SURABAYA ( LENTERA ) - Aktris Korea Selatan Goo Hye Sun kembali menjadi sorotan setelah perubahan fisiknya yang mencolok. Ia mengungkap bahwa berat badannya kini turun hingga 46 kg setelah berhasil memangkas sekitar 13 kg. Transformasi ini ia bagikan melalui media sosial, sekaligus memperlihatkan kebiasaan diet yang ia jalani, termasuk pola makan rendah sodium yang kini juga sedang populer.
Dalam unggahannya, ia menekankan perubahan gaya hidup yang cukup disiplin. Salah satu kunci yang ia jalankan adalah membatasi asupan garam harian, atau dikenal sebagai diet rendah sodium. Pola ini bukan hanya sekadar tren penurunan berat badan, tetapi juga dikaitkan dengan manfaat kesehatan jangka panjang.
Apa itu diet rendah sodium
Diet rendah sodium adalah pola makan yang membatasi konsumsi garam (natrium) harian untuk menjaga kesehatan tubuh dan tekanan darah. Mengacu pada penjelasan yang dikutip dari Healthline (2/6), tubuh memang tetap membutuhkan natrium untuk keseimbangan cairan dan fungsi sel, tetapi asupan berlebihan dapat menimbulkan masalah kesehatan.
Rekomendasi umum asupan natrium adalah tidak lebih dari 2.300 mg per hari, atau setara sekitar satu sendok teh garam. Jika dikurangi, tubuh bisa mengalami penurunan retensi cairan sehingga perut terasa lebih ringan dan tidak mudah kembung.
Tips diet ala Goo Hye Sun
Selain mengurangi garam, Goo Hye Sun juga menerapkan beberapa kebiasaan pendukung. Ia menjaga pola tidur agar tetap cukup dan teratur. Tidur yang berkualitas disebut membantu mengendalikan nafsu makan sekaligus mendukung metabolisme tubuh.
Ia juga menghindari alkohol selama program diet berlangsung. Langkah ini membantu menekan asupan kalori sekaligus mendukung proses pembakaran lemak.
Kunci lainnya adalah penerapan diet rendah sodium, yaitu dengan mengurangi makanan tinggi garam dan lebih banyak mengonsumsi makanan segar.
Manfaat diet rendah sodium
Diet rendah sodium tidak hanya berpengaruh pada berat badan, tetapi juga membantu menjaga tekanan darah tetap stabil. Pola makan ini dinilai baik untuk kesehatan jantung dan ginjal karena mengurangi beban kerja organ dalam mengatur cairan tubuh.
Beberapa studi juga menunjukkan bahwa konsumsi garam berlebihan dapat berdampak pada kesehatan lambung. Karena itu, pengurangan sodium dianggap bisa menurunkan risiko gangguan tersebut.
Cara menjalankan diet rendah sodium
Diet ini dapat dimulai dari memilih bahan makanan segar seperti sayur, buah, dan daging tanpa proses pengawetan. Makanan segar umumnya memiliki kandungan sodium lebih rendah dibanding makanan olahan.
Saat membeli produk kemasan, penting untuk membaca label gizi dan memilih yang rendah sodium. Penggunaan saus, bumbu instan, serta makanan olahan juga perlu dibatasi karena biasanya tinggi garam.
Selain itu, mengurangi penggunaan garam saat memasak serta menghindari makanan seperti makanan kalengan, sosis, ikan asin, dan keju dapat membantu menjaga asupan natrium tetap rendah.
Diet rendah sodium bukan sekadar metode penurunan berat badan, tetapi lebih pada upaya menjaga keseimbangan tubuh. Dengan mengatur asupan garam, tubuh bisa lebih ringan, tekanan darah lebih stabil, dan risiko beberapa gangguan kesehatan dapat ditekan. Namun, seperti pola diet lainnya, konsistensi dan keseimbangan nutrisi tetap menjadi kunci utama.(ist/dya)
-+
Plus-minus penerapan diet rendah sodium:
Kelebihan Diet Rendah Sodium
* Menurunkan tekanan darah: Membantu meredakan ketegangan pada pembuluh darah, efektif bagi penderita hipertensi.
* Mengurangi retensi cairan: Mencegah penumpukan air di dalam jaringan tubuh yang sering memicu pembengkakan (edema) pada kaki atau perut.
* Menjaga kesehatan jantung: Memperkecil risiko komplikasi mematikan seperti serangan jantung dan stroke.
* Meringankan kerja ginjal: Membantu ginjal menyaring cairan dengan lebih ringan tanpa beban volume darah yang berlebih.
* Mencegah kanker lambung: Membatasi konsumsi makanan asin mengurangi risiko infeksi bakteri H. pylori yang memicu kanker perut.
Kekurangan Diet Rendah Sodium
* Makanan terasa hambar: Mengurangi garam secara drastis membuat makanan kehilangan penguat rasa alaminya, sehingga sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
* Risiko hiponatremia: Jika asupan natrium terlalu ekstrem rendahnya, kadar natrium darah jebol dan memicu pusing, mual, lemas, hingga kejang.
* Kram otot: Natrium mengontrol kontraksi otot; kekurangan mineral ini dapat menyebabkan otot mudah kram, terutama saat berolahraga.
* Potensi resistensi insulin: Beberapa penelitian menunjukkan pembatasan sodium yang terlalu ketat justru dapat mengganggu sensitivitas sel tubuh terhadap insulin.
* Meningkatkan lemak darah: Pada kondisi tertentu, pengurangan garam yang terlalu ekstrem dapat memicu kenaikan kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida. (*)





.jpg)
