09 August 2026

Get In Touch

TNBTS Menutup Total Kawasan Wisata Bromo, Akibat Kebakaran Hutan

Area tebing di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur dilanda kebakaran. Balai Besar TNBTS pun memutuskan menutup seluruh akses wisata ke lokasi tersebut, Sabtu (22/8/2026). (foto:ist/Ant/Balai Besar TNBTS)
Area tebing di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur dilanda kebakaran. Balai Besar TNBTS pun memutuskan menutup seluruh akses wisata ke lokasi tersebut, Sabtu (22/8/2026). (foto:ist/Ant/Balai Besar TNBTS)

JAKARTA (Lentera) - Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengumumkan penutupan secara total seluruh akses kunjungan wisata ke kawasan Gunung Bromo di Jawa Timur, menyusul kejadian kebakaran hutan yang semakin meluas di area Kaldera Bromo.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan bahwa langkah penutupan kawasan tersebut diambil, demi efektivitas upaya pemadaman api di lapangan serta menjamin keamanan dan keselamatan para pengunjung.

"Penutupan diberlakukan di seluruh pintu masuk kawasan TNBTS, yang meliputi pintu masuk Cemorolawag di Kabupaten Probolinggo, Wonokitri di Kabupaten Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang, serta Senduro di Kabupaten Lumajang di Jawa Timur," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta melansir, Sabtu (8/8/2026) malam melansir Antara, Minggu (9/8/2026).

Kebijakan penutupan seluruh pintu masuk wisata Gunung Bromo tersebut, resmi berlaku mulai Sabtu, 8 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Dijelaskannya, bagi masyarakat atau pengunjung yang telah melakukan pembelian tiket secara dalam jaringan (daring) selama periode penutupan, pihak pengelola memberikan opsi penyesuaian jadwal ulang (reschedule) maupun pengembalian dana (refund).

"Proses pengajuan jadwal ulang atau pengembalian dana tersebut, dapat dilakukan dengan cara melengkapi formulir khusus yang disediakan oleh pengelola melalui administrator aplikasi pemesanan daring TNBTS," jelasnya.

Pengelola Balai Besar TNBTS mengimbau, seluruh lapisan masyarakat, wisatawan, serta pelaku jasa wisata untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas wisata di dalam kawasan.

"Selain itu, masyarakat dan pengunjung juga diminta aktif menjaga kawasan TNBTS dari potensi bencana kebakaran lanjutan dengan lebih memperhatikan penggunaan api demi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bersama," imbuhnya.

Diketahui, kebakaran tersebut pertama kali terpantau, pada Senin (3/8/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.

Pada tahap awal, pemadaman dilakukan melalui jalur darat dengan menggunakan sejumlah peralatan, di antaranya mobil pemadam kebakaran, jet shooter, alat pemukul api atau gebyok, serta pembuatan sekat bakar untuk menghambat penyebaran api.

Seiring perkembangan kondisi di lapangan, upaya pemadaman kemudian diperkuat melalui operasi udara menggunakan helikopter water bombing. Operasi tersebut mendapat dukungan dari BNPB, TNI AL, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Penggunaan water bombing dilakukan untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses melalui jalur darat. Pada Jumat (7/8/2026), operasi udara tersebut telah melakukan 4 kali penyiraman pada area kebakaran. 

Dukungan operasi udara akan terus dilakukan sesuai perkembangan kondisi di lapangan dan dikombinasikan dengan pemadaman melalui jalur darat.

Perkembangan terakhir, kebakaran terus meluas hingga mencapai 176 hektare.  Berdasarkan pengamatan awal di lapangan, titik awal kemunculan api diduga berada di area punggungan perbukitan pada jalur Bantengan menuju Argosari.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.