SURABAYA (Lentera) - Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Johari Mustawan, mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus tanpa menimbulkan kepanikan berlebihan.
"Yang paling penting adalah pencegahan di rumah-rumah. Masyarakat harus memahami bahwa tikus berpotensi membawa penyakit zoonosis sehingga tidak boleh dianggap biasa," ucap anggota dewan yang akrab disapa Bang Jo ini, Kamis (14/5/2026).
Menurutnya, edukasi mengenai pola penularan dan langkah pencegahan menjadi hal terpenting untuk melindungi masyarakat.
Bang Jo menjelaskan, hantavirus termasuk penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penularannya tidak hanya melalui kontak langsung dengan tikus, tetapi juga bisa berasal dari kotoran, urine, maupun bulu tikus yang tersebar di lingkungan.
Ia mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sebelumnya juga telah memiliki regulasi terkait kesehatan hewan dan peternakan untuk mencegah penularan penyakit hewan kepada manusia. Karena itu, pengawasan lingkungan perlu diperkuat melalui keterlibatan Kader Surabaya Hebat (KSH) dan satgas di tingkat wilayah.
Menurutnya, langkah preventif yang dapat dilakukan masyarakat antara lain menjaga kebersihan rumah, menghindari keberadaan tikus, rutin mencuci tangan, serta memastikan sanitasi lingkungan tetap terjaga.
Selain itu, ia juga mendorong adanya screening atau pemantauan terhadap wilayah yang terindikasi kasus hantavirus, terutama di pusat-pusat transportasi seperti terminal dan titik kedatangan lainnya. Langkah tersebut dinilai penting agar penyebaran virus dapat dicegah sebelum masuk dan meluas di Kota Surabaya.
Bang Jo menambahkan, masyarakat tidak perlu panik dengan maraknya penjualan masker di media sosial. Penggunaan masker, kata dia, sudah menjadi bagian dari standar kesehatan sejak sebelum pandemi Covid-19, terutama bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat yang rentan terpapar penyakit saluran pernapasan.
"Yang terpenting bukan panic buying masker, tetapi menjalankan pola hidup bersih dan sehat. Preventifnya dijalankan, rumah bersih, lingkungan bebas tikus, rajin cuci tangan dan menjaga kebersihan," katanya.
Ia menjelaskan, gejala hantavirus pada tahap awal umumnya menyerupai batuk dan pilek biasa. Karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala tersebut, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan lingkungan yang berisiko.
"Kalau ada gejala, segera periksakan ke dokter. Pemeriksaan bisa dilakukan melalui uji laboratorium atau kultur mikrobiologi untuk memastikan ada tidaknya hantavirus," jelasnya.
Bang Jo memastikan masyarakat tidak perlu terlalu khawatir karena penanganan medis terhadap hantavirus telah memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang jelas. Ia berharap masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan melalui langkah-langkah pencegahan sejak dini.
Reporter: Amanah/Editor: Santi





.jpg)
