YOGYAKARTA (Lentera) - Kawasan Malioboro di Kota Yogyakarta ditargetkan bebas dari kendaraan bermotor mulai akhir November 2026, sebagai bagian dari penerapan Low Emission Zone (LEZ) atau zona emisi rendah.
Jika kebijakan tersebut berjalan sesuai rencana, akses kendaraan bermotor di kawasan wisata ikonik tersebut akan dibatasi secara ketat. Hanya beberapa moda transportasi tertentu, yang tetap diizinkan melintas.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Chrestina Erni Widyastuti mengatakan pembatasan tersebut menyasar kendaraan pribadi maupun becak motor (bentor), yang selama ini masih beroperasi di kawasan Malioboro.
Erni mengatakan, setelah status LEZ diterapkan secara penuh, hanya kendaraan dengan emisi rendah dan layanan tertentu yang dapat melintas di kawasan Malioboro.
"Jadi kan di sana low emission zone, yang boleh melintas hanya kendaraan darurat, becak kayuh, becak listrik, lalu juga Trans Jogja. Untuk Trans Jogja, juga kita upayakan nanti ada tambahan bus listriknya, supaya layanan semakin baik," ujar Erni mengutip Kompas.com, Kamis (4/6/2026).
Dengan skema tersebut, kendaraan pribadi berbahan bakar minyak maupun bentor tidak lagi menjadi bagian dari moda transportasi yang diperbolehkan beroperasi di kawasan tersebut.
Pemda DIY berharap, kebijakan ini dapat mengurangi polusi udara, sekaligus mendukung pengembangan kawasan Malioboro sebagai ruang publik yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu target jangka pendek yang dipasang pemerintah, adalah menghapus keberadaan bentor dari kawasan Malioboro pada akhir November 2026. Menurut Erni, kendaraan yang masih diperbolehkan melintas nantinya hanya moda transportasi non-bahan bakar minyak.
"Target yang terdekat, adalah di akhir November nanti enggak ada bentor di Malioboro. Jadi yang boleh melintas kan hanya yang non-BBM, seperti becak kayuh sama becak listrik. Itu target terdekat ya," ungkapnya.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah terus mendorong penggantian bentor menjadi becak listrik yang dinilai lebih ramah lingkungan.
Upaya mengurangi kendaraan bermotor di Malioboro telah dimulai, melalui pemusnahan puluhan bentor menggunakan alat berat, pada Rabu (3/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Ke-79 Pemkot Yogyakarta, sekaligus penanda dimulainya transisi menuju kawasan minim polusi.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengatakan bentor secara bertahap akan digantikan oleh becak listrik.
"Ya, lambat tapi pasti, bahwa becak konvensional harus habis. Kemudian secara bertahap becak listrik hadir. Hari ini 50 unit (bentor) kita hancurkan," tutur Hasto.
Sebagai pengganti armada yang dimusnahkan, para pengemudi bentor mendapatkan becak listrik untuk menunjang aktivitas mereka.
Pemkot Yogyakarta menargetkan, pengadaan 900 unit becak listrik untuk menggantikan seluruh bentor yang masih beroperasi. Saat ini, sekitar 260 unit becak listrik telah beroperasi di Kota Yogyakarta, terutama di kawasan Malioboro.
Jumlah tersebut berasal dari pengadaan pemerintah, maupun bantuan berbagai pihak. Hasto berharap, seluruh proses transisi dapat rampung paling lambat pada 2028.
"Harapan saya dalam waktu dua tahun paling telat, 900 itu sudah tergantikan. Biar nanti tahun 2028 sudah semua, tidak ada lagi becak motor di Malioboro," tandasnya.
Hasto menambahkan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan kawasan Malioboro dan sumbu filosofi yang lebih ramah lingkungan, dengan tingkat polusi yang semakin rendah.
Editor: Arief Sukaputra





.jpg)
