05 May 2026

Get In Touch

Empat Ibu dan 46 Bayi Meninggal di 2025, Dinkes Kota Malang Soroti Faktor Risiko Kehamilan

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif. (Santi/Lentera)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Sebanyak 4 ibu dan 46 bayi dilaporkan meninggal dunia di Kota Malang sepanjang tahun 2025. Data tersebut menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang yang menyoroti masih tingginya faktor risiko dalam kehamilan sebagai penyebab utama.

"Angka kematian ibu dan bayi ini memang tidak tinggi, tetapi masih ada. Artinya tetap menjadi perhatian dan harus ditangani," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, Selasa (5/5/2026).

Dijelaskannya, AKI dihitung berdasarkan kematian yang terjadi akibat proses kehamilan, persalinan, hingga masa nifas. Dengan demikian, lanjut Husnul, kematian ibu hamil yang disebabkan faktor di luar kondisi kehamilan, seperti kecelakaan, tidak masuk dalam kategori AKI.

"AKI ini benar-benar spesifik pada proses kehamilan sampai nifas," jelasnya.

Berbeda dengan AKI, perhitungan AKB mencakup seluruh penyebab kematian pada bayi hingga balita. Artinya, setiap kematian bayi, tanpa memandang faktor penyebabnya, akan tetap masuk dalam indikator tersebut.

Lebih lanjut, Husnul memaparkan penyebab utama kematian ibu di Kota Malang masih didominasi oleh hipertensi dalam kehamilan, termasuk preeklamsia dan eklamsia. Selain itu, faktor lain yang turut berkontribusi adalah pendarahan, terutama yang terjadi pasca persalinan pada masa nifas.

Sementara itu, pada kasus kematian bayi, Husnul menyebutkan penyebab terbanyak berasal dari kondisi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) serta asfiksia atau gangguan pernapasan saat lahir. Dikatakannya, bayi dengan berat lahir di bawah 2.300 gram memiliki risiko lebih tinggi terhadap komplikasi yang berujung pada kematian.

"BBLR ini menjadi salah satu faktor dominan. Selain itu juga asfiksia, yaitu bayi mengalami gangguan napas saat lahir," imbuhnya.

Sebagai upaya menekan angka tersebut, Dinkes Kota Malang telah mencanangkan Gerakan Penurunan AKI, AKB, dan Stunting (Gerakan PENTING). Salah satu strategi utama adalah penguatan peran tenaga kesehatan di tingkat paling bawah, seperti puskesmas, bidan koordinator, dan bidan wilayah.

Menurut Husnul, seluruh tenaga kesehatan tersebut kini telah dibekali data rinci terkait kondisi ibu hamil di wilayah masing-masing, termasuk pemetaan risiko kehamilan. Data tersebut menjadi dasar dalam melakukan intervensi secara lebih cepat dan tepat.

Ia juga mengungkapkan, risiko kehamilan terbagi menjadi dua kategori, yakni risiko yang masih bisa diperbaiki (reversible) dan risiko yang tidak dapat diperbaiki (irreversible). Risiko irreversible misalnya kondisi panggul sempit atau jarak kehamilan yang terlalu dekat maupun terlalu jauh.

Sedangkan untuk risiko yang masih bisa ditangani, seperti hipertensi dalam kehamilan dan diabetes melitus, dapat dilakukan intervensi medis guna menekan potensi komplikasi.

"Kalau yang bisa diperbaiki itu seperti hipertensi dan diabetes dalam kehamilan. Ini yang menjadi fokus penanganan agar tidak berkembang menjadi komplikasi serius," tegasnya.

Ke depan, Husnul juga akan memperkuat strategi jemput bola dengan menggerakkan bidan hingga ke tingkat wilayah terkecil. Pelibatan struktur masyarakat, mulai dari RT hingga kelurahan, diharapkan mampu meningkatkan deteksi dini terhadap ibu hamil berisiko.

"Kami akan masifkan peran bidan koordinator dan bidan wilayah. Dari tingkat RT, diharapkan setiap pergerakan masyarakat bisa terdeteksi, terutama terkait ibu hamil," pungkasnya.

Reporter: Santi Wahyu

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.