07 May 2026

Get In Touch

Benarkah Kotoran Telinga Basah Berhubungan dengan Bau Badan?

Benarkah Kotoran Telinga Basah Berhubungan dengan Bau Badan?

SURABAYA ( LENTERA ) - Belakangan ini, media sosial ramai membicarakan anggapan bahwa kotoran telinga basah berkaitan dengan bau badan. Sekilas terdengar seperti sekadar mitos atau kebetulan, mengingat keduanya tampak tidak saling berhubungan.

Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kaitan tersebut memang ada. Kotoran telinga dan bau badan sama-sama dipengaruhi oleh faktor genetik, khususnya gen yang mengatur aktivitas kelenjar apokrin.

Kunci dari hubungan ini terletak pada satu gen bernama ABCC11. Penelitian terbaru oleh Yu Toyoda dan rekan-rekannya dalam jurnal Human Cell (2024) menunjukkan bahwa varian tertentu dari gen ini berperan dalam mengatur aktivitas kelenjar apokrin, yaitu jenis kelenjar keringat yang berkaitan dengan bau badan.

Gen yang sama juga menentukan tipe kotoran telinga seseorang, apakah termasuk basah (wet earwax) atau kering (dry earwax).
Orang dengan kotoran telinga tipe basah cenderung memiliki aktivitas kelenjar apokrin yang lebih tinggi. Aktivitas ini menghasilkan senyawa yang kemudian diurai oleh bakteri di kulit, sehingga menimbulkan bau khas pada tubuh.

Studi lain di Scientific Reports pada November 2024 juga menjelaskan, kelenjar apokrin menghasilkan senyawa prekursor bau yang kemudian diubah oleh bakteri menjadi senyawa berbau, seperti 3M3SH, salah satu komponen utama bau ketiak.

Studi lain yang dipublikasikan di Scientific Reports pada November 2024 juga mengungkap bahwa kelenjar apokrin menghasilkan senyawa prekursor bau. Senyawa ini kemudian diubah oleh bakteri di kulit menjadi zat berbau, seperti 3M3SH, yang dikenal sebagai salah satu komponen utama bau ketiak.

Kaitan ini sebenarnya sudah lama diamati. Penelitian terdahulu dalam jurnal BMC Genetics (2009) mengenai axillary osmidrosis atau bau badan di area ketiak menemukan bahwa tipe kotoran telinga basah memiliki hubungan yang kuat dengan kondisi tersebut.

Dalam studi itu, varian gen ABCC11 tertentu, yakni GG dan GA, disebut berperan dalam memungkinkan munculnya bau badan. Sementara itu, varian lain (AA), yang umumnya dimiliki oleh orang dengan kotoran telinga kering, cenderung menghasilkan sekresi yang lebih sedikit sehingga risiko bau badan pun lebih rendah.

Meski begitu, penting untuk dipahami bahwa faktor genetik bukan satu-satunya penentu. Bau badan juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti komposisi mikrobioma kulit, yaitu jenis bakteri yang hidup di permukaan kulit. 

Selain itu juga Tingkat kebersihan tubuh sehari-hari, pola makan yang dikonsumsi, perubahan atau keseimbangan hormon hingga jenis pakaian yang digunakan serta kondisi lingkungan sekitar.

Tidak semua orang dengan kotoran telinga basah otomatis memiliki bau badan yang kuat. Sebaliknya, mereka yang memiliki kotoran telinga kering juga bukan berarti sepenuhnya bebas dari bau badan.

Pasalnya, bau badan tidak hanya ditentukan oleh faktor genetik. Kebersihan tubuh, kondisi hormon, jenis bakteri di kulit, pilihan pakaian, pola makan, hingga lingkungan juga turut memengaruhi munculnya bau pada tubuh.

Fakta menariknya, varian gen ABCC11 berbeda-beda di setiap populasi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80–95 persen orang Korea dan Jepang memiliki varian gen yang berkaitan dengan kotoran telinga kering serta produksi keringat apokrin yang lebih rendah.

Karena aktivitas kelenjar apokrin yang lebih minim, kecenderungan munculnya bau badan pada populasi tersebut juga relatif lebih rendah dibandingkan dengan beberapa populasi lainnya. (Itqiyah- Mahasiswa UINSA berkontribusi dalam tulisan ini).
 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.