05 June 2026

Get In Touch

Pimpinan BGN Berganti: Dulu Ahli Serangga, Kini Sarjana Biologi

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang (kedua kiri) didampingi Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari (kedua kanan), Wakil Kepala BGN Mayjen TNI Trenggono (kanan) dan Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Khairul Hidayati (kiri) menyampaikan keterangan pers di Ka
Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang (kedua kiri) didampingi Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari (kedua kanan), Wakil Kepala BGN Mayjen TNI Trenggono (kanan) dan Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Khairul Hidayati (kiri) menyampaikan keterangan pers di Ka

JAKARTA (Lentera) -Badan Gizi Nasional (BGN) kini berganti pimpinan dari yang dulu dipimpin oleh Dadan Hindayana sebagai ahli serangga, kini dipegang Nanik S Deyang yang merupakan Sarjana Biologi.

Sebelum ditunjuk menjadi Kepala BGN, Dadan dikenal dalam dunia akademisi sebagai ahli serangga. Ia menjadi lulusan terbaik jurusan Hama dan Penyakit Tanaman.

Dadan menyelesaikan studi doktoroalnya di Universitas Gottfried Wilhellm Leibniz Hannover, Jerman dan mendapat gelar Dr. rer. Hort yang berarti gelar doktoral untuk bidang tumbuhan dan tanaman.

Kini, BGN berganti kepemimpinan. Presiden RI Prabowo Subianto merombak posisi Kepala BGN dan dua Wakil Kepala BGN yang sebelumnya diisi oleh Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.

Sarjana Biologi

Sebagai pengganti Dadan, Presiden menunjuk Nanik S Deyang, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN. 

Dalam konferensi pers pertamanya setelah ditunjuk sebagai Kepala BGN, Nanik menegaskan latar belakangnya adalah Sarjana Biologi, bukan Kehutanan.

"Saya Nanik S. Deyang, Sarjana Biologi ya, saya ulang bukan Sarjana Kehutanan, Sarjana Biologi," tutur Nanik di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Untuk menjalankan lembaganya, Nanik akan didampingi dua Wakil Kepala BGN, yakni Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono.

Menurut Nanik, Agustina memiliki pengalaman sekitar 34 tahun di bidang pengawasan dan audit, serta pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

"Tugas dari Pak Presiden, beliau akan mengawasi super ketat tata kelola dan keuangan negara yang di BGN," tegas dia.

Nanik juga memperkenalkan Mayjen TNI Trenggono sebagai Wakil Kepala BGN. Ia menegaskan Trenggono tengah menjalani proses pengunduran diri dari dinas militer aktif.

"Sebelum ditanyakan soal TNI aktif, proses pengunduran diri beliau sudah berjalan dan saat ini masih dalam proses penyelesaian," kata Nanik.

Koreksi Kalau Salah

Nanik meminta publik agar mengoreksinya apabila dia mengalami kesalahan saat memimpin lembaga pelaksana program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu.

"Mohon doanya, mohon dukungannya, dan mohon dikoreksi kalau kami salah," kata Nanik dalam jumpa pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Nanik mengatakan, BGN memerlukan banyak masukan dari publik untuk menjalankan program Makan Gizi Gratis (MBG) tersebut. Dalam kesempatan yang sama, dia juga mengaku bakal menggelar jumpa pers satu pekan sekali selama kepemimpinannya sebagai bentuk keterbukaan.

"Insyaallah kita bisa bertatap muka setiap minggu atau maksimal dua minggu sajalah, soalnya saya juga masih sidak ya," ucap Nanik, melansir Kompas.

Kejar Kualitas

Berkaca dari adanya kasus dugaan korupsi terkait tata kelola program MBG yang dibongkar Kejaksaan Agung, Nanik mengaku telah meminta izin kepada Prabowo untuk tidak mengejar kuantitas MBG.

"Nah, jadi gini dampaknya ya, kemarin kami bertiga dipanggil Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau, 'Tahun 2026 ini mohon Bapak kami tidak mengejar kuantitas, kami akan perbaiki kualitas'," ujar Nanik.

Nanik menyatakan, di bawah kepemimpinannya yang baru ini, BGN tidak hanya ingin memenuhi target 82 juta penerima MBG, melainkan memastikan dapur-dapur MBG memberikan makanan bergizi.

Salah satu caranya, BGN akan melakukan refocusing agar MBG disalurkan ke sekolah-sekolah yang benar-benar membutuhkan.

"Misalnya nanti akan kita juga kalau ada sekolah-sekolah yang mahal gitu kan kita tanya apakah masih perlu MBG? Nah, ini yang kita alihkan ke 3T," ucap Nanik.

Menurut Nanik, dengan adanya refocusing tersebut, jumlah pemerima manfaat bisa bertambah. Dengan begitu, program MBG tetap berjalan meski adanya efisiensi anggaran.

"Kami concern hal pertama yang kami lakukan adalah untuk melakukan efisiensi anggaran, sehingga meskipun sekarang sudah dipotong Rp 2 (triliun), tinggal Rp 268 (triliun), kami berharap masih bisa menurunkan lagi, namun tidak mengurangi sasaran," ujar Nanik (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.