01 August 2026

Get In Touch

Sebanyak 76 UMKM Kota Malang Sudah Ekspor, Pemkot Bidik Tambah 10 Pelaku Usaha Baru

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang, Eko Sri Yuliadi. (Santi/Lentera)
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang, Eko Sri Yuliadi. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Sebanyak 76 produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kota Malang telah berhasil menembus pasar ekspor ke berbagai negara. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang pun membidik tambahan 5 hingga 10 pelaku UMKM baru dapat menyusul melakukan ekspor sepanjang tahun 2026 ini.

"Total sampai sekarang sudah ada 76 UMKM yang ekspor. Terakhir kemarin produk UMKM Sambal Mamani baru saja melakukan ekspor ke Malaysia," ujar Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, Jumat (31/7/2026).

Menurutnya, produk yang berhasil menembus pasar luar negeri berasal dari berbagai sektor. Mulai dari produk kriya, makanan olahan hingga konveksi. Sementara itu, negara tujuan ekspor juga terus bertambah dan menjangkau berbagai kawasan.

"Kalau tujuan ekspor, ada ke Timur Tengah untuk produk keripik, kemudian ke New Zealand juga produk keripik. Sebenarnya masih banyak negara tujuan lainnya," jelasnya.

Melihat tren tersebut, Eko mengaku pihaknya optimistis jumlah UMKM yang mampu melakukan ekspor akan terus meningkat. Saat ini, sejumlah pelaku usaha masih menjalani proses kurasi sebelum dinyatakan siap memasuki pasar internasional.

"Tahun ini kami proyeksikan ada sekitar 5 sampai 10 UMKM lagi yang bisa ekspor. Sekarang masih dalam tahap kurasi. Mayoritas berasal dari sektor kerajinan dan makanan olahan," katanya.

Eko menjelaskan, proses ekspor tidak bisa dilakukan secara instan. Pelaku usaha harus memenuhi berbagai persyaratan, mulai dari legalitas usaha, sertifikasi halal, hingga kelengkapan dokumen pendukung lainnya. Selain itu, kualitas produk dan kemasan juga menjadi faktor penting agar mampu bersaing di pasar global.

"Produknya harus bagus, packaging-nya harus memenuhi standar, kemudian perizinannya juga harus lengkap. Semua itu menjadi syarat agar produk bisa diterima di pasar ekspor," ungkapnya.

Dia menilai potensi ekspor UMKM Kota Malang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Bahkan, dibandingkan tahun sebelumnya, kondisi pada 2026 dinilai lebih baik seiring mulai pulihnya aktivitas ekonomi. "Kalau dibandingkan tahun lalu, sekarang lebih baik. Pertumbuhan ekonomi mulai terlihat naik dan salah satu pendorongnya adalah UMKM," katanya.

Selain membuka akses pasar internasional, aktivitas ekspor UMKM juga memberikan dampak terhadap perekonomian daerah. Dalam satu tahun, Eko menyebut nilai perputaran ekonomi dari aktivitas tersebut diperkirakan mampu mencapai sekitar Rp5 miliar. 

Di sisi lain, kebutuhan tenaga kerja juga ikut meningkat seiring berkembangnya kapasitas produksi para pelaku usaha.

Untuk mempercepat lahirnya UMKM berorientasi ekspor, Pemkot Malang terus memberikan berbagai bentuk pendampingan. Di antaranya melalui fasilitasi perizinan, menjembatani komunikasi dengan calon pembeli (buyer), hingga memperkuat koordinasi dengan instansi terkait seperti Bea Cukai.

"Kami memberikan kemudahan perizinan, membantu komunikasi dengan buyer dan pihak-pihak terkait, termasuk Bea Cukai. Harapannya semakin banyak UMKM Kota Malang yang siap bersaing di pasar internasional," pungkasnya. (*)

 

Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.