03 June 2026

Get In Touch

Ribuan Pengunjung Padati Festival Rujak Uleg, DPRD Minta Festival Kuliner Diperbanyak

Festival Rujak Uleg 2026 yang digelar Pemkot Surabaya.
Festival Rujak Uleg 2026 yang digelar Pemkot Surabaya.

SURABAYA (Lentera)— Festival Rujak Uleg 2026 dinilai tidak hanya sukses menjadi ajang pelestarian kuliner khas Surabaya, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan. Perputaran ekonomi yang mencapai Rp1,2 miliar selama festival berlangsung disebut menjadi bukti bahwa agenda budaya dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Wakil Ketua DPRD Surabaya, Laila Mufidah, mengapresiasi penyelenggaraan Festival Rujak Uleg 2026 yang digelar di Surabaya Expo Center (SBEC), Sabtu (9/5/2026). Menurutnya, festival tahunan tersebut telah berkembang menjadi ruang pemberdayaan ekonomi warga, bukan sekadar hiburan kota.

“Festival seperti Rujak Uleg dan even yang menghadirkan ribuan pengunjung sangat dinantikan. Selain wisata, yang utama adalah bagaimana menggerakkan ekonomi kerakyatan berjalan berkelanjutan,” kata Laila dikutip Selasa (12/5/2026).

Festival Rujak Uleg 2026 yang menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 itu berhasil menarik sekitar 12 ribu pengunjung dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mengusung tema “Rujak Phoria”, acara tersebut dipenuhi beragam atraksi budaya, lomba menguleg rujak, parade kostum tematik, hiburan musik, hingga bazar UMKM.

Sejak 2023, Festival Rujak Uleg telah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI dan tercatat sebagai salah satu dari 125 event terbaik nasional. Status tersebut membuat festival kuliner khas Surabaya itu semakin dikenal sebagai agenda wisata budaya berskala nasional.

Laila menilai keberhasilan sebuah festival seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung atau kemeriahan acara, melainkan dari dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat kecil.

Menurut politisi PKB itu, sektor wisata dan kuliner memiliki efek domino terhadap berbagai sektor usaha. Kehadiran ribuan pengunjung dinilai mampu meningkatkan pendapatan pelaku UMKM, sektor perhotelan, hingga jasa transportasi.

“Ribuan pengunjung butuh hiburan. Mereka juga perlu makan dan minum. Bahkan yang dari luar kota juga butuh menginap. Hotel banyak dikunjungi. Pelaku UMKM yang mendapat tempat di lokasi festival makin laris. Semuanya menunjukkan ekonomi tergerak,” ujarnya.

Ia menuturkan festival budaya harus mampu membangun ekosistem ekonomi baru yang melibatkan masyarakat secara luas. Karena itu, menurutnya, manfaat kegiatan tidak boleh hanya dirasakan kelompok tertentu saja.

“Harus terbangun ekosistem baru dalam memacu ekonomi kerakyatan. Tidak hanya kalangan tertentu yang mendapat berkah dari even itu. Semua mendapat impact ekonomi,” tuturnya.

Dalam festival tersebut, berbagai unsur masyarakat terlibat aktif, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), hotel, BUMN, perbankan, komunitas, hingga pelaku UMKM yang membuka stan di area festival.

Laila pun mendorong Pemerintah Kota Surabaya memperluas festival berbasis kuliner dan budaya lokal agar dampaknya terhadap ekonomi warga semakin besar. Ia mengusulkan adanya festival turunan yang digelar rutin dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat.

“Festival yang berdampak pada ekonomi warga harus diperluas,” tambahnya.

Menurut Laila, Surabaya memiliki banyak kuliner khas yang potensial dikembangkan menjadi magnet wisata sekaligus penggerak ekonomi rakyat, seperti lontong balap, sate kerang, lento, dan berbagai makanan tradisional lainnya.

Selain berdampak pada ekonomi, Festival Rujak Uleg juga dinilai penting sebagai media pelestarian budaya, terutama untuk mengenalkan kuliner lokal kepada generasi muda. “Apalagi era anak muda dan Gen Z saat ini belum tentu mereka akrab dengan makanan khas kotanya,” kata Laila.

Ia menilai pendekatan festival yang dikemas modern dan kreatif mampu menarik minat generasi muda untuk mengenal budaya lokal melalui kuliner khas Surabaya.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan Festival Rujak Uleg bukan hanya pesta kuliner, tetapi juga simbol kebersamaan warga Surabaya. “Sing ikut nguleg iku bukan hanya OPD. Ono sing teko RW, SWK, hotel, kabeh melu. Artine Surabaya iki dibangun karo guyup rukun kabeh lapisan masyarakat,” ujar Eri.

Menurutnya, semangat gotong royong dan kebersamaan itu harus terus dijaga di tengah perkembangan Surabaya sebagai kota modern yang semakin heterogen.

Festival Rujak Uleg 2026 menjadi gambaran bagaimana agenda budaya dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi sekaligus perekat sosial masyarakat melalui kolaborasi antara pemerintah, UMKM, komunitas, dan warga kota.

Reporter: Amanah (ADV)

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.