18 August 2026

Get In Touch

Cuaca Panas Tak Cuma Bikin Gerah, Pakar Ungkap Risiko Kesehatan Mental

Cuaca Panas Tak Cuma Bikin Gerah, Pakar Ungkap Risiko Kesehatan Mental

SURABAYA ( LENTERA ) - Gelombang cuaca panas yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan suhu yang terlalu tinggi juga dapat memengaruhi kesehatan mental, kualitas tidur, produktivitas, hingga meningkatkan risiko berbagai penyakit serius.

Epidemiolog sekaligus pakar Global Health Security dari Griffith University dan Universitas YARSI, Dicky Budiman, mengatakan dampak cuaca panas ekstrem terhadap kesehatan masyarakat jauh lebih luas dibanding yang selama ini dipahami.

“Bukti terbaru menunjukkan hubungan antara paparan panas ekstrem dan peningkatan stres psikologis, gangguan tidur, depresi hingga penurunan produktivitas,” kata Dicky.

Pernyataan tersebut sejalan dengan sejumlah penelitian internasional yang menunjukkan suhu tinggi dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Analisis yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Planetary Health menemukan peningkatan suhu lingkungan berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental, kunjungan ke layanan kesehatan jiwa, hingga angka bunuh diri di sejumlah negara.

Apa Hubungannya dengan Mental?

Saat cuaca sangat panas, tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap normal. Kondisi ini dapat memicu stres fisiologis yang berdampak pada suasana hati, kualitas tidur, dan fungsi kognitif.

Tidur yang terganggu menjadi salah satu jalur utama yang menghubungkan cuaca panas dengan kesehatan mental.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal One Earth menunjukkan malam yang lebih panas berhubungan dengan berkurangnya durasi tidur manusia. Dampak ini lebih besar pada kelompok lanjut usia dan masyarakat yang tinggal di negara berpenghasilan rendah.
Kurang tidur dalam jangka panjang diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, gangguan konsentrasi, serta penurunan produktivitas.

“Bukti terbaru menunjukkan hubungan antara paparan panas ekstrem dan peningkatan stres psikologis, gangguan tidur, depresi hingga penurunan produktivitas,” ujar Dicky.

Selain itu, sejumlah studi internasional juga menemukan peningkatan suhu ekstrem dapat berkorelasi dengan meningkatnya kunjungan ke unit gawat darurat terkait gangguan kesehatan mental.

DBD juga Diwaspadai

Di tengah meningkatnya suhu udara, masyarakat juga sering mengaitkan cuaca panas dengan lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD).

Namun menurut Dicky, hubungan tersebut tidak sesederhana itu.Ia menjelaskan peningkatan kasus DBD dipengaruhi banyak faktor, termasuk suhu, kelembapan, curah hujan, perilaku masyarakat, sanitasi lingkungan, kepadatan penduduk hingga efektivitas pengendalian vektor.

Memang, suhu yang lebih hangat dapat mempercepat perkembangan larva nyamuk Aedes aegypti, meningkatkan metabolisme nyamuk dan mempercepat replikasi virus dengue.

Namun ketika suhu terlalu tinggi, kemampuan bertahan hidup nyamuk justru bisa menurun.
“Kalau dalam konteks Indonesia sering kali setelah hujan itu banyak genangan, kemudian beberapa minggu kemudian cuaca hangat. Di sinilah populasi nyamuk Aedes meningkat, kasus DBD meningkat. Karena itu biasanya ada time lag sekitar dua sampai delapan minggu antara perubahan cuaca dan lonjakan kasus demam berdarah,” jelasnya.

Karena itu, peningkatan kasus DBD lebih sering muncul akibat kombinasi antara musim hujan, genangan air dan suhu hangat dibandingkan panas ekstrem semata.

Penyakit Ginjal-Serangan Jantung

Dampak cuaca panas juga dapat menjalar ke berbagai organ tubuh.Dicky mengingatkan panas ekstrem meningkatkan risiko dehidrasi yang dapat memicu gangguan ginjal akut atau acute kidney injury.

“Penyakit katastropik seperti ginjal dapat berisiko terjadi saat panas ekstrem karena adanya dehidrasi atau acute kidney injury,” ujarnya.

Selain itu, cuaca panas juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Saat tubuh kehilangan banyak cairan, volume darah dapat berkurang sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan sirkulasi darah.

Perubahan tersebut dapat meningkatkan tekanan pada sistem kardiovaskular, terutama pada kelompok lanjut usia, penderita hipertensi, diabetes dan penyakit jantung.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut gelombang panas menjadi salah satu ancaman kesehatan yang paling mematikan akibat perubahan iklim karena berkaitan dengan peningkatan angka kematian akibat penyakit jantung, stroke dan gangguan pernapasan.

Gangguan Pernapasan

Masalah lain yang sering luput dari perhatian adalah kualitas udara.

Menurut Dicky, cuaca panas kerap disertai peningkatan kadar ozon permukaan dan polusi udara yang dapat memperburuk gangguan pernapasan.

“Panas yang sering disertai ozon meningkat, polusi udara dan asap kendaraan akhirnya memperburuk asma,” katanya.

WHO juga mencatat suhu tinggi dapat memperparah dampak polusi udara terhadap kesehatan manusia, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan penderita penyakit paru kronis.

Keracunan Makanan Meningkat

Cuaca panas ternyata tidak hanya memengaruhi tubuh secara langsung, tetapi juga keamanan pangan.

“Penyakit akibat makanan juga bisa meningkat karena cuaca panas ini, terutama temperatur tinggi mempercepat pertumbuhan bakteri seperti salmonella sehingga meningkatkan risiko keracunan makanan,” ungkap Dicky.

Suhu tinggi memang menciptakan kondisi yang lebih ideal bagi pertumbuhan berbagai bakteri penyebab penyakit bawaan makanan (foodborne disease).

Karena itu, makanan yang disimpan terlalu lama pada suhu ruang lebih berisiko mengalami kontaminasi dibandingkan pada kondisi cuaca normal.

Menurut Dicky, dampak cuaca panas ekstrem tidak berhenti pada persoalan kesehatan individu.

Peningkatan suhu global juga dapat memengaruhi distribusi nyamuk dan hewan pembawa penyakit, ketersediaan air bersih, kualitas pangan hingga risiko penyakit zoonosis.

“Dampak cuaca panas ekstrem melampaui sektor kesehatan, yakni mencakup ketahanan pangan, keamanan air, produktivitas tenaga kerja, stabilitas ekonomi dan ketahanan sistem kesehatan,” katanya.

Badan Meteorologi Dunia (WMO) bahkan menyebut tahun-tahun terakhir sebagai periode terpanas dalam sejarah pencatatan modern, dengan berbagai konsekuensi terhadap sistem kesehatan dan ekonomi global.

Melihat luasnya dampak yang ditimbulkan, Dicky menilai respons terhadap cuaca panas tidak cukup hanya berupa penanganan medis ketika masyarakat sudah sakit.

“Karena itu respons tidak cukup berupa penanganan klinis, tetapi memerlukan kebijakan lintas sektor seperti tata kota yang adaptif terhadap panas, sistem peringatan dini terkait cuaca panas, perlindungan pekerja, pengendalian vektor baru dan mitigasi perubahan lingkungan,” tegasnya.

Sejumlah negara telah mulai menerapkan heat action plan atau rencana aksi menghadapi gelombang panas, termasuk penyediaan ruang pendingin publik, sistem peringatan dini, perlindungan pekerja luar ruangan dan penyesuaian jam kerja saat suhu ekstrem.

Bagi Indonesia, yang semakin sering mengalami suhu tinggi dalam beberapa tahun terakhir, para ahli menilai langkah adaptasi serupa akan semakin penting.
Sebab, cuaca panas bukan lagi sekadar persoalan rasa gerah.

Di balik suhu yang terus meningkat, terdapat ancaman terhadap kesehatan fisik, kesehatan mental, produktivitas hingga kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.