06 August 2026

Get In Touch

Ukur Kecerdasan Primata di Alam Liar, Monyet Kini Ikut Pakai AI

Ukur Kecerdasan Primata di Alam Liar, Monyet Kini Ikut Pakai AI

SURABAYA ( LENTERA ) - Kecerdasan buatan (AI) kembali menunjukkan manfaat di luar dunia industri dan kehidupan manusia. Kali ini, teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membantu ilmuwan mempelajari kecerdasan monyet liar tanpa harus memindahkannya ke laboratorium.
Tim peneliti dari Emory University dan Georgia Institute of Technology mengembangkan sistem bernama CapuchinAI, perangkat berbasis AI yang mampu mengenali identitas monyet capuchin sekaligus memberikan serangkaian tes kognitif secara otomatis di habitat aslinya. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam The American Journal of Primatology.

Inovasi tersebut dinilai menjadi terobosan baru dalam penelitian perilaku satwa liar. Selama ini, pengujian kemampuan kognitif hewan lebih banyak dilakukan di laboratorium karena lingkungan yang lebih mudah dikendalikan. Namun, kondisi tersebut kerap memunculkan pertanyaan apakah perilaku hewan di laboratorium benar-benar mencerminkan perilaku alaminya.

Mengenali Monyet Secara Otomatis
CapuchinAI terdiri atas komputer berukuran kecil yang terhubung dengan kamera, layar sentuh, serta dispenser makanan.
Saat seekor monyet capuchin mendekati perangkat, sistem AI akan mengenali identitas individu berdasarkan foto dan rekaman video yang telah dipelajari sebelumnya. Setelah itu, layar sentuh akan menampilkan tugas sederhana untuk menguji kemampuan berpikir monyet.
Jika berhasil menyelesaikan tantangan, perangkat secara otomatis mengeluarkan hadiah berupa makanan sebagai bentuk penguatan positif (positive reinforcement).Pendekatan ini memungkinkan ilmuwan mengumpulkan data perilaku dalam kondisi yang jauh lebih alami dibandingkan pengamatan di laboratorium.

Akurasi Capai 97 Persen
Dalam uji lapangan di Taboga Forest Reserve, Kosta Rika, sistem tersebut menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Berdasarkan laporan yang dikutip The New York Times, CapuchinAI mampu mengenali individu monyet capuchin dengan tingkat akurasi mencapai 97 persen setelah dilatih menggunakan kumpulan foto dan video.
Peneliti juga mengamati bahwa monyet liar relatif cepat memahami hubungan antara menyentuh layar dengan memperoleh hadiah makanan. Hal ini menunjukkan primata mampu beradaptasi dengan antarmuka digital sederhana tanpa memerlukan pelatihan intensif.
Peneliti utama, Federico Sanchez Vargas, mengatakan teknologi tersebut membuka peluang baru dalam memahami kemampuan berpikir setiap individu satwa liar berdasarkan data yang dikumpulkan secara berkelanjutan.
"Metode AI kami memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap setiap hewan yang telah diamati di lapangan. Kini kami dapat melakukan pengujian kognitif secara langsung kepada mereka," ujar Vargas.

Membuka Babak Baru Penelitian Satwa Liar
Penggunaan AI dalam penelitian satwa sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi pengenalan gambar telah dimanfaatkan untuk mengidentifikasi paus, gajah, harimau, hingga burung melalui pola tubuh atau wajah mereka.
Namun CapuchinAI membawa pendekatan berbeda karena tidak hanya mengenali individu, tetapi juga berinteraksi langsung dengan satwa melalui serangkaian tugas yang dirancang untuk mengukur kemampuan kognitif.
Teknologi ini diharapkan membantu ilmuwan mempelajari bagaimana kecerdasan berkembang di alam, bagaimana primata memecahkan masalah, hingga bagaimana faktor lingkungan memengaruhi kemampuan belajar mereka.
Selain mempercepat pengumpulan data, sistem otomatis juga mengurangi interaksi langsung antara manusia dan satwa liar sehingga risiko perubahan perilaku akibat kehadiran peneliti dapat diminimalkan.

AI Kian Luas Dimanfaatkan untuk Konservasi
Perkembangan AI kini semakin banyak dimanfaatkan dalam bidang konservasi dan biologi.
Selain mengenali spesies, AI telah digunakan untuk menghitung populasi satwa melalui citra satelit, mendeteksi aktivitas perburuan ilegal dari rekaman suara hutan, hingga memantau kesehatan ekosistem secara real time.
Bagi para peneliti primata, CapuchinAI menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mampu membantu manusia bekerja lebih efisien, tetapi juga membuka cara baru untuk memahami perilaku hewan di habitat aslinya tanpa mengganggu kehidupan mereka.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.