SURABAYA ( LENTERA ) - Pernah berdiri di depan lemari yang penuh sesak, tetapi tetap merasa "tidak punya baju"? Pengalaman itu ternyata bukan sekadar perasaan. Di tengah derasnya tren fast fashion dan siklus mode yang berganti begitu cepat, penelitian terbaru justru menunjukkan kebutuhan pakaian setiap orang sebenarnya jauh lebih sedikit daripada yang dibayangkan.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Sustainability memperkirakan, seseorang idealnya hanya membutuhkan sekitar 85 item fesyen. Hal ini bisa tetap memenuhi kebutuhan berpakaian sekaligus menjaga konsumsi yang lebih ramah lingkungan.
Jumlah tersebut mencakup pakaian, jaket, mantel, hingga sepatu, tetapi belum termasuk pakaian dalam dan aksesori.
Dari koleksi itu, seseorang dapat menciptakan sekitar 23 set busana yang bisa dipadupadankan untuk berbagai aktivitas, mulai dari bekerja, berolahraga, bersantai di rumah, hingga menghadiri acara formal. Peneliti bahkan memperkirakan pembelian pakaian baru cukup dibatasi rata-rata lima potong per tahun agar konsumsi tetap berada pada tingkat yang lebih berkelanjutan.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan bukan terletak pada jumlah pakaian, melainkan bagaimana seseorang memanfaatkannya.
Dampak Fast Fashion
Perubahan perilaku belanja tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri fast fashion.
Istilah fast fashion mulai dikenal luas pada awal 1990-an ketika industri pakaian berhasil memangkas waktu produksi dari lebih dari enam bulan menjadi hanya sekitar dua pekan. Model bisnis ini memungkinkan desain yang terinspirasi dari panggung mode internasional diproduksi secara massal dengan harga terjangkau dan masuk ke toko dalam waktu sangat singkat.
Kini siklus tersebut bahkan berlangsung jauh lebih cepat. Platform fesyen daring seperti Shein, misalnya, diketahui dapat merilis sekitar 6.000 produk baru setiap hari, membuat konsumen terus disuguhi pilihan dan tren baru hampir tanpa jeda.
Harga yang murah dan model yang selalu mengikuti tren membuat fast fashion sulit ditolak, terutama di tengah gaya hidup digital yang dipengaruhi media sosial dan budaya "haul", di mana membeli pakaian baru menjadi bagian dari konten sehari-hari.
Dampak Lingkungan
Di balik kemudahan memperoleh pakaian murah, terdapat konsekuensi besar terhadap lingkungan.
Industri fesyen diperkirakan menyumbang sekitar 4 persen emisi gas rumah kaca global. Untuk menjaga target Persetujuan Paris agar kenaikan suhu bumi tidak melebihi 1,5 derajat Celsius, sektor fesyen diperkirakan perlu memangkas emisi hingga 1,1 miliar ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e).
Bukan hanya emisi karbon, industri ini juga menjadi salah satu pengguna air terbesar di dunia serta menghasilkan limbah tekstil dalam jumlah besar. Menurut UN Environment Programme, sebagian besar pakaian yang dibuang akhirnya berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar, sementara hanya sebagian kecil yang benar-benar didaur ulang menjadi produk baru.
Kondisi tersebut mendorong munculnya gerakan slow fashion, yaitu pendekatan yang menekankan kualitas, umur pakai pakaian yang lebih panjang, serta kebiasaan membeli secara lebih sadar.
Mengapa Lemari Tetap Terasa Kosong?
Fenomena "lemari penuh tetapi tidak ada yang bisa dipakai" ternyata juga berkaitan dengan psikologi konsumen.
Pakar perilaku konsumen menyebut manusia cenderung mengejar sensasi kebaruan (novelty seeking). Ketika tren terus berganti, pakaian yang masih layak dipakai sering kali dianggap "ketinggalan zaman", meski kondisinya masih sangat baik.
Media sosial juga memperkuat tekanan untuk tampil berbeda dalam setiap kesempatan. Akibatnya, banyak orang membeli pakaian bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan agar tidak mengulang penampilan di foto atau unggahan berikutnya.
Padahal, sejumlah penata gaya menilai lemari yang lebih sederhana justru memudahkan seseorang berpakaian karena setiap item dipilih secara sadar dan mudah dipadukan.
Rumus Capsule Wardrobe
Sebagai respons terhadap budaya konsumsi berlebihan, konsep capsule wardrobe kembali mendapat perhatian.
Prinsipnya sederhana: memiliki koleksi pakaian dalam jumlah terbatas, tetapi saling melengkapi sehingga dapat dikombinasikan menjadi banyak gaya.
Pendekatan ini dinilai tidak hanya menghemat pengeluaran, tetapi juga mengurangi limbah tekstil sekaligus membuat proses memilih pakaian setiap hari menjadi lebih praktis.
Alih-alih terus membeli mengikuti tren, banyak ahli fesyen menyarankan mulai mengevaluasi isi lemari dan memaksimalkan pakaian yang sudah dimiliki.(far,ist/dya)





.jpg)
