27 May 2026

Get In Touch

Kisah Jemaah Haji Aceh: Mencari Rumah Baru di Depan Ka'bah, Gantikan yang Tersapu Air Bah

Hartati Musirun Mukmin, jemaah haji asal Aceh Tamiang yang berangkat haji walaupun rumahnya hancur akibat banjir bandang, saat ditemui oleh tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Arab Saudi (Bisnis)
Hartati Musirun Mukmin, jemaah haji asal Aceh Tamiang yang berangkat haji walaupun rumahnya hancur akibat banjir bandang, saat ditemui oleh tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Arab Saudi (Bisnis)

MAKKAH (Lentera) -Paspor, KTP, hingga uang milik Hartati Musirun Mukmin tak jelas nasibnya, entah tersapu air atau terendam habis bersama rumahnya akibat banjir Aceh pada November 2025 silam. Kurang dari enam bulan menjelang rencana keberangkatannya beribadah haji, bencana mahadahsyat melanda rumahnya di Aceh Tamiang.

Rencana untuk pergi haji itu sejatinya disiapkan Hartati bersama suaminya, Muhammad Sofyan belasan tahun silam. Namun, takdir berkata lain, pada 2014 sang suami berpulang sehingga Hartati harus membesarkan tiga anak seorang diri, sembari tetap menyiapkan keberangkatan haji.

Tahun demi tahun, kesempatan menunaikan rukun Islam terakhir itu semakin dekat. Rupanya, enam bulan menjelang keberangkatan terjadi banjir besar di Aceh yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Aceh Tamiang, tempatnya membesarkan keluarga, luluh lantak.

"Rumahnya belum bisa saya perbaiki, karena uang pun enggak ada untuk perbaiki rumah," katanya lirih.

Rumah warisan dari orang tuanya itu tersapu banjir. Hartati mengangkat tangannya ke leher, saat menceritakan tinggi air dan material banjir yang dia ingat. Setelah banjir reda dan akses menuju rumahnya terbuka, tempat tinggalnya nyaris tak berbentuk lagi.

Hartati fokus untuk menyelamatkan diri dan orang-orang di sekelilingnya. Setelah kondisi aman, dia mulai terpikir soal keberangkatan haji yang hanya tinggal menghitung bulan.

Hatinya semakin tidak karuan, karena hartanya habis tersapu banjir dan dokumen-dokumen penting entah di mana. Dia khawatir keberangkatannya tertunda, atau bahkan batal, karena petaka yang melanda Aceh itu.

"Air itu tiba-tiba langsung, sreeet, naik. Jadi kami enggak bisa langi sempat menyelamatkan barang-barang, termasuk itu [dokumen-dokumen untuk persiapan keberangkatan haji]," ujarnya.

Bencana yang seperti 'tsunami kedua' itu menghantam 18 dari 23 kabupaten/kota di Aceh. Tempat tinggal Hartati, yakni Aceh Tamiang, menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah.

Hartati mengungsi di kediaman keluarganya. Ia mengamankan diri sambil berharap tetap mendapatkan panggilan Allah, berangkat dari Serambi Mekkah ke kota tempat adanya Ka'bah.

Jari penyelamat

Hartati tidak menyangka bahwa di tengah bencana itu, selain evakuasi dan penanganan korban, juga tetap terdapat pendataan kondisi para calon jemaah haji. Keberangkatan mereka ke Tanah Suci tetap diusahakan. Harapan pun muncul.

Dia datang ke tempat pelayanan hanya membawa diri. Kelengkapan dokumen hajinya ludes, tak ada satu pun yang terselamatkan, tetapi dia tetap yakin bahwa ada jalan untuk bisa berangkat ke Tanah Suci.

Rupanya, jemarinya adalah kunci. Seluruh data yang diperlukan sudah terekam di sistem Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), seluruh berkas yang diperlukan untuk proses administrasi bisa terpenuhi, hanya dengan sidik jari.

Paspornya bisa diterbitkan kembali, KTP dan berbagai dokumen pun bisa didapat. Hartati semakin memantapkan hati bahwa setelah terkena petaka, dia bisa berdo'a langsung kepada Allah SWT. di hadapan Ka'bah.

Dia langsung menghubungi anak-anaknya, menjelaskan bahwa peluang untuk pergi ke Tanah Suci tetap terbuka. Hartati bersyukur karena di tengah kesulitan ekonomi, anak-anaknya membantu pelunasan kekurangan biaya haji sekitar Rp17 juta.

"Dengan izin Allah, karena panggilan Allah, berkat anak-anak saya, saya bisa kemari," ujar Hartati yang menahan air mata saat menceritakan kisahnya untuk bisa pergi ke Tanah Suci, saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Arab Saudi.

Dari Warkop hingga Kantor, Mencari Internet untuk Calon Jemaah Haji

Tim Koordinasi dan Pengendali Jemaah Haji Aceh pada PPIH Arab Saudi, Jamaluddin Affan Asyi, menceritakan bahwa terdapat sekitar 150 calon jemaah haji di Aceh Tamiang. Dari jumlah itu, hanya satu orang yang mampu melunasi biaya haji, lainnya terkendala akibat banjir.

Tim Koordinasi dan Pengendali Jemaah Haji Aceh pada PPIH Arab Saudi, Jamaluddin Affan Asyi saat diwawancarai tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Arab Saudi (Bisnis)
Tim Koordinasi dan Pengendali Jemaah Haji Aceh pada PPIH Arab Saudi, Jamaluddin Affan Asyi saat diwawancarai tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Arab Saudi (Bisnis)

Kondisi itu membuat pemerintah daerah, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), serta Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) harus turun langsung membantu jemaah mengurus berbagai kebutuhan keberangkatan.

"Kami ditugaskan untuk jemput bola supaya jemaah bisa melakukan istitha’ah [pemenuhan syarat kesehatan] dan pelunasan," ujarnya, yang akrab dipanggil Syekh Jamal.

Dikutip Bisnis, Rabu (13/5/2026) kerusakan infrastruktur dan jaringan komunikasi menghambat proses administrasi dan pemeriksaan kesehatan jemaah. Akses di sejumlah titik pun terputus, sehingga tidak memungkinkan untuk mengumpulkan jemaah dari berbagai wilayah ke satu titik, sehingga pemerintah lah yang harus menemui setiap calon jemaah.

Jamal bercerita bahwa mereka mencari kedai kopi maupun tempat-tempat apapun yang memiliki akses listrik dan internet. Alat-alat seperti pemindai sidik jari dibawa ke sana, sehingga seluruh kelengkapan administrasi calon jemaah haji bisa tetap terpenuhi.

“Akhirnya kami alihkan ke daerah yang ada internetnya, kemudian yang ada komunikasi telepon karena infrastruktur elektronik hancur,” ujarnya.

Meski diterpa berbagai kendala, Aceh akhirnya berhasil memenuhi kuota haji 2026. Sebanyak 5.425 jemaah diberangkatkan ke Tanah Suci dalam 14 kelompok terbang.

Bahkan, setelah diterpa bencana besar, Aceh menjadi wilayah pertama yang mampu memenuhi kuota haji tahun ini.

Berbagai tantangan itu menjadi refleksi bagi Hartati, keberangkatan haji kali ini bukan sekadar perjalanan ibadah. Di tengah rumah yang belum bisa diperbaiki dan hidup yang belum sepenuhnya pulih, dia hanya ingin berserah.

"Saya cuma mengadu sama Allah ... Saya yakin pulang dari sini saya dapat rezeki dari Allah," ujarnya (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.