SURABAYA ( LENTERA ) - Para peneliti dari Universitas McGill, Kanada, menemukan mekanisme molekuler baru yang berperan sebagai “saklar” pembakar lemak dalam tubuh. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 22 April 2026 itu dinilai berpotensi membuka jalan bagi pengembangan terapi baru untuk berbagai penyakit, mulai dari gangguan tulang hingga obesitas dan diabetes.
Penelitian tersebut berfokus pada lemak cokelat (brown fat atau jaringan adiposa cokelat), jenis lemak yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan lemak putih. Jika lemak putih berfungsi menyimpan energi dan berkaitan dengan kenaikan berat badan serta obesitas, lemak cokelat justru berfungsi membakar kalori untuk menghasilkan panas dan menjaga suhu tubuh.
Selama ini ilmuwan mengetahui bahwa lemak cokelat menghasilkan panas melalui mekanisme yang melibatkan protein UCP1. Namun, penelitian terbaru menunjukkan adanya jalur kedua yang dikenal sebagai futile creatine cycle atau siklus kreatin sia-sia. Dalam proses ini, enzim tissue-nonspecific alkaline phosphatase (TNAP) memiliki peran penting.
Tim peneliti menemukan indikasi bahwa TNAP berfungsi sebagai pengatur utama yang mengaktifkan jalur alternatif pembakaran energi tersebut.
“Ini adalah pertama kalinya kami mengidentifikasi bagaimana jalur alternatif penghasil panas diaktifkan secara independen dari sistem klasik. Hal ini membuka jalan untuk memahami bagaimana berbagai sistem pembakaran energi bekerja bersama dalam menjaga tubuh tetap hangat pada suhu yang tepat,” kata ahli biokimia Universitas McGill, Lawrence Kazak.
Temuan itu diperoleh setelah para peneliti menganalisis lemak cokelat tikus yang dipaparkan pada suhu dingin dan memeriksa berbagai senyawa kimia yang menumpuk di dalam jaringan tersebut. Senyawa-senyawa itu kemudian diuji terhadap TNAP yang diketahui berperan dalam futile creatine cycle.
Hasilnya menunjukkan bahwa gliserol, komponen dasar berbagai molekul lemak, mampu mengaktifkan TNAP. Analisis tiga dimensi terhadap struktur enzim tersebut mengungkap bahwa gliserol menempel pada rongga khusus yang disebut peneliti sebagai glycerol pocket atau kantong gliserol.
Untuk memastikan temuan tersebut, tim juga meneliti hipofosfatasia, penyakit tulang langka yang ditandai rendahnya kadar TNAP sehingga tulang gagal mengalami mineralisasi secara optimal dan menjadi rapuh.
Para peneliti menganalisis data genetik sekitar 500.000 orang dalam basis data UK Biobank. Mereka menemukan bahwa mutasi pada glycerol pocket berkaitan dengan rendahnya kepadatan tulang serta menurunnya aktivitas TNAP. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa TNAP merupakan pengatur molekuler yang penting dalam metabolisme tubuh.
“Temuan ini membuka jalan bagi jenis pengobatan baru, di mana peningkatan aktivitas enzim TNAP melalui glycerol pocket menggunakan senyawa bioaktif alami maupun sintetis berpotensi meningkatkan manfaat enzim tersebut pada pasien dan membantu memulihkan mineralisasi tulang yang kurang memadai ke tingkat yang sehat,” ujar ahli biologi sel Universitas McGill, Marc McKee.
Meski demikian, para peneliti menegaskan masih terlalu dini untuk menyimpulkan manfaat klinisnya secara pasti. Namun, keberhasilan mengidentifikasi cara aktivasi jalur penghasil panas pada lemak cokelat dianggap sebagai langkah penting untuk mengendalikan pengeluaran energi tubuh.
Saat ini, pasien hipofosfatasia umumnya menjalani terapi penggantian enzim yang memerlukan tiga kali suntikan setiap pekan. Peneliti berharap temuan baru ini dapat mengarah pada pengembangan obat yang lebih praktis dan mudah diberikan.
Selain berpotensi bermanfaat bagi kesehatan tulang, penemuan tersebut juga dinilai relevan untuk penelitian obesitas dan diabetes karena kedua kondisi tersebut berkaitan erat dengan mekanisme penggunaan dan pengeluaran energi tubuh.
Studi sebelumnya telah menghubungkan futile creatine cycle dengan obesitas pada tikus. Namun, para ilmuwan mengingatkan bahwa tikus memiliki proporsi lemak cokelat yang lebih besar dibandingkan manusia, sehingga penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui peran TNAP pada manusia.
“Dalam penelitian kami, temuan ini tidak hanya memperluas kerangka konsep jalur pengeluaran energi, tetapi juga membuka peluang untuk pengembangan aktivator TNAP berbasis struktur, yang menawarkan alternatif terapi yang lebih terarah dibandingkan terapi penggantian enzim untuk penyakit tulang. Dampak yang lebih luas mungkin melampaui jaringan lemak dan tulang,” tulis para peneliti dalam makalah yang dipublikasikan.(ist/dya)




.jpg)
