12 June 2026

Get In Touch

Komdigi: Mayoritas Pekerja Berbasis Pengetahuan di Indonesia Gunakan AI

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Nezar Patria. (foto: Kemkomdigi)
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Nezar Patria. (foto: Kemkomdigi)

JAKARTA (Lentera) - Kementerian Komunikasi dan Dogital (Komdigi) mengungkap mayoritas pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia, kini telah menggunakan generative artificial intelligence (AI) dalam aktivitas kerja sehari-hari.

"Berdasarkan Work Trend Index 2024 yang diterbitkan Microsoft dan LinkedIn, sebanyak 92 persen pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia telah menggunakan generative AI dalam pekerjaannya sehari-hari," ujar Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria saat membuka Garuda AI Impact Summit 2026 di Jakarta, melansir Antara, Kamis (11/6/2026).

Menurutnya, tingginya tingkat adopsi tersebut menjadi indikator Indonesia tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi global, tetapi telah menjadi bagian aktif dalam transformasi kecerdasan artifisial.

"Angka ini berada di atas rata-rata global dan menunjukkan Indonesia bukan lagi sekadar penonton dalam perkembangan teknologi AI di tingkat dunia," katanya.

Nezar menjelaskan, semakin masifnya penggunaan AI juga dipengaruhi oleh biaya akses teknologi yang terus menurun. Dalam kurun waktu 2022 hingga 2024, biaya penggunaan AI disebut telah turun lebih dari 280 kali lipat, sehingga semakin mudah dimanfaatkan oleh berbagai kalangan.

"AI yang dulu mahal kini bisa diakses siapa pun," tegasnya.

Mengutip AI Index Report 2024, Nezar menyebut tingkat adopsi generative AI secara global telah mencapai 53 persen populasi hanya dalam waktu tiga tahun. Laju tersebut dinilai jauh lebih cepat dibandingkan proses adopsi komputer personal maupun internet pada masa awal kemunculannya.

Tidak hanya individu, pemanfaatan AI juga semakin meluas di lingkungan korporasi. Sebanyak 88 persen organisasi diketahui telah mengintegrasikan teknologi AI ke dalam berbagai aktivitas operasional untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Meski demikian, Nezar mengingatkan tingginya angka adopsi AI harus diimbangi dengan pemerataan akses teknologi serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar manfaatnya dapat dirasakan secara inklusif.

Menurutnya, tantangan transformasi digital ke depan tidak lagi sebatas menyediakan konektivitas internet, tetapi memastikan masyarakat memiliki kemampuan memanfaatkan AI secara produktif dan bertanggung jawab.

"Kesenjangan masa depan bukan hanya terjadi antara mereka yang terhubung dan tidak terhubung, tetapi antara mereka yang mampu menggunakan AI secara produktif dan mereka yang tertinggal dari transformasi tersebut," tegasnya.

Editor: Santi

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.