SURABAYA ( LENTERA ) - Secangkir kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas banyak keluarga Indonesia. Ada yang menikmatinya saat sarapan, menemani bekerja dari rumah, hingga menjadi teman bersantai di sore hari. Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan tren menambahkan sejumput garam ke dalam kopi. Meski terdengar tidak biasa, ternyata kebiasaan ini memiliki penjelasan ilmiah yang menarik.
Bagi sebagian orang, rasa pahit merupakan ciri khas yang membuat kopi disukai. Namun tidak sedikit pula yang merasa rasa pahit kopi terlalu kuat, terutama pada kopi dengan tingkat sangrai gelap atau kopi yang diseduh kurang tepat. Di sinilah garam disebut-sebut dapat membantu memperbaiki cita rasa.
Praktik menambahkan garam ke kopi sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai negara, kebiasaan ini sudah dilakukan sejak lama. Di Turki, misalnya, kopi asin menjadi bagian dari tradisi menjelang pernikahan. Sementara di Taiwan, minuman sea salt coffee yang memadukan kopi dengan busa susu asin telah menjadi favorit banyak penikmat kopi.
Secara ilmiah, garam tidak menghilangkan zat penyebab rasa pahit pada kopi. Namun, kandungan natrium dalam garam dapat memengaruhi cara lidah dan otak memproses rasa. Ketika reseptor rasa asin dan pahit aktif secara bersamaan, sensasi pahit akan berkurang sehingga rasa kopi terasa lebih lembut dan seimbang.
Menariknya, rasa pahit pada kopi tidak hanya berasal dari kafein. Saat biji kopi melalui proses sangrai, terbentuk berbagai senyawa yang memberikan karakter pahit. Semakin gelap tingkat sangrai kopi, semakin banyak senyawa pahit yang muncul. Karena itu, kopi dark roast umumnya memiliki rasa pahit yang lebih dominan dibandingkan kopi dengan sangrai yang lebih ringan.
Meski demikian, penggunaan garam harus dilakukan dengan bijak. Menambahkan terlalu banyak garam justru dapat merusak cita rasa kopi dan membuat minuman terasa tidak nyaman di lidah. Jika ingin mencoba, cukup tambahkan sejumput kecil garam ke dalam kopi yang sudah diseduh, lalu sesuaikan dengan selera.
Para ahli juga mengingatkan bahwa tidak semua jenis kopi cocok dipadukan dengan garam. Pada kopi specialty yang memiliki karakter rasa kompleks, seperti aroma buah, bunga, atau keasaman yang khas, garam dapat menutupi keunikan rasa tersebut. Sebaliknya, garam lebih bermanfaat untuk kopi yang terasa terlalu pahit atau memiliki kualitas kurang baik.
Bagi keluarga yang gemar bereksperimen dengan minuman di rumah, tren kopi campur garam bisa menjadi pengalaman baru yang menarik untuk dicoba. Namun, perlu diingat bahwa kualitas biji kopi dan teknik penyeduhan tetap menjadi faktor utama dalam menghasilkan secangkir kopi yang nikmat.
Sea Salt, Kaya Mineral
Garam tak selalu berakibat buruk bagi tubuh sehingga harus disingkirkan dari pola makan sehari-hari. Fungsi pentingnya adalah menyeimbangkan air dalam tubuh agar tak mengalami dehidrasi.
Menurut ahli kesehatan di Miami, Dr. Esteban Genoa, hal yang perlu dilakukan adalah menggunakan garam yang tepat untuk dikonsumsi. Sehingga kandungan mineral garam dapat memaksimalkan kerja ginjal dalam mendistribusikan cairan tubuh melalui sistem yang seharusnya.
Menurut penelitian yang dimuat di The New England Journal of Medicine tahun 2014 tentang konsumsi Natrium di lebih dari 100.000 orang di 17 negara, menemukan kesimpulan bahwa konsumsi garam yang ideal untuk manusia adalah 3.000-6.000 mg per hari.
Jumlah konsumsi garam yang kurang dari 3.000 mg per hari memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi daripada kelebihan garam.
Seluruh manfaat itu dapat dijumpai di sea salt atau garam laut. Sesuai namanya, sea salt diproduksi melalui penguapan air laut.
Garam memiliki komponen basa dan asam, umumnya dalam bentuk Natrium Klorida (NaCl). Namun karena tidak melalui proses kimia, maka sea salt masih mengandung banyak mineral yang didapatkan dari air laut.
Menurut Western Analysis, Inc. (testing laboratory di Utah, Amerika Serikat), sea salt mengandung 75 mineral dan nutrisi yang dibutuhkan manusia sehingga dapat mengoptimalkan metabolisme tubuh.
Selain NaCl, sea salt juga mengandung magnesium yang bermanfaat untuk mengatur ratusan proses biokimia dalam sistem metabolisme dan kardiovaskular. Kalsium yang dikandung sea salt sangat bermanfaat untuk tulang dan gigi.
Kandungan mineral utama lainnya dalam sea salt adalah potasium yang berguna mendukung sistem syaraf, serta zat besi dan yodium yang membantu menstabilkan kondisi tubuh.
Selain itu, sea salt juga mengandung sulfur yang mendukung sistem imun tubuh dan detoksifikasi.
Kandungan mineral dalam sea salt merepresentasikan elemen penting dalam kehidupan yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. Kombinasi kandungannya menjaga keseimbangan elektrolit dalam tubuh yang penting untuk mempertahankan komposisi dan sirkulasi darah, kekuatan otot, serta keseluruhan fungsi tubuh.
Kualitas mineral yang terkandung dalam sea salt sangat tergantung dari kondisi air laut asalnya serta proses evaporasi yang terjadi. Kealamian ini yang membuat sea salt memiliki rasa, tekstur, dan warna yang berbeda-beda.
Berbeda dengan garam meja, sea salt memiliki tekstur yang agak besar dan kasar, serta warna agak kecoklatan atau bahkan merah muda.
Mengkonsumsi sea salt paling mudah adalah dengan mencampurkannya ke dalam makanan atau minuman. Larutan sea salt dalam minuman mengubah kandungan mineralnya menjadi ion-ion yang lebih mudah diserap tubuh.
Penjualan sea salt di Indonesia belum tersebar merata. Selain di supermarket besar dan toko yang menjual bahan organik, sea salt dijual di sejumlah toko online.(wid,ist/dya)





.jpg)
