14 August 2026

Get In Touch

Teh Serai di Pagi Hari: Benarkah Bisa 'Detoks' Tubuh?

Teh Serai di Pagi Hari: Benarkah Bisa 'Detoks' Tubuh?

SURABAYA ( LENTERA ) - Memulai pagi dengan minuman hangat menjadi kebiasaan bagi sebagian orang. Selain kopi atau teh, air rebusan serai kerap dipilih karena aromanya yang khas dan dipercaya memiliki sejumlah manfaat bagi tubuh.

Serai atau Cymbopogon citratus memang telah lama digunakan sebagai bahan pangan sekaligus tanaman herbal. Sejumlah penelitian menemukan kandungan senyawa bioaktif di dalamnya, termasuk citral, flavonoid, dan senyawa fenolik.

Namun, berbagai klaim mengenai manfaat teh serai perlu ditempatkan secara proporsional. Tidak semua manfaat yang ditemukan dalam penelitian laboratorium atau hewan otomatis terbukti sama pada manusia.

Salah satu manfaat yang paling banyak dikaitkan dengan serai adalah kandungan senyawa antioksidannya. Penelitian terhadap ekstrak Cymbopogon citratus menunjukkan adanya aktivitas antioksidan, meski hasil tersebut tidak berarti konsumsi teh serai dapat mencegah penyakit tertentu.

Antioksidan sendiri berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap stres oksidatif. Namun, lembaga kesehatan seperti National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) mengingatkan bahwa keberadaan senyawa antioksidan dalam suatu bahan pangan tidak otomatis berarti bahan tersebut memberikan manfaat klinis tertentu. 

Mendukung Pencernaan

Serai secara tradisional digunakan untuk membantu mengatasi sejumlah keluhan pencernaan. Kandungan minyak atsiri dan senyawa bioaktif di dalamnya menjadi salah satu alasan tanaman ini banyak diteliti.
Akan tetapi, bukti klinis mengenai efek teh serai terhadap pencernaan manusia masih terbatas. 

Karena itu, teh serai lebih tepat disebut sebagai minuman herbal yang berpotensi mendukung kenyamanan pencernaan, bukan sebagai obat untuk gangguan pencernaan.

Konsumsi dalam bentuk seduhan juga berbeda dengan penggunaan minyak esensial atau ekstrak pekat. Konsentrasi zat aktif dalam produk tersebut dapat jauh lebih tinggi.

Mengandung Senyawa Antioksidan

Serai mengandung berbagai senyawa fitokimia yang memiliki aktivitas antioksidan. Kajian ilmiah terhadap Cymbopogon citratus menemukan beragam komponen seperti terpenoid, flavonoid dan asam fenolat. 

Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 juga menemukan aktivitas antioksidan pada ekstrak daun serai serta aktivitas antimikroba terhadap sejumlah mikroorganisme dalam pengujian laboratorium. Namun, penelitian tersebut menggunakan ekstrak dengan konsentrasi tertentu sehingga hasilnya tidak dapat langsung disamakan dengan efek satu cangkir teh serai. 

Karena itu, teh serai sebaiknya dipandang sebagai salah satu pilihan minuman berbahan tanaman, bukan sebagai pengganti pola makan sehat.

Memiliki Efek Diuretik

Serai juga dikaitkan dengan efek diuretik, yaitu meningkatkan produksi urine.

Sebuah kajian mengenai potensi serai terhadap tekanan darah menemukan adanya laporan efek diuretik ringan hingga sedang pada penelitian terhadap hewan dan manusia. Kajian yang sama menyebut konsumsi teh serai dalam sejumlah penelitian manusia berkaitan dengan penurunan tekanan darah, tetapi peneliti menekankan bahwa mekanisme dan profil keamanannya masih perlu dipelajari lebih lanjut. 

Efek diuretik inilah yang kemungkinan menjadi dasar munculnya klaim bahwa teh serai dapat membantu “membuang racun”.Namun, istilah tersebut perlu diluruskan.

Tubuh manusia sebenarnya telah memiliki sistem untuk memproses dan membuang zat sisa, terutama melalui hati dan ginjal.
Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa konsumsi minuman berbahan serai dapat meningkatkan asupan cairan dan, berdasarkan sejumlah penelitian, mungkin memiliki efek diuretik ringan. Bukan berarti teh serai secara khusus “membersihkan racun” dari tubuh.

Klaim “detoks” yang menyatakan minuman tertentu dapat mengeluarkan seluruh racun dari tubuh tidak memiliki dasar yang cukup kuat jika tidak disertai bukti klinis spesifik.
Begitu pula dengan klaim bahwa teh serai dapat “membersihkan hati” atau “membersihkan ginjal”. 

Penelitian terbaru mengenai potensi hepatoprotektif serai masih banyak didasarkan pada model eksperimental, sehingga belum dapat dijadikan dasar untuk menganggap teh serai sebagai terapi penyakit hati

Tetap Perhatikan Jumlah Konsumsi

Teh serai yang dibuat sebagai seduhan biasa umumnya berbeda dengan minyak esensial atau ekstrak pekat.

Sebuah penelitian pada manusia menemukan bahwa seduhan daun serai yang dikonsumsi sekali maupun setiap hari selama dua minggu tidak menunjukkan tanda toksisitas klinis pada parameter yang diperiksa. 

Meski demikian, penelitian mengenai keamanan jangka panjang dan penggunaan serai dalam konsentrasi tinggi masih terbatas. Kajian ilmiah juga mencatat adanya potensi efek samping dan risiko pada penggunaan ekstrak atau minyak serai dalam dosis tinggi. 

Karena itu, penggunaan serai sebagai minuman sebaiknya tidak disamakan dengan penggunaan ekstrak herbal berkonsentrasi tinggi.

Bagi orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu atau rutin mengonsumsi obat, konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan sebelum menjadikan herbal sebagai bagian dari terapi.

Pada akhirnya, secangkir teh serai di pagi hari dapat menjadi pilihan minuman hangat yang sederhana. Manfaatnya lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari pola hidup sehat, bukan sebagai minuman ajaib yang dapat menyembuhkan penyakit atau melakukan “detoks” tubuh.

Pola makan bergizi, cukup minum, aktivitas fisik dan tidur yang cukup tetap menjadi fondasi utama untuk menjaga kesehatan.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.