SURABAYA ( LENTERA ) - Gelombang konten digital yang bergerak cepat di media sosial kini melahirkan fenomena baru yang mengkhawatirkan di kalangan generasi Alfa. Anak-anak di bawah usia 13 tahun, bahkan dalam beberapa kasus mencakup balita, kini secara aktif mengadopsi rutinitas perawatan kulit atau skincare yang dirancang untuk orang dewasa.
Menggunakan produk berbahan aktif keras mulai dari serum anti-penuaan hingga eksfoliator kimia, mereka terjebak dalam obsesi kecantikan prematur yang kini dikenal di dunia medis sebagai cosmeticorexia atau dermorexia.
Fenomena ini bukan sekadar tren kosmetik biasa, melainkan hasil dari ekosistem digital yang haus akan keviralan.
Laporan investigatif berskala global yang dirilis oleh The Guardian memetakan skala masalah ini secara gamblang. Dari analisis terhadap 7.600 video TikTok yang berkaitan dengan perawatan kulit, ditemukan bahwa 400 di antaranya menampilkan anak-anak di bawah usia 13 tahun sebagai kreator konten utama. Lebih mencengangkan lagi, sekitar 90 konten di antaranya memperlihatkan balita dan bayi yang wajahnya diaplikasikan berbagai produk kosmetik oleh orang tua mereka demi kebutuhan visual media sosial.
Komparasi Konten dan Realitas di Lantai Ritel
Konten-konten ini dikemas dengan formula yang identik dengan video influencer dewasa: anak-anak berdiri di depan cermin, mengetuk-ngetukan botol produk ke kamera, dan mengoleskan cairan konsentrat ke kulit mereka.
Dampaknya langsung terasa pada lanskap ritel global. Jaringan toko kosmetik premium seperti Sephora di berbagai belahan dunia kini dilaporkan mulai dipadati oleh pelanggan anak-anak.
"Kami menyaksikan anak-anak ini menjelajahi lorong toko, mencari produk dengan kandungan retinol atau asam glikolat untuk mengatasi kerutan atau menyamarkan pori-pori—permasalahan kulit yang secara biologis belum ada pada wajah mereka. Banyak dari mereka datang tanpa didampingi orang tua, atau didampingi namun orang tuanya abai terhadap jenis bahan kimia yang dibeli oleh sang anak," dilansir The Guardian.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh sebuah studi komprehensif yang dipublikasikan oleh Dr. Molly Hayes beserta timnya dalam jurnal ilmiah Pediatrics. Melalui observasi ketat terhadap 100 video populer mengenai skincare anak di platform TikTok, tim peneliti menemukan bahwa mayoritas konten mengeksploitasi pemakaian produk anti-aging dan perawatan jerawat parah. Kulit anak yang secara alami masih memproduksi kolagen dan memiliki pergantian sel optimal, justru dipaksa menerima bahan aktif kuat yang memicu kerusakan dini pada lapisan pelindung kulit (skin barrier).
Ancaman Medis dan Kandungan Toksik
Secara dermatologis, kulit anak-anak memiliki tingkat reaktivitas dan permeabilitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan kulit orang dewasa. Penggunaan senyawa seperti retinol (turunan vitamin A) dan asam hidroksi (AHA/BHA) sebagai eksfoliator dapat dengan mudah memicu reaksi inflamasi akut, dermatitis kontak, hingga eksim menetap. Efek visualnya pun langsung terlihat; beberapa video yang beredar menunjukkan kulit anak yang memerah, melepuh kecil, dan mengelupas kasar akibat iritasi kimia.
Studi yang dipublikasikan oleh Michael S. Bloom dkk dalam jurnal Environmental Health Perspectives menemukan adanya korelasi signifikan antara penggunaan kosmetik harian pada anak dengan tingginya konsentrasi kadar ftalat (phthalates) dalam sampel urin mereka. Ftalat merupakan senyawa kimia yang kerap digunakan sebagai pelarut atau bahan pengawet dalam formula kosmetik serta material kemasan plastik.
Paparan ftalat dalam jangka panjang pada organisme yang sedang berkembang merupakan ancaman serius. Senyawa ini dikategorikan sebagai endocrine disruptor atau zat pengganggu sistem endokrin. Ketika senyawa kimia ini meresap ke dalam aliran darah melalui kulit anak yang tipis, stabilitas kelenjar tubuh dalam memproduksi hormon menjadi terganggu. Implikasi klinisnya mencakup risiko percepatan pubertas, gangguan sistem reproduksi di masa depan, disfungsi metabolik, hingga gangguan pada perkembangan sistem saraf pusat.
Munculnya istilah cosmeticorexia mencerminkan pergeseran struktural dalam strategi pemasaran industri kecantikan global. Selama beberapa dekade, narasi antipenuaan difokuskan secara eksklusif kepada kelompok
konsumen berusia 30 hingga 40 tahun ke atas. Narasi yang dibangun selalu sama yaitu:
penuaan adalah sebuah kondisi yang harus dilawan, dan produk kosmetik adalah jalan keluar tunggal.
"Industri skincare telah lama membidik perempuan berusia 30-an dan 40-an dengan membangun anggapan bahwa penuaan adalah sesuatu yang harus dilawan, kemudian menjual berbagai produk sebagai solusi. Namun, terjadi pergeseran. Sekarang, anak perempuan kecil berada di bawah tekanan yang sama, " kata Brooke Erin Duffy, Peneliti Media Sosial Cornell University dilansir BBC.
Industri kosmetik menangkap peluang dari kerentanan psikologis anak-anak pra-remaja (tweens) yang sedang berada dalam fase transisi pencarian identitas diri. Dengan memanfaatkan algoritma media sosial dan kemasan produk yang estetik dengan warna-warna pastel yang menarik, industri berhasil menanamkan rasa ketidakamanan (insecurity) pada anak perempuan di usia yang sangat muda.
Kecemasan Penampilan
Di luar bahaya fisik yang nyata pada kulit dan organ dalam, beban psikologis yang ditanggung oleh anak-anak dalam pusaran cosmeticorexia tidak kalah mengkhawatirkan. Keharusan untuk tampil sempurna sesuai dengan standar artifisial yang diproduksi oleh filter dan pencahayaan digital memicu dismorfia tubuh minor. Anak-anak mulai memandang tekstur kulit alami mereka sebagai sebuah cacat estetika yang harus segera diperbaiki.
Kondisi ini memicu tingkat stres yang tidak semestinya dialami oleh kelompok usia sekolah. Kecemasan berlebih akan penampilan luar ini dilaporkan mulai memengaruhi fungsi sosial mereka, termasuk menurunnya kepercayaan diri untuk berinteraksi di sekolah tanpa lapisan produk kosmetik tertentu. Anak-anak terjebak dalam siklus perbandingan sosial konstan yang destruktif bagi kesehatan mental mereka.
Rekomendasi Proporsional
Para pakar kesehatan kulit menegaskan bahwa perawatan kulit pada anak-anak dan remaja tidak sepenuhnya dilarang, melainkan harus dipangkas kembali ke prinsip dasar yang esensial. Kebutuhan kulit anak-anak pada dasarnya sangat sederhana dan tidak membutuhkan tahapan yang kompleks.
Perlindungan utama yang disepakati oleh seluruh sebuah asosiasi medis hanyalah penggunaan tabir surya (sunscreen) untuk memitigasi radiasi sinar ultraviolet, serta pembersih wajah yang lembut jika anak melakukan aktivitas luar ruangan yang intens.
Selebihnya, intervensi penggunaan produk perawatan kulit harus didasarkan atas indikasi klinis yang jelas dari dokter spesialis, bukan atas dasar algoritma video populer media sosial. (far,ist/dya)




.jpg)
