05 June 2026

Get In Touch

TNBTS Ingatkan Bahaya Pendakian Ilegal, Pasca Insiden di Lereng Semeru

Ilustrasi: Pendaki di Gunung Semeru. (foto: ist)
Ilustrasi: Pendaki di Gunung Semeru. (foto: ist)

MALANG (Lentera) - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) mengeluarkan peringatan keras, terkait bahaya pendakian ilegal pasca seorang pendaki dilaporkan terjatuh di lereng Gunung Semeru.

"Selain melanggar ketentuan yang berlaku, aktivitas tersebut berisiko tinggi terhadap keselamatan jiwa dan dapat menyulitkan proses penanganan apabila terjadi keadaan darurat," ujar Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, Kamis (4/6/2026).

Peringatan tersebut disampaikan, setelah seorang pendaki yang melakukan pendakian ilegal di kawasan Gunung Semeru dilaporkan mengalami kecelakaan dan harus dievakuasi oleh tim gabungan yang terdiri dari petugas BB TNBTS, Basarnas, relawan, serta masyarakat setempat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun BB TNBTS, insiden bermula ketika 3 orang pendaki asal Semarang, Pasuruan, dan Malang melakukan pendakian menuju kawasan Gunung Semeru pada Sabtu (30/5/2026). Mereka diketahui memasuki kawasan melalui jalur Candi Jawar Purbakala yang bukan merupakan jalur resmi pendakian wisata yang dikelola oleh BB TNBTS.

Rudi menegaskan, jalur tersebut merupakan akses tidak resmi yang selama ini juga diketahui masyarakat sekitar bukan sebagai pintu masuk maupun jalur yang digunakan untuk aktivitas pendakian Gunung Semeru.

"Karena menggunakan jalur tersebut, aktivitas ketiga pendaki tidak tercatat dalam sistem pelayanan pendakian resmi yang dikelola BB TNBTS," katanya. 

Lebih lanjut, BB TNBTS mengingatkan, hingga saat ini pendakian menuju puncak Gunung Semeru masih ditutup. Kebijakan tersebut diberlakukan dengan mempertimbangkan aktivitas vulkanologi Gunung Semeru serta aspek keselamatan pengunjung yang menjadi prioritas utama.

Diketahui, insiden mulai terungkap, pada Senin (1/6/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu salah satu pendaki menghubungi orangtuanya dan menyampaikan dirinya terjatuh di lereng gunung serta membutuhkan bantuan. Sebelum komunikasi terputus, korban sempat mengirimkan titik koordinat lokasi terakhirnya.

Mendapat informasi tersebut, keluarga korban segera berkoordinasi dengan Koramil Tirtoyudo dan Koramil Ampelgading untuk melakukan pencarian. Pada malam harinya sekitar pukul 22.00 WIB, ayah korban bersama 6 warga Kaliputih, Kecamatan Ampelgading, bergerak menuju lokasi yang diperkirakan menjadi titik keberadaan korban.

Korban akhirnya ditemukan, pada Selasa (2/6/2026) sekitar pukul 10.00 WIB, sore harinya sejumlah warga dari Tamansatriyan, Tamansari, dan Tlogosari turut diberangkatkan untuk membantu proses evakuasi.

Memasuki Rabu (3/6/2026) pukul 06.00 WIB, tim gabungan kembali bergerak menuju lokasi korban untuk melanjutkan proses evakuasi. Pada waktu yang sama, korban mulai dibawa turun dari titik ditemukannya menuju posko evakuasi sementara yang berada di rumah warga.

 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.