05 June 2026

Get In Touch

73 Kali Api Menyala Sendiri di Sebuah Rumah di Sleman, Ada Apa?

Suasana rumah warga yang mengalami fenomena api menyala sendiri di Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (1/6/2026) -Kompas
Suasana rumah warga yang mengalami fenomena api menyala sendiri di Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (1/6/2026) -Kompas

SLEMAN (Lentera) -Sebuah rumah di Sleman, DI Yogyakarta, mencuri perhatian publik. Selama sepekan terakhir, sejumlah barang di rumah itu tiba-tiba terbakar sendiri. 

"Sampai hari ini terhitung sudah 73 kali kejadian (barang terbakar) di 65 titik di dalam rumah. Sampai sekarang belum tahu pasti apa penyebabnya. Kami menunggu hasil penelitian,” kata Mutfiana (29), pemilik rumah, saat ditemui.

Perempuan yang disapa Fia itu menceritakan, fenomena tersebut pertama kali terjadi di rumahnya di Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 22 Mei lalu. Pada Jumat malam itu, sebuah kain lap berbahan mikrofiber yang tergeletak di ruang tengah rumah tiba-tiba terbakar.

Awalnya, Fia berpikir ada sesuatu yang menyulut api tersebut. Namun, setelah dicermati lebih jauh, tak ada sumber api atau kelistrikan yang berada di dekat kain lap saat terbakar.

Kejadian itu makin terasa janggal karena sebelum terbakar, kain lap itu dalam kondisi basah setelah dipakai Fia mengelap tumpahan es teh. Meski begitu, peristiwa pertama itu tak terlalu dirisaukan Fia.

Namun, pada hari-hari setelah itu, muncul kejadian kedua, ketiga, dan seterusnya di titik-titik berbeda. Semuanya pun berpola sama, yakni api yang tiba-tiba menyala sendiri. Terkini, pada Senin siang kemarin, api melalap sebuah kaus yang ditaruh di atas meja di salah satu kamar.

Beruntung selama ini api tak pernah sampai menyebabkan kebakaran rumah karena selalu ketahuan sebelum membesar. Sejak frekuensi kemunculan api meningkat, anggota keluarga selalu bergantian berjaga selama 24 jam setiap hari untuk mengantisipasi kemunculan api.

Para penghuni rumah di Jalan Godean-Seyegan itu terdiri dari enam orang dewasa dan satu anak-anak. Mereka pun kini sementara waktu menempati sebuah ruko di sebelah rumah untuk keperluan tidur dan penyimpanan sejumlah barang berharga.

Titik kemunculan api yang awalnya hanya di ruangan tengah kini, kata Fia, sudah merata terjadi di seluruh bagian rumah yang dibangun 16 tahun lalu itu.

”Bahkan, beberapa hari lalu, sawah di belakang rumah juga sempat terbakar,” ujarnya, dikutip Kompas, Selasa (2/6/2026).

Fia menuturkan, sempat ada dugaan kebakaran itu dipicu kebocoran pipa septic tank rumah sehingga mengeluarkan gas metana (CH4). Gas yang terbentuk dari proses biokimia limbah rumah tangga itu sangat mudah terbakar.

Namun, setelah septic tank dikuras dan pipanya diganti, kebakaran masih terjadi. Api menyambar bahan-bahan mudah terbakar di dalam rumah, seperti kain, baju, tikar, plastik, dan kardus.

Kini, Fia dan keluarganya berharap kepada tim peneliti yang sudah turun untuk menyelidiki fenomena tersebut. Salah satunya adalah tim peneliti lintas disiplin ilmu dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), yang turut menyaksikan saat kaus di salah satu kamar rumah terbakar pada Senin siang.

Ketua tim peneliti, Prof Alva Edy Tontowi, menjelaskan, fenomena ini secara ilmiah disebut auto-ignition (swasulut) atau spontaneous ignition (penyulutan spontan).

”Pada intinya, ya, itu memang salah satunya adalah gas yang bisa menyala sendiri,” ujarnya.

Petugas pemadam kebakaran mengunjungi rumah warga yang mengalami fenomena api menyala sendiri di Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (1/6/2026) -Kompas
Petugas pemadam kebakaran mengunjungi rumah warga yang mengalami fenomena api menyala sendiri di Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (1/6/2026) -Kompas

Anggota tim yang merupakan pakar geologi, Prof Agung Harijoko, mengatakan, pihaknya melakukan pemeriksaan rumah dengan alat gas detector. Di kamar tempat kaus terbakar tadi, tim mendeteksi kadar gas hidrogen yang naik tinggi.

”Jadi memang gas H2 itu bisa menyala sendiri, bahkan dalam kondisi suhu ruangan (20-25 derajat celsius),” ujarnya.

Pakar teknik kimia UGM Prof Sarto mengatakan, tim juga mengambil sampel air dari beberapa sumber di rumah dan di dekat rawa belakang rumah. Tim akan membandingkan hasil pengujian sampel-sampel air tersebut.

Selain UGM, penelitian juga dilakukan tim Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). BPPTKG adalah balai yang berada di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang berkantor di Yogyakarta.

Penyelidik Bumi Muda BPPTKG Aris Dwi Nugroho mengungkapkan, pihaknya mengambil data gas dan air. Data itu akan dianalisis lebih jauh di laboratorium untuk mengungkap penyebab fenomena tersebut.

Fia pun mengaku sedikit lega dengan kehadiran para pakar untuk memecahkan misteri yang meresahkan keluarganya tersebut. Harapannya kini hanya satu, yakni bisa kembali hidup normal di rumahnya sendiri itu. ”Semoga bisa segera diketahui hasilnya,” ujarnya (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.