MPLS Ramah Anak di Surabaya Dikemas Seru, Siswa Diajak Berburu Harta Karun hingga Senam Ceria
SURABAYA (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 berlangsung ramah anak dan bebas dari praktik perpeloncoan. Sejumlah sekolah mengemas kegiatan pengenalan lingkungan dengan konsep yang menyenangkan melalui permainan edukatif, senam bersama, hingga simulasi berburu harta karun.
Salah satu sekolah percontohan penerapan MPLS Ramah Anak adalah SMPN 19 Surabaya. Pada hari pertama pelaksanaan MPLS, Senin (13/7/2026), suasana sekolah tampak ceria dan jauh dari kesan menegangkan. Berbagai kegiatan dirancang untuk membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
Kepala SMPN 19 Surabaya, Sri Widowati, mengatakan seluruh rangkaian MPLS tahun ini disusun agar siswa merasa nyaman sekaligus mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan. Materi yang diberikan juga menitikberatkan pada pembentukan karakter melalui program “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”.
“Anak-anak diajarkan mandiri, bertanggung jawab, memperkuat keimanan, hingga menumbuhkan rasa cinta tanah air yang disesuaikan dengan profil lulusan,” ujar Sri.
Ia menuturkan, sekolah tidak memberikan ruang bagi praktik senioritas negatif. Meski melibatkan pengurus OSIS sebagai panitia, peran kakak kelas hanya sebatas mendampingi dan membantu siswa baru selama kegiatan berlangsung. “Seluruh tanggung jawab pelaksanaan MPLS tetap berada di tangan guru,” tuturnya.
Tak hanya itu, SMPN 19 Surabaya juga melibatkan orang tua sejak sebelum MPLS dimulai. Pihak sekolah telah menggelar sosialisasi parenting untuk memberikan pemahaman terkait aturan dan petunjuk teknis MPLS dari Kementerian Pendidikan.
“Bahkan, sesuai edaran Wali Kota, pada hari pertama ini siswa baru diantar langsung oleh ayah mereka,” kata Sri.
Tahun ini, SMPN 19 menerima siswa baru yang dibagi ke dalam 13 gugus selama MPLS berlangsung. Setelah masa pengenalan selama lima hari selesai, sekolah akan melaksanakan tes pemetaan sebagai dasar pembagian 11 rombongan belajar (rombel) definitif.
Konsep MPLS ramah anak juga diterapkan di jenjang sekolah dasar, salah satunya di SDN Klampis Ngasem I Surabaya. Sekolah tersebut berupaya membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan SD tanpa rasa takut maupun tertekan.
Kepala SDN Klampis Ngasem I Surabaya, Slamet Pujiono, mengatakan bahwa pihak sekolah berfokus menciptakan rasa aman dan nyaman bagi siswa, baik secara fisik maupun psikologis, sekaligus memastikan lingkungan sekolah bebas dari perundungan.
“Anak-anak TK sering menganggap SD itu terlalu serius dan bukunya besar-besar. Ketakutan itu yang kami netralisir. Kami tunjukkan bahwa SD juga memiliki banyak kegiatan menyenangkan yang tidak jauh berbeda dengan TK,” jelas Slamet.
Untuk memperkenalkan fasilitas sekolah kepada 112 siswa baru, SDN Klampis Ngasem I menghadirkan permainan bertajuk “Tur Berburu Harta Karun”. Para siswa dibagi ke dalam empat kelompok besar dan diajak menjelajahi berbagai sudut sekolah melalui rute yang berbeda.
“Kami buatkan rute yang berbeda-beda, tetapi tujuannya sama, yakni mencari harta karun. Dengan cara ini, anak-anak dapat mengenal sarana sekolah tanpa merasa lelah,” paparnya.
Selain itu, sekolah juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan melalui kegiatan “Operasi Semut”, yakni aktivitas memungut sampah kecil di sekitar sekolah dan membuangnya ke tempat sampah secara menyenangkan.
Slamet menambahkan, keberhasilan pendidikan anak membutuhkan kerja sama yang erat antara sekolah dan orang tua. Karena itu, komunikasi dan koordinasi harus terus dijaga agar pembelajaran di sekolah dapat didukung dengan baik di rumah.
“Mendidik anak tidak bisa dilakukan secara searah. Orang tua harus memahami program sekolah agar di rumah dapat memberikan dukungan dan motivasi yang selaras. Dengan begitu, potensi anak-anak bisa berkembang secara maksimal,” pungkasnya. (*)
Reporter: Amanah
Editor : Lutfiyu Handi





.jpg)
