SURABAYA (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi mengukuhkan Dewan Kebudayaan Surabaya periode 2026-2029. Dalam momentum tersebut, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi meminta agar lembaga ini segera menggelar pentas seni dan budaya secara rutin setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu malam di berbagai ruang publik.
"Saya minta mulai minggu depan, setiap Jumat malam, Sabtu malam, dan Minggu malam sudah ada tampilan budaya di Balai Pemuda dan tempat lainnya. Budaya jalan, seni jalan, ekonomi warga juga ikut bergerak," ungkapnya, dikutip Sabtu (16/5/2026).
Diketahui, penyerahan Surat Keputusan (SK) dilakukan langsung oleh Wali Kota Eri, di Rumah Dinasnya, Jumat (15/5/2026) malam. Pembentukan dewan kebudayaan ini diharapkan mampu memperkuat identitas budaya dan karakter warga Kota Pahlawan.
Pembentukan Dewan Kebudayaan tersebut juga sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan serta Permendikbud Nomor 45 Tahun 2018 tentang pedoman pemajuan kebudayaan di daerah.
Eri mengatakan, keberadaan Dewan Kebudayaan bukan sekadar mengurus kesenian, tetapi juga memiliki tanggung jawab membangun karakter masyarakat melalui budaya lokal.
"Budaya itu luas, kesenian ada di dalamnya. Budaya berkaitan erat dengan karakter. Melalui Dewan Kebudayaan ini, kita ingin menyiapkan karakter anak cucu kita agar memiliki akar budaya yang kuat," ujar Eri.
Ia juga meminta Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya untuk memberikan ruang lebih luas bagi seniman dan budayawan lokal dengan menggratiskan penggunaan fasilitas publik untuk kegiatan kesenian non-komersial.
Menurut Eri, sejumlah lokasi seperti Balai Pemuda, Balai Kota, taman kota, hingga Surabaya Expo Center (SUBEC) harus menjadi ruang terbuka bagi kreativitas warga.
"Pemerintah harus hadir memberikan perlindungan. Balai Budaya jangan disewakan komersial jika yang tampil adalah seniman dan budayawan Surabaya. Dengan begitu ekonomi bergerak, pengangguran berkurang, dan kemiskinan bisa ditekan lewat jalur budaya," tuturnya.
Eri juga mendorong kolaborasi antara budaya tradisional dan tren modern agar lebih dekat dengan generasi muda. Ia mencontohkan perpaduan seni ludruk dengan konsep stand up comedy sebagai upaya menjaga eksistensi budaya lokal tanpa kehilangan relevansi zaman.
"Kalau stand up comedy digabungkan dengan ilmu perludrukan Cak Kartolo, itu akan luar biasa. Tujuannya agar anak muda Surabaya tidak lupa identitas keseniannya sendiri seperti Remo, Ludruk, dan Srimulat," katanya.
Sementara itu, Ketua Dewan Kebudayaan Surabaya periode 2026-2029, Heti Palestina Yunani menyampaikan langkah awal yang akan dilakukan pihaknya ialah memetakan seluruh potensi budaya Surabaya secara menyeluruh.
Menurut Heti, kebudayaan tidak hanya soal kesenian, tetapi juga mencakup ritus, adat istiadat, permainan rakyat, hingga teknologi tradisional yang selama ini belum banyak tersentuh.
"Kami akan mengidentifikasi dulu potensinya agar gerak kami dirasakan langsung oleh warga di tingkat kelurahan, bukan hanya oleh kalangan seniman," ujarnya.
Ia menambahkan, Dewan Kebudayaan akan mengedepankan pendekatan berbasis riset sebelum menentukan arah pengembangan budaya. Kajian tersebut mencakup penguatan aksara Jawa, pengembangan seni ludruk, hingga pemetaan identitas musik khas Surabaya.
Selain itu, Heti juga menekankan pentingnya regenerasi seniman melalui workshop, pelatihan, hingga kemungkinan pembentukan sekolah budaya agar transfer pengetahuan lintas generasi tetap berjalan.
"Budaya tidak akan lestari jika hanya berhenti di tangan senior. Kami ingin mereka menjadi mentor dan pemikir untuk menyiapkan generasi berikutnya," tutupnya.
Reporter: Amanah/Editor: Santi





.jpg)
