.

Di ruang yang sama, kisah Wahid Hasyim turut ditampilkan. Putra K.H. Hasyim Asy’ari itu memiliki peran dalam merumuskan kebijakan keagamaan pada masa awal Republik Indonesia.

Bagi pengelola, narasi tersebut penting untuk menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama.
“Di pesantren, agama dan cinta tanah air tumbuh bersamaan. Itu yang ingin kami tegaskan dalam narasi ruang ini,” kata Mujibur.

Beduk, Tradisi, dan Kehidupan Pesantren

Di bagian lain museum, sebuah beduk besar menarik perhatian. Bedug Ijo Mangusari menyimpan jejak kehidupan spiritual sekaligus sosial masyarakat setempat.

Warna hijaunya menjadi identitas khas. Dahulu, suara beduk tidak hanya menjadi penanda waktu salat, tetapi juga bagian dari kehidupan bersama: mengumpulkan warga untuk beribadah, bermusyawarah, hingga merayakan hari-hari besar keagamaan.

Artefak seperti ini memperlihatkan pendekatan MINHA dalam menyusun koleksi. Sejarah Islam tidak hanya dipahami melalui tokoh besar dan dokumen penting, tetapi juga melalui benda yang pernah hidup di tengah masyarakat.

Memasuki lantai kedua, narasi bergeser lebih jauh ke belakang, menuju sejarah kedatangan dan perkembangan Islam di Nusantara.
Panel kronologis menjelaskan sejumlah teori mengenai masuknya Islam, termasuk jalur perdagangan yang menghubungkan Nusantara dengan Gujarat, Persia dan Arab. Peta interaktif memperlihatkan jalur maritim yang menjadi salah satu pintu penting pertemuan masyarakat Nusantara dengan dunia Islam.

Di salah satu sudut, dua artefak menghadirkan cerita tentang sejarah maritim kawasan, ada Meriam Sri Rambai Iskandar Muda dan miniatur Meriam Demak.

Meriam Sri Rambai dicetak pada 1603 dan memiliki riwayat panjang yang mengikuti pergulatan kekuasaan di kawasan Melayu. Awalnya meriam tersebut merupakan hadiah VOC untuk Kesultanan Johor. Setelah Johor ditaklukkan Aceh pada 1613, Sultan Iskandar Muda membawanya ke Aceh dan menambahkan inskripsi Jawi.

Perjalanan meriam berlanjut ke Selangor pada 1795 sebelum akhirnya dirampas Inggris pada 1871. Kini meriam tersebut tersimpan di Benteng Cornwallis, Pulau Pinang.

Sementara itu, miniatur Meriam Demak mengingatkan pada kemampuan teknologi dan kekuatan maritim Kerajaan Demak pada abad ke-16. Demak dikenal mampu memproduksi meriam dan memasangnya di kapal-kapal jung, termasuk dalam ekspedisi ke Malaka pada 1513 dan 1521 di bawah Adipati Unus.

Dua koleksi tersebut membawa pengunjung pada cerita yang lebih luas tentang perdagangan, diplomasi, teknologi, peperangan dan persaingan kekuasaan di kawasan Nusantara.

Ketika Dakwah Menyatu dengan Budaya

Koleksi wayang Wali Songo menjadi salah satu bagian yang memperkuat cerita tentang corak dakwah Islam di Jawa.
Wayang tersebut menggambarkan bagaimana dakwah dapat berjalan melalui pendekatan kultural dengan memanfaatkan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat. Koleksi itu diperoleh MINHA pada 2025.

“Islam berkembang di Indonesia bukan lewat penaklukan, tetapi lewat budaya, pendidikan, dan keteladanan,” ujar Mujibur.

Narasi tersebut menjadi salah satu benang merah museum: Islam di Indonesia tumbuh melalui perjumpaan dengan masyarakat dan kebudayaan lokal.

Gagasan pendirian MINHA tidak dapat dilepaskan dari almarhum Salahuddin Wahid atau Gus Solah.

Pengelola menjelaskan, Gus Solah melihat perlunya ruang representatif untuk memperlihatkan perjuangan dan keilmuan K.H. Hasyim Asy’ari dalam konteks sejarah Indonesia. Dari gagasan tersebut kemudian berkembang konsep museum yang bukan hanya menampilkan benda, tetapi juga hubungan antara Islam, pesantren dan kebangsaan.

Filosofi itu bahkan diterjemahkan ke dalam arsitektur bangunan.

MINHA menjulang dengan komposisi kerucut bertingkat. Struktur bagian atas melambangkan kiai, sementara bagian di bawah merepresentasikan santri.

“Relasi yang diikat oleh kepatuhan, penghormatan, dan tradisi ngalap berkah. Dalam bahasa arsitektur, museum ini menegaskan filosofi hubungan guru dan murid yang menjadi fondasi dunia pesantren,” kata Mujibur.

Dengan demikian, bangunan museum tidak hanya menjadi wadah koleksi. Arsitekturnya ikut menyampaikan cara pesantren memandang hubungan antara guru dan murid.
Islam, Kebangsaan, dan Keberagaman
Semakin jauh menyusuri ruang pamer, narasi museum juga bergerak dari sejarah Islam menuju persoalan kebangsaan dan keberagaman.

Bagi pengelola, sejarah Islam Indonesia tidak dapat dipisahkan dari keragaman masyarakat yang membentuk negeri ini.

“Museum ini terbuka untuk semua. Spiritnya adalah Islam yang ramah dan menghargai keberagaman,” ujar Mujibur.

Pesan itu terasa penting, terutama ketika MINHA ditempatkan dalam konteks kawasan Tebuireng. Pesantren bukan hanya ruang pendidikan agama, melainkan bagian dari sejarah sosial dan politik Indonesia.

Menjelang Muktamar NU, ruang seperti MINHA dapat menjadi semacam pintu untuk memahami kembali akar sejarah tersebut. Di dalamnya, perjalanan organisasi, pesantren, ulama, dan bangsa tidak ditempatkan sebagai cerita yang berdiri sendiri, melainkan sebagai rangkaian pengalaman yang saling berhubungan.

Hingga awal 2026, MINHA mencatat sekitar 288 koleksi. Jumlah tersebut bertambah setelah proses akuisisi sepanjang 2025 yang mencakup hibah dan pengadaan.

“Museum tidak bisa disebut museum tanpa koleksi. Koleksi adalah kekuatan utama,” tutur Mujibur.

Namun, penambahan koleksi tidak dilakukan sembarangan. Setiap benda yang akan masuk terlebih dahulu melalui kajian.

Tim museum yang terdiri atas kurator, konservator dan registrar meneliti aspek historis, material hingga legalitas benda. Proses tersebut diperlukan untuk memastikan koleksi tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki dasar sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Lantai teratas museum difungsikan sebagai laboratorium sekaligus ruang pengelolaan koleksi. Di sanalah proses kajian, konservasi dan berbagai pekerjaan terkait koleksi dilakukan.

MINHA juga membuka ruang bagi mahasiswa dan peneliti. Magang, penelitian manuskrip hingga diskusi publik menjadi bagian dari aktivitas museum.

Pernah pula digelar diskusi ilmiah mengenai naskah kuno dengan pendampingan kurator. Jejaring dengan perguruan tinggi terus dikembangkan untuk memperluas penelitian sekaligus diseminasi pengetahuan.

Aktivitas museum tidak berhenti pada pengunjung domestik. Kunjungan dari mancanegara mulai muncul meski belum dalam jumlah besar. Pada 2025, MINHA juga menjadi tuan rumah pameran kaligrafi internasional yang digelar bersama komunitas pesantren kaligrafi di Jombang.

MINHA ingin menjadi ruang yang dapat didatangi siapa saja untuk melihat bagaimana agama, ilmu pengetahuan, budaya, pesantren dan perjuangan kebangsaan bertemu dalam perjalanan panjang Indonesia.
“Ruang yang inklusif, terbuka bagi siapa saja, lintas agama dan golongan,” kata Mujibur.(dya)

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.