06 August 2026

Get In Touch

Selain Penjualan Tiket, KBS Miliki Potensi Besar dari Experiential Tourism

Program Coordinator Creative Tourism Universitas Kristen Petra (UK Petra), Devi Destiani Andilas, S.E., MM.Par
Program Coordinator Creative Tourism Universitas Kristen Petra (UK Petra), Devi Destiani Andilas, S.E., MM.Par

SURABAYA (Lentera) -Kebun Binatang Surabaya (KBS) dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi berbasis pengalaman atau experiential tourism. Pengembangan tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan, tetapi juga dapat membuka sumber pendapatan baru di luar penjualan tiket masuk.

Program Coordinator Creative Tourism Universitas Kristen Petra (UK Petra), Devi Destiani Andilas, S.E., MM.Par., mengatakan KBS memiliki modal kuat sebagai destinasi wisata ikonik di Surabaya dan Jawa Timur. 

Selain koleksi satwa, kawasan KBS juga telah menjadi ruang terbuka hijau yang kerap dimanfaatkan masyarakat untuk rekreasi keluarga.

Menurut Devi, potensi tersebut perlu dikemas lebih kreatif agar pengalaman pengunjung semakin beragam dan mendorong mereka untuk datang kembali. 

“Kebun binatang konvensional umumnya memang hanya mengandalkan tiket dan atraksi sederhana. Tetapi KBS tidak boleh mengandalkan hal ini saja. Jika dilihat dari experiential tourism, ada banyak potensi yang bisa dieksplorasi agar pengunjung tidak merasa monoton,” kata Devi, Rabu (5/8/2026).

Salah satu inovasi yang ditawarkan adalah menghadirkan program tur di balik layar (behind the scene tour). Melalui konsep ini, pengunjung tidak hanya melihat satwa dari area yang telah disediakan, tetapi juga mendapatkan kesempatan mengetahui proses pengelolaan satwa dan operasional kebun binatang.

Devi mencontohkan, konsep serupa dapat dikembangkan dalam bentuk pengalaman edukatif yang memperkenalkan profesi di balik pengelolaan satwa.

“Pengunjung bisa diajak tur behind the scene. Seperti di Jakarta Aquarium ada show mermaid, lalu pengunjung diberi kesempatan masuk ke balik tabung untuk melihat aktivitas staf memberikan makan dan perawatan. Nah, di KBS hal ini bisa menjadi edukasi profesi pengelola satwa yang memorable,” jelasnya.

Potensi lain yang menurut Devi dapat dikembangkan adalah program feeding animals atau aktivitas memberi makan satwa. Namun, konsep tersebut perlu ditingkatkan agar pengunjung tidak sekadar memberikan wortel atau sayuran kepada satwa.

Menurutnya, aktivitas tersebut dapat dikembangkan menjadi pengalaman edukatif dengan melibatkan pengunjung dalam proses persiapan pakan.

Khusus untuk pelajar dan mahasiswa, misalnya, pengelola dapat menghadirkan program yang mengenalkan proses penyusunan kebutuhan nutrisi satwa atau meal plan. Peserta juga dapat diperkenalkan pada variasi pakan hingga proses persiapan pakan untuk satwa tertentu dengan tetap memperhatikan standar keamanan dan kesejahteraan satwa.

“Kalau mau memberikan experience, pengunjung bisa diajak terlibat dalam prosesnya. Misalnya khusus pelajar dan mahasiswa, diajak melihat proses penyiapan nutrisi (meal plan), menyusun variasi makanan satwa, bahkan melihat dan menyimulasikan secara langsung proses penyiapan pakan live-feeding bersama petugas,” tambah Devi.

Konsep tersebut, lanjutnya, dapat membuat kunjungan ke KBS tidak hanya menjadi kegiatan rekreasi, tetapi juga sarana pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada peserta.

Devi juga melihat peluang pengembangan KBS melalui sistem keanggotaan atau membership, terutama untuk segmen pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama.

Berdasarkan pengamatannya, masyarakat Surabaya dan sekitarnya memiliki kecenderungan untuk berkunjung ke KBS berulang kali dalam setahun. Karena itu, kunjungan berulang tersebut dapat dikembangkan menjadi program edukasi yang lebih terstruktur.

Ia menyarankan agar pengelola KBS memetakan materi pembelajaran di sekolah dan mengintegrasikannya dengan aktivitas edukasi di kebun binatang. “Tim pemasaran KBS harus jeli membedah kurikulum sekolah. Apa yang dipelajari di kelas, itu yang diintegrasikan dengan aktivitas di KBS,” paparnya.

Sebagai contoh, materi tentang metamorfosis atau pergantian kulit ular dapat dikemas menjadi tema kunjungan tersendiri. Pada kunjungan berikutnya, materi dapat dikembangkan menjadi pembelajaran tentang rantai makanan maupun ekosistem.

Dengan demikian, sekolah dapat membeli paket kunjungan beberapa kali dalam setahun dengan tema berbeda. Sistem paket dinilai dapat membuat biaya kunjungan lebih terjangkau sekaligus mendorong kunjungan berulang.

“Misalnya materi kelas 2 SD semester satu tentang metamorfosis atau ganti kulit ular, lalu semester dua tentang rantai makanan. KBS bisa menyediakan paket lima kali kunjungan dalam setahun dengan topik berbeda yang disesuaikan dengan pelajaran sekolah,” ungkapnya.

Devi menambahkan, peningkatan pendapatan KBS juga tidak selalu harus dilakukan melalui penambahan lahan atau pembangunan wahana baru. Area yang sudah tersedia dapat dioptimalkan melalui kegiatan tematik dan penyewaan ruang.

Konsep seasonal event, misalnya, dapat menghadirkan pengalaman yang berbeda pada waktu tertentu sehingga masyarakat memiliki alasan untuk kembali berkunjung.

Devi menyebut sejumlah tema yang dapat dikembangkan, antara lain, tur kerangka fosil, program edukasi mengenai pengelolaan dan pemakaman satwa, hingga kegiatan edukasi lain yang dibuka secara berkala.

“Misalnya untuk acara tematik bisa membuat tur kerangka fosil hingga edukasi pemakaman satwa yang dibuka secara berseri di bulan-bulan tertentu agar pengunjung tidak bosan,” sebutnya.

Selain kegiatan wisata, area terbuka yang dimiliki KBS juga dinilai dapat dioptimalkan sebagai ruang penyelenggaraan kegiatan perusahaan maupun komunitas. Skema penyewaan venue tersebut berpotensi menjadi salah satu sumber pendapatan non-tiket.

Devi menilai kombinasi antara inovasi produk wisata, program edukasi, membership, kegiatan tematik, dan optimalisasi ruang dapat memperkuat posisi KBS sebagai destinasi yang tidak hanya mengandalkan jumlah pengunjung.

“Lewat inovasi kemasan produk (product packaging) dan wisata berbasis pengalaman (experiential tourism), KBS diharapkan tak hanya bangkit dari masalah tata kelola, tetapi juga bertransformasi menjadi destinasi edukasi modern yang mandiri secara finansial,” pungkasnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.