Komisi B DPRD Jatim Minta Pemprov Perhatikan Dampak Melemahnya Rupiah pada Petani dan Nelayan
SURABAYA (Lentera) – Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Ro’aitu Nafif Laha mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan perhatian lebih kepada petani dan nelayan yang terdampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Menurut Ro'aitu, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor berbagai bahan baku strategis yang masih dibutuhkan sektor pertanian dan perikanan. Kondisi itu dikhawatirkan akan menambah beban pelaku usaha di tingkat bawah, termasuk petani dan nelayan.
“Kenaikan biaya impor komponen tersebut bakal mencekik para pelaku usaha di tingkat bawah. Tentunya petani dan nelayan juga merasakan. Oleh sebab itu saya minta pemprov Jatim untuk memperhatikan mereka,” ungkap Ro’aitu, Sabtu (6/6/2026).
Politisi Gerindra tersebut menjelaskan, sektor pertanian dan perikanan nasional hingga kini masih bergantung pada sejumlah komoditas impor seperti kedelai, gandum, garam industri, hingga bahan baku pakan ternak. Kenaikan harga akibat melemahnya rupiah dinilai, akan berdampak langsung terhadap biaya produksi di lapangan.
Karena itu, Ro’aitu meminta, pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah perlu mempercepat upaya swasembada pangan guna mengurangi ketergantungan terhadap pasar luar negeri.
“Langkah konkret harus segera diambil melalui penguatan industri pakan lokal, pengembangan benih unggul nasional, serta penyaluran subsidi yang tepat sasaran bagi petani dan nelayan,” tuturnya.
Selain itu, ia meminta, Pemprov Jatim terus menggencarkan program Pasar Murah Jatim untuk membantu menekan inflasi sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Ro’aitu juga menekankan, pentingnya memastikan hasil panen petani dan tangkapan nelayan dapat terserap dengan harga yang wajar di tengah gejolak ekonomi yang terjadi saat ini.
Permintaan tersebut disampaikan di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, data Bloomberg pada perdagangan 6 Juni 2026 menunjukkan rupiah berada di kisaran Rp18.036 per dolar AS pada pembukaan perdagangan dan terus mengalami tekanan.
Reporter: Pradhita/Editor: Ais





.jpg)
