MALANG (Lentera) - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi memulai pembangunan (ground breaking) Pabrik Infus PT Suryavena di kawasan Karangploso, Kabupaten Malang. Proyek tersebut menjadi upaya Muhammadiyah dalam membangun ekosistem bisnis kesehatan sekaligus menaikkan ekonomi umat menuju industri skala menengah ke atas.
"Spirit untuk membangun pabrik infus Suryavena ini memang didasari oleh kehendak untuk memperkuat ekonomi umat atau ekonomi rakyat," ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, selama ini Muhammadiyah telah banyak berkontribusi dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, organisasi keagamaan tersebut kini menilai sudah saatnya memperluas peran melalui pengembangan industri yang lebih besar agar mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
"Semangat Muhammadiyah adalah membangun ekosistem ekonomi rakyat yang mulai naik kelas ke ekonomi menengah ke atas," katanya.
Ia menjelaskan, terdapat 3 landasan utama yang menjadi pijakan pembangunan industri tersebut. Pertama, meningkatkan pemberdayaan umat dan masyarakat agar tidak hanya bergantung pada bantuan sosial, tetapi juga mampu tumbuh sebagai pelaku ekonomi yang mandiri.
Kedua, Muhammadiyah memiliki modal sosial, ekonomi, dan keagamaan yang dinilai cukup kuat untuk mengembangkan bisnis di sektor menengah hingga besar. Ketiga, langkah tersebut merupakan bagian dari kontribusi Muhammadiyah dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas dan Indonesia Mandiri.
Menurut Haedar, kemandirian bangsa tidak akan terwujud apabila pengelolaan sumber daya dan sektor-sektor strategis masih bergantung kepada pihak lain ataupun pihak asing. Karena itu, Muhammadiyah memilih ikut mengambil peran melalui pembangunan industri yang berbasis pada kebutuhan masyarakat.
Ia juga menilai semangat tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional yang mengedepankan implementasi Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana digaungkan Presiden Prabowo Subianto.
"Muhammadiyah berada di jalur itu. Dengan cara seperti ini saya yakin akan bertemu dengan spirit pemerintahan sekarang sekaligus kepentingan bangsa yang lebih luas. Indonesia Mandiri akan menjadi pilar kekuatan kemajuan Indonesia ke depannya," tegasnya.
Lebih lanjut, Haedar mengungkapkan, pemilihan industri infus bukan tanpa alasan. Muhammadiyah saat ini memiliki sekitar 130 rumah sakit dan ratusan klinik yang membutuhkan pasokan infus secara berkelanjutan.
"Kalau tidak kami layani dengan kekuatan sendiri, biasanya akan menggunakan jasa pihak lain," katanya.
Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal, Muhadjir Effendy, menjelaskan PT Suryavena sebenarnya telah memproduksi infus selama 2 tahun terakhir melalui sistem maklon.
Dengan hadirnya pabrik produksi sendiri di Karangploso, Muhammadiyah berharap proses produksi menjadi lebih efisien, pengendalian kualitas semakin optimal, serta harga produk dapat ditekan sehingga memiliki daya saing lebih tinggi di pasar nasional.
Muhadjir optimistis peluang ekspansi pasar akan semakin besar seiring meningkatnya permintaan dari berbagai rumah sakit dan fasilitas kesehatan di luar jaringan Muhammadiyah.
Dari sisi dampak ekonomi, Muhadjir menyebut pembangunan pabrik tidak hanya membuka peluang kerja di sektor produksi, tetapi juga menciptakan rantai pasok yang melibatkan distributor hingga berbagai sektor pendukung lainnya.
"Ini lahannya merupakan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga menjadi salah satu pemegang saham. Sementara rumah sakit-rumah sakit besar Muhammadiyah juga turut sebagai pemegang saham," katanya.
Adapun pengelolaan perusahaan berada di bawah koordinasi Majelis Kesehatan dan Majelis Ekonomi Bisnis PP Muhammadiyah, sebagai bentuk sinergi dua majelis dalam membangun industri kesehatan yang berkelanjutan.
Muhadjir menargetkan, pembangunan dapat berjalan sesuai rencana sehingga pada pertengahan tahun 2027 pabrik infus PT Suryavena sudah memasuki tahap produksi dan mulai memasok kebutuhan pasar kesehatan di Indonesia.
Reporter: Santi Wahyu





.jpg)
