09 May 2026

Get In Touch

Belajar dari Tragedi Gunung Dukono: Pakar Ingatkan Bahaya "Infodemik" di Balik Konten Viral

Tim SAR gabungan sedang bersiap melakukan evakuasi pendaki yang mengalami luka saat gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara mengalami setinggi 10.000 meter pada Jumat (8/5/2026) (DOKUMENTASI BASARNAS)
Tim SAR gabungan sedang bersiap melakukan evakuasi pendaki yang mengalami luka saat gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara mengalami setinggi 10.000 meter pada Jumat (8/5/2026) (DOKUMENTASI BASARNAS)

SURABAYA (Lentera) -Erupsi Gunung Dukono yang terjadi pada Jumat (8/5/2026) menjadi potret kelam bagaimana daya tarik konten media sosial dapat membutakan kesadaran akan bahaya bencana.

Insiden ini mengakibatkan tiga pendaki meninggal dunia, sedikitnya tujuh pendaki luka-luka, dan puluhan lainnya harus dievakuasi setelah nekat menerobos zona berbahaya.

Gunung Dukono di Halmahera Utara dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif yang mengalami erupsi hampir terus-menerus.

Mirisnya, para pendaki tersebut diketahui nekat melakukan pendakian demi kebutuhan konten media sosial, meski otoritas setempat telah mengeluarkan larangan aktivitas di zona bahaya.

Distorsi Persepsi Risiko dan Survivorship Bias

Edukator kebencanaan sekaligus anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menyoroti fenomena "infodemik kebencanaan" yang kini menjadi tantangan berat dalam mitigasi.

Menurutnya, publik seringkali terjebak dalam persepsi risiko yang salah akibat melihat konten pendaki yang berhasil pulang dengan selamat dari kawah aktif.

"Dalam dunia sains, fenomena ini disebut sebagai survivorship bias," katanya melalui pesan tertulis, Jumat (8/5/2026).

Dia menjelaskan, publik hanya melihat mereka yang berhasil turun dan mengunggah konten dramatis, sementara potensi ancaman yang tidak terjadi saat itu menjadi tidak terlihat.

"Publik lebih sering melihat video pendaki yang berhasil naik lalu pulang dengan selamat. Konten seperti itu perlahan membentuk distorsi persepsi risiko. Orang merasa aman bukan karena kondisi gunung benar-benar aman, tetapi karena melihat orang lain tampak baik-baik saja di dalam video," jelas Daryono.

Bahaya Nyata di Balik Lensa Kamera

Padahal, keselamatan segelintir orang di masa lalu tidak bisa dijadikan jaminan ilmiah untuk menilai tingkat bahaya saat ini.

Gunung api aktif dapat melepaskan material pijar, hujan abu pekat, hingga gas vulkanik beracun secara tiba-tiba tanpa peringatan melalui layar ponsel.

Daryono menegaskan bahwa wajah infodemik dalam mitigasi bencana terjadi ketika informasi viral lebih dominan daripada data resmi otoritas kebencanaan.

Hal ini membuat rekomendasi ilmiah untuk keselamatan sering dianggap berlebihan oleh masyarakat.

"Tragedi Dukono hari ini menjadi pengingat bahwa alam tidak pernah tunduk pada popularitas influencer, dan video 'selamat mendaki' tidak pernah cukup untuk membatalkan risiko bencana," tegas Daryono.

Pentingnya Mengacu pada Otoritas Resmi

Insiden ini menunjukkan urgensi bagi para pendaki dan wisatawan untuk kembali menempatkan data ilmiah dan rekomendasi PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) di atas tren media sosial.

Edukasi mengenai mitigasi bukan sekadar soal pengetahuan, tetapi soal kepatuhan terhadap batasan radius bahaya yang telah ditetapkan berdasarkan kajian ahli.

Kejadian di Dukono membuktikan bahwa demi sebuah konten viral, nyawa terkadang menjadi taruhan yang terlalu murah, sementara alam memiliki hukumnya sendiri yang tidak bisa dikompromikan.

Tragedi Dukono

Tragedi melanda kawasan Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara.

Mengutip Kompas, sebanyak tiga orang pendaki dilaporkan meninggal dunia setelah gunung api tersebut mengalami erupsi hebat dengan tinggi kolom abu mencapai 10.000 meter pada Jumat (8/5/2026).

Namun, erupsi susulan yang terus terjadi membuat tim SAR gabungan belum bisa menjangkau lokasi jenazah yang berada di bagian atas gunung. "Jenazah masih berada di posisi atas dan belum bisa dievakuasi karena erupsi susulan masih terus terjadi," tambah Erlichson.

Sementara itu, sebanyak tujuh Warga Negara Asing (WNA) dan sejumlah warga lokal berhasil selamat dari maut.

Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, mengungkapkan bahwa total ada 20 orang yang berada di atas gunung saat erupsi terjadi.

Dari jumlah tersebut, 7 WNA dilaporkan telah berhasil mencapai titik aman di bawah.

Beberapa dari mereka kini tengah mendapatkan perawatan medis di Pos Pengamatan karena mengalami luka-luka akibat terkena hantaman material vulkanik saat mencoba menyelamatkan diri.

"Beberapa pendaki mengalami luka ringan akibat terkena material batu. Saat ini mereka sedang mendapatkan perawatan sementara di Pos Pengamatan," ujar AKBP Erlichson.

Kapolres menyebutkan bahwa warga lokal umumnya sudah memahami situasi dan menjauhi area rawan. Namun, mayoritas pelanggar adalah wisatawan luar.

"Mereka tetap nekat melakukan pendakian demi kebutuhan konten media sosial. Kami mengimbau dengan sangat agar tidak ada lagi yang mendekat ke area rawan," tegas AKBP Erlichson.

Saat ini, Gunung Dukono telah ditutup total untuk segala jenis aktivitas guna menghindari adanya korban tambahan (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.