06 June 2026

Get In Touch

Ilmuwan Tetaskan 26 Ayam dari Telur Buatan

Ilmuwan Tetaskan 26 Ayam dari Telur Buatan

SURABAYA ( LENTERA ) - Perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat, Colossal Biosciences, mengumumkan keberhasilan besar dalam proyek “de-ekstingsi” mereka setelah sukses menetaskan 26 anak ayam sehat dari telur buatan pada 19 Mei 2026. Pencapaian ini disebut sebagai fondasi penting dalam ambisi perusahaan untuk menghadirkan kembali spesies burung punah seperti Dodo dari Mauritius dan Moa raksasa dari Selandia Baru.

Teknologi telur sintetis yang dikembangkan Colossal menggunakan dua komponen utama berupa membran silikon tipis dan wadah penyangga berbentuk heksagonal. Membran tersebut dirancang untuk meniru fungsi alami cangkang telur, yakni memungkinkan pertukaran oksigen tetap berlangsung sambil menjaga kelembapan serta mencegah kontaminasi dari luar.

Chief Biology Officer Colossal, Andrew Pask, mengatakan selama ini proses penetasan tanpa cangkang alami menjadi tantangan besar karena biasanya memerlukan tambahan oksigen yang justru berisiko merusak DNA embrio.

“Ini adalah membran khusus yang sangat tipis, memungkinkan terjadinya pertukaran gas yang sangat efektif, persis seperti rancangan luar biasa pada cangkang telur biologis,” ujar Pask.

Sistem telur buatan tersebut juga dilengkapi jendela transparan di bagian atas sehingga ilmuwan dapat memantau perkembangan organ serta pembuluh darah embrio secara langsung tanpa mengganggu kondisi di dalam telur. Teknologi ini diklaim fleksibel karena ukurannya bisa disesuaikan, mulai dari telur burung kolibri hingga telur burung Moa raksasa yang ukurannya disebut setara bola sepak.

Meski dianggap sebagai terobosan penting, sejumlah ilmuwan independen menilai jalan menuju kebangkitan Dodo dan Moa masih sangat panjang. Vincent Lynch dari University at Buffalo mengapresiasi inovasi tersebut, namun mengingatkan bahwa membran sintetis hanyalah satu bagian kecil dari sistem biologis telur yang sangat kompleks. Ia juga menyoroti belum adanya data tingkat keberhasilan penetasan (hatch rate) maupun publikasi resmi di jurnal ilmiah peer-review.

Keberhasilan menetaskan 26 ayam ini menambah daftar proyek ambisius Colossal Biosciences yang kini memiliki valuasi lebih dari USD 10 miliar. Selain proyek Dodo dan Moa, perusahaan tersebut juga tengah mengembangkan program kebangkitan Mammoth berbulu, Harimau Tasmania, hingga Serigala Purba atau Dire Wolf.

Burung Dodo dan Moa merupakan contoh nyata bagaimana isolasi geografis menciptakan keajaiban evolusi sekaligus kerentanan yang fatal. Hidup terisolasi selama ribuan tahun tanpa kehadiran predator alami membuat kedua spesies ini kehilangan kemampuan terbang dan tidak memiliki rasa takut terhadap ancaman luar.

Dodo di Mauritius berevolusi menjadi burung darat berparuh unik yang bersarang di tanah, sementara Moa di Selandia Baru tumbuh menjadi raksasa herbivora tanpa sayap yang mendominasi ekosistem hutan. Ketiadaan insting pertahanan diri ini menjadi titik balik yang tragis ketika wilayah terpencil mereka akhirnya mulai dijamah oleh kedatangan manusia.
Kepunahan kedua burung unik ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat akibat kombinasi perburuan masif dan kerusakan habitat.

Kedatangan suku Māori di Selandia Baru langsung mengincar Moa sebagai sumber pangan utama, yang memicu kepunahan massal spesies raksasa ini hanya dalam kurun waktu beberapa abad. Di sisi lain, Dodo lenyap dalam waktu kurang dari seratus tahun setelah pelaut Eropa menginjakkan kaki di Mauritius, diperparah oleh serangan hewan invasif seperti tikus dan babi yang memangsa telur-telur mereka. Kisah Dodo dan Moa kini menjadi simbol global sekaligus pengingat keras mengenai betapa rapuhnya keseimbangan alam terhadap dampak aktivitas manusia.(ist/dya)

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.