SURABAYA (Lentera) -Komisi D DPRD Kota Surabaya menggelar rapat dengar pendapat (hearing) terkait permasalahan yang terjadi di Elyon Christian School Surabaya yang melibatkan seorang siswa berinisial R, pada Kamis (11/6/2026).
Dalam hearing tersebut terungkap insiden bermula ketika siswa R tersulut emosi setelah makanannya tersenggol oleh seorang teman hingga jatuh ke lantai. Dalam kondisi tersebut, R kemudian mencekik temannya dan memaksa korban memakan makanan yang telah terjatuh.
Menanggapi kejadian tersebut, pihak sekolah mengaku telah mengambil sejumlah langkah penanganan, termasuk memanggil orang tua siswa dan memberikan Surat Peringatan (SP) kedua kepada R. Pihak sekolah juga merekomendasikan penyediaan guru pendamping khusus untuk membantu proses pembelajaran dan pengawasan siswa di lingkungan sekolah.
Orang tua siswa R, Bodhiya Wijaya Mulya, menjelaskan putranya telah menjalani pemeriksaan psikologis dan diduga mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Berdasarkan hasil konsultasi, psikolog merekomendasikan agar R melanjutkan pendidikan di sekolah yang lebih sesuai dengan kebutuhan perkembangannya.
Namun, pihak keluarga mengaku menghadapi keterbatasan finansial untuk memenuhi rekomendasi tersebut maupun menyediakan guru pendamping khusus.
"Kami masih bingung dengan kondisi anak saat ini. Sejak Play Group hingga beberapa tahun sekolah di Elyon, anak kami tidak pernah memiliki masalah yang berarti. Perubahan perilaku ini juga menjadi tanda tanya bagi kami sebagai orang tua," ujar Bodhiya.
Menanggapi hal tersebut, Dinas Pendidikan Kota Surabaya siap memfasilitasi proses perpindahan sekolah apabila memang menjadi pilihan terbaik bagi siswa R.
"Kami siap membantu apabila diperlukan proses perpindahan ke sekolah lain, baik negeri maupun swasta. Jika memilih sekolah negeri, tentu tidak ada biaya pendidikan yang dibebankan. Namun yang perlu dipastikan terlebih dahulu adalah apakah siswa yang bersangkutan memang ingin pindah sekolah," ujar perwakilan Dinas Pendidikan.
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Johari Mustawan atau Bang Jo, memberikan perhatian khusus terhadap kondisi siswa maupun keluarganya. Ia mengapresiasi orang tua yang tetap berupaya mencari solusi terbaik bagi anaknya di tengah berbagai keterbatasan.
"Saya mengapresiasi orang tua yang masih terus berjuang dan peduli terhadap kondisi anaknya. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi anak membutuhkan orang tua yang hadir dalam proses tumbuh kembangnya," kata Bang Jo.
Menurut legislator Fraksi PKS tersebut, fokus seluruh pihak tidak boleh berhenti pada persoalan administrasi sekolah ataupun perpindahan siswa semata. Yang lebih penting adalah memastikan kondisi psikologis dan perkembangan anak dapat ditangani secara tepat.
"Orang tua harus fokus pada kondisi anak dan mencarikan lingkungan belajar yang sesuai dengan kebutuhan anak. Yang paling penting adalah keselamatan dan masa depan anak tersebut," ujarnya.
Bang Jo juga mengingatkan Dinas Pendidikan agar tidak sekadar memfasilitasi perpindahan sekolah, tetapi turut memastikan adanya pendampingan yang berkelanjutan.
Kepada pihak sekolah, ia mengajak agar pendekatan pembinaan lebih dikedepankan dibandingkan pemberian stigma terhadap anak yang sedang menghadapi persoalan perilaku.
"Tidak ada anak yang lahir sebagai anak nakal. Anak-anak sedang belajar memahami batasan-batasan dalam kehidupannya. Karena itu pendekatan yang dibutuhkan adalah pembimbingan, bukan penghakiman," katanya.
Bang Jo menilai kasus tersebut menjadi momentum evaluasi bagi seluruh satuan pendidikan di Surabaya untuk memperkuat standar operasional prosedur (SOP) terkait perlindungan anak, pencegahan bullying, diskriminasi, serta penanganan kesehatan mental peserta didik.
Ia juga mendorong sekolah menerapkan mekanisme pembinaan dan pemberian sanksi yang lebih ramah anak serta berorientasi pada perubahan perilaku. "Ini harus menjadi pembelajaran bagi sekolah-sekolah lain. SOP terkait bullying, diskriminasi, perlindungan anak, dan kesehatan mental harus diperkuat. Peringatan atau sanksi yang diberikan juga harus lebih ramah anak dan mendukung proses pemulihan," ujarnya.
Bang Jo menegaskan bahwa keselamatan dan masa depan anak harus menjadi prioritas utama dalam penyelesaian kasus tersebut.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH




.jpg)
