SURABAYA ( LENTERA ) - Rumah mode asal Italia, Prada, kembali memperluas langkahnya ke luar batas industri fashion konvensional. Terbaru, Prada meluncurkan inner-layer garment khusus untuk astronaut yang akan digunakan dalam misi ke Bulan milik NASA, sebagai bagian dari pengembangan pakaian luar angkasa berteknologi tinggi.
Produk ini diperkenalkan dalam sebuah acara di butik Prada di Manhattan, New York City, Amerika Serikat. Pakaian tersebut merupakan bagian dari sistem Liquid Cooling and Ventilation Garment (LCVG), yaitu lapisan pakaian dalam yang dirancang untuk menjaga suhu tubuh astronaut tetap stabil dalam kondisi ekstrem luar angkasa. Desainnya dibuat menempel di tubuh (body-hugging) dengan sistem tabung ventilasi yang dirajut langsung ke dalam material, menggabungkan estetika khas Prada dengan fungsi teknis yang kompleks.
Proyek ini lahir dari kolaborasi antara Prada dan perusahaan infrastruktur luar angkasa Axiom Space yang berbasis di Houston. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari pengembangan perlengkapan misi luar angkasa generasi baru.
Dalam pernyataannya, Chief Marketing Officer Prada, Lorenzo Bertelli, menekankan pentingnya pertukaran pengetahuan lintas industri. Ia mengatakan, "Banyak kemampuan dan pengetahuan yang sebenarnya bisa datang dari industri yang tampaknya tidak berkaitan," ujarnya seperti dikutip Reuters.
Sementara itu, CEO Axiom Space, Jonathan Cirtain, menilai kerja sama ini sebagai bukti bahwa inovasi teknologi tidak terbatas pada satu sektor saja, melainkan dapat lahir dari kolaborasi lintas bidang, termasuk fashion.
Langkah Prada di sektor antariksa ini bukan yang pertama. Pada 2024, Prada juga telah memperkenalkan rancangan spacesuit untuk misi Artemis NASA. Pakaian tersebut direncanakan akan digunakan dalam misi pendaratan Bulan melalui program Artemis 4 yang dijadwalkan berlangsung pada 2028.
Menurut pengamat strategi luxury brand sekaligus profesor pemasaran di NYU Stern School of Business, Thomai Serdari, langkah Prada menunjukkan posisi yang lebih maju dibandingkan brand mewah lain. Ia menjelaskan bahwa industri fashion sebelumnya hanya menjadikan luar angkasa sebagai inspirasi visual, namun kini mulai masuk ke kolaborasi nyata dalam ekosistem eksplorasi ruang angkasa.
Serdari menilai ada dua motivasi utama di balik strategi tersebut: menjangkau konsumen kelas atas yang tertarik pada wisata luar angkasa, serta memperkuat citra Prada sebagai pelopor pemikiran avant-garde dalam industri luxury.
Kepala global luxury goods di Bernstein, Luca Solca, juga menyoroti strategi ini sebagai bagian dari upaya menjaga relevansi brand di tengah perlambatan industri barang mewah global. Ia menegaskan, "Brand mewah harus tetap terlihat dan relevan," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa eksplorasi luar angkasa menjadi magnet perhatian publik yang sangat besar bagi brand.
Solca menambahkan, "Di level tertinggi industri luxury, mereka tidak saling meniru, melainkan mencari cara unik masing-masing," sebagai gambaran bagaimana brand besar seperti Prada, Louis Vuitton, Hermès, dan Chanel bergerak dengan strategi berbeda dalam mengejar inovasi dan perhatian pasar.
Industri barang mewah sendiri sempat menunjukkan tanda pemulihan setelah dua tahun mengalami tekanan. Namun, ketegangan geopolitik global, termasuk konflik Iran yang pecah pada awal tahun, kembali menekan daya beli dan mobilitas konsumen kelas atas.
Selain Prada, sejumlah brand lain juga telah lebih dulu menjajaki dunia antariksa. Under Armour diketahui bekerja sama dengan Virgin Galactic dalam pengembangan pakaian untuk penerbangan luar angkasa. Sementara itu, Columbia Sportswear berkolaborasi dengan Intuitive Machines untuk pengembangan teknologi kain dalam misi antariksa.
Meski demikian, belum ada kepastian apakah rumah mode mewah lain akan mengikuti langkah serupa. Nama-nama besar seperti Louis Vuitton, Hermès, dan Chanel disebut memiliki ketertarikan pada eksplorasi luar angkasa, namun diperkirakan akan mengambil pendekatan yang berbeda agar tetap mempertahankan identitas masing-masing.(ist/dya)




.jpg)
