Refleksi dari Cirebon, Rektor Untag Surabaya Tekankan Teladani Sunan Gunung Jati di Era AI
SURABAYA (Lentera) - Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, dan kompetisi global, Rektor Untag Surabaya, Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T. menuturkan kemajuan perguruan tinggi tidak cukup hanya ditopang oleh teknologi.
Menurutnya, pendidikan tinggi harus tetap berpijak pada nilai karakter, amanah, dan kepedulian sosial sebagaimana diwariskan Sunan Gunung Jati.
Pesan tersebut disampaikan usai kunjungan Rektor Untag Surabaya bersama Wakil Rektor I, Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, S.Psi., M.Si., Psikolog, serta Wakil Rektor II, Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA, ke kawasan Sunan Gunung Jati di Cirebon, Kamis (9/7/2026).
Bagi Harjo Seputro, perjalanan tersebut bukan sekadar agenda kunjungan, melainkan momentum refleksi untuk memaknai kembali arah pembangunan kampus di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
“Menatap tahun 2026 tidak cukup hanya dengan menyiapkan strategi menghadapi kecerdasan buatan, transformasi digital, dan persaingan global. Ada nilai-nilai yang harus terus dijaga agar kemajuan tidak kehilangan arah,” ujar Harjo dalam keterangan resminya, Sabtu (11/7/2026).
Ia menjelaskan, Sunan Gunung Jati membangun peradaban melalui pendidikan, dakwah, dan kepemimpinan. Namun, warisan terbesarnya bukan terletak pada bangunan atau kekuasaan, melainkan pada keyakinan bahwa kemajuan peradaban selalu bertumpu pada manusia dan niat baik dalam setiap pengabdian.
Menurutnya, transformasi digital merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi seluruh institusi pendidikan. Kendati demikian, kemajuan tidak boleh dimaknai sebatas percepatan teknologi.
“Pendidikan memiliki tanggung jawab untuk melahirkan manusia yang unggul secara intelektual, tetapi juga berintegritas, berempati, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat,” ucapnya.
Ia menekankan, kepemimpinan perguruan tinggi tidak hanya bertugas membawa kampus mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga menjaga agar modernisasi tetap selaras dengan semangat patriotisme, kebangsaan, dan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pesan tersebut, lanjut Harjo, tercermin dalam petuah Sunan Gunung Jati, Ingsun titip tajug lan fakir miskin. Dalam konteks pendidikan tinggi, “tajug” dimaknai sebagai rumah ilmu yang harus dijaga melalui penguatan kualitas akademik, penelitian, dan pembentukan karakter mahasiswa.
Di sisi lain, perkembangan AI dan teknologi dinilai mampu mempercepat pekerjaan dan melahirkan berbagai inovasi. Namun, teknologi hanyalah alat yang memerlukan landasan etika, moral, dan spiritualitas.
“Perguruan tinggi tidak cukup mencetak lulusan yang cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga manusia yang mampu menggunakan ilmunya untuk menghadirkan kemaslahatan,” kata Harjo.
Sementara itu, makna “fakir miskin” menjadi pengingat bahwa pendidikan harus tetap berpihak kepada masyarakat. Prinsip tersebut, menurut Harjo, tercermin dalam pengelolaan administrasi, keuangan, dan sarana prasarana kampus yang harus dijalankan secara jujur, transparan, dan bertanggung jawab.
Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur, digitalisasi layanan, optimalisasi aset, hingga perluasan akses beasiswa bukan sekadar target institusi, melainkan bentuk amanah yang harus dikembalikan kepada masyarakat melalui peningkatan kualitas pendidikan.
Harjo juga menyoroti, keteladanan Sunan Gunung Jati dalam membangun keterbukaan terhadap dunia tanpa kehilangan identitas. Pada masanya, Cirebon berkembang sebagai pelabuhan yang mempertemukan berbagai bangsa, mulai dari Arab, Tiongkok, Eropa, hingga Nusantara.
Nilai tersebut, menurutnya, relevan dengan langkah Untag Surabaya dalam memperkuat kolaborasi internasional dan mendorong inovasi berbasis teknologi.
“Kampus harus menjadi pelabuhan ilmu, tempat berbagai gagasan dari seluruh dunia berlabuh tanpa tercerabut dari nilai-nilai Indonesia,” ungkapnya.
Karena itu, mahasiswa Untag Surabaya diharapkan mampu bersaing di tingkat global, tetapi tetap memiliki semangat patriotisme, integritas, dan kepedulian sosial yang kuat.
Harjo menegaskan, perjalanan menuju Untag Surabaya 2026 bukan hanya tentang kesiapan menghadapi disrupsi teknologi atau memperluas jejaring internasional. Lebih dari itu, seluruh kebijakan dan proses pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memuliakan manusia.
“Ukuran kemajuan perguruan tinggi bukan hanya bangunan yang megah, teknologi yang canggih, atau luasnya kerja sama, melainkan amanah yang dijaga, keteladanan yang dihadirkan, serta ilmu yang diabdikan bagi kemaslahatan,” pungkasnya.
Reporter: Amanah/Editor: Ais





.jpg)
