07 May 2026

Get In Touch

Cakupan IDL Baru 37,23 Persen, Pemkot Surabaya Gandeng Bunda PAUD Masifkan Imunisasi Serentak

Bunda Rini meninjau pelaksanaan imunisasi di Pos PAUD Terpadu (PPT) Melati.
Bunda Rini meninjau pelaksanaan imunisasi di Pos PAUD Terpadu (PPT) Melati.

SURABAYA (Lentera) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengintensifkan pelaksanaan imunisasi campak serentak di seluruh wilayah, sebagai respons atas masih rendahnya cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) yang baru mencapai 37,23 persen hingga awal Mei 2026.

Upaya percepatan ini tidak hanya dilakukan melalui layanan kesehatan, tetapi juga menggandeng PAUD di Kota Surabaya.

Bunda PAUD Surabaya, Rini Indriyani mengatakan akan  turun langsung ke lapangan untuk mendorong partisipasi masyarakat, khususnya di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah.

Rini meninjau, pelaksanaan imunisasi di Pos PAUD Terpadu (PPT) Melati, Kelurahan Kenjeran, Kecamatan Bulak, pada Rabu (6/5/2026). Kegiatan serupa juga digelar serentak di 153 kelurahan dan 31 kecamatan di Surabaya.

Rini menilai, tantangan utama dalam pelaksanaan imunisasi bukan semata akses layanan, melainkan faktor psikologis orang tua. Kekhawatiran berlebih kerap membuat anak tidak mendapatkan imunisasi tepat waktu.

“Kendalanya sering justru dari orang tua yang takut, sehingga anak ikut tidak tenang. Kami mencoba melakukan pendekatan secara manusiawi agar mereka memahami bahwa ini langkah preventif penting,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kedisiplinan orang tua dalam memantau jadwal imunisasi melalui buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Bahkan, ia menyarankan penggunaan pengingat di ponsel untuk menghindari keterlambatan.

“Jangan sampai karena kesibukan, hak anak untuk mendapatkan imunisasi terabaikan,” tambahnya.

Dorongan percepatan imunisasi ini juga dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap risiko komplikasi campak, Rini mengungkapkan, adanya laporan kasus kematian anak akibat campak di luar Surabaya, yang menjadi peringatan serius bagi semua pihak.

“Campak bukan sekadar penyakit biasa. Jika tidak dicegah, bisa berdampak fatal,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menyebut capaian IDL saat ini telah menjangkau 11.446 anak dari target tahunan 30.797 anak. Meski dinilai sesuai dengan target bulanan, ia mengakui masih ada sejumlah kendala di lapangan.

Salah satu tantangan terbesar adalah tingginya mobilitas warga, terutama di wilayah Surabaya utara, yang menyebabkan sasaran imunisasi kerap tidak berada di tempat saat pelaksanaan.

“Mobilitas warga cukup tinggi, sehingga ada anak yang tidak hadir saat jadwal imunisasi. Ini yang terus kami antisipasi,” jelasnya.

Selain itu, kekhawatiran masyarakat terhadap Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) juga masih menjadi hambatan. Namun, Dinkes memastikan seluruh penanganan KIPI dilakukan secara cepat dan gratis.

“Kalau ada reaksi pasca imunisasi, segera laporkan. Kami tangani tanpa biaya. Jangan sampai ketakutan terhadap KIPI menghambat imunisasi, karena manfaatnya jauh lebih besar,” tegas dr. Billy.

Dengan berbagai upaya tersebut, Pemkot Surabaya berharap cakupan imunisasi dapat terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

"Namun, efektivitas program tetap sangat bergantung pada kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam memastikan anak-anak mendapatkan hak perlindungan kesehatan sejak dini," tutupnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.