01 May 2026

Get In Touch

Sekitar 500 Siswa SD-SMP dan Guru di Klaten Diduga Keracunan MBG

Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo menjenguk siswa yang diduga keracunan MBG di Puskesmas Kecamatan Tulung, Rabu (29/4/2026). (foto:ist/dtc)
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo menjenguk siswa yang diduga keracunan MBG di Puskesmas Kecamatan Tulung, Rabu (29/4/2026). (foto:ist/dtc)

KLATEN (Lentera) - Jumlah siswa SD-SMP dan guru di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, yang diduga keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bertambah, pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat menyebut angka sekitar 500 orang yang bergejala.

"Bertambah yang bergejala namun tidak melakukan perawatan di fasilitas kesehatan. Ya muncul gejala tapi ringan," jelas Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Klaten, Anggit Budiarto kepada detikJateng, Kamis (30/4/2026) dikutip, Jumat (1/5/2026).

Dijelaskan Anggit, untuk guru tidak ada penambahan tetapi siswa bertambah. Dari sebelumnya yang bergejala dilaporkan 189 orang, menjadi sekitar 500 orang.

"Kemarin 189 orang, tadi dilaporkan sekilas lebih dari 500 orang yang merasakan gejala. Tapi ini belum kami konfirmasi secara data riilnya," kata Anggit.

"Kita akan konfirmasi data riilnya bersama pihak terkait dalam hal ini Puskesmas dan Dinas Pendidikan," imbuhnya.

Pantauan, pada Kamis (30/4/2026), di Puskesmas Majegan, Kecamatan Tulung beberapa siswa sudah bersiap pulang menjelang zuhur. Mereka diantar keluarga, menunggu jemputan.

Di Puskesmas tidak terlihat lagi siswa berdatangan mengeluhkan sakit perut. Sementara di SMPN 1 Tulung aktivitas berjalan seperti biasa.

Menurut Camat Tulung, Hendri Pamukas jumlah yang dirawat di RS PKU Muhammadiyah Jatinom juga bertambah. Dari semula hanya dua siswa, menjadi enam siswa yang dirawat inap.

"Di RS PKU dari informasi SPPG tadi malam ada penambahan jadi enam orang (sebelumnya dua orang)," ungkap Hendri.

Untuk yang di Puskesmas Majegan, Kecamatan Tulung, terang Hendri, ada penambahan satu orang siswa SD tadi malam. Namun ada empat siswa yang dipulangkan.

"Hari ini tadi empat siswa dipulangkan. Yang lainnya kondisi membaik, pantauan terus kita lakukan," lanjut Hendri.

Seorang siswi SMPN 1 Tulung, Intan mengatakan hari ini diijinkan pulang karena kondisi membaik. Gejala mual, pusing dan diare sudah tidak ada.

"Sudah enggak. Yang hari ini mau pulang ada empat orang," ungkap siswi kelas VIII itu.

"Tadi malam cuma mual sedikit dan muntah sekali, sekarang sudah tidak lagi," imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, sekitar 200 siswa dan guru di wilayah Kecamatan Tulung, Klaten diduga keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi, pada Selasa (27/4/2026). Siswa mengalami gejala mual, diare dan pusing usai makan menu sop galantin.

Mereka sejak, Rabu (28/4/2026) malam hingga, Kamis (29/4/2026) pagi mengalami gejala mirip keracunan. Kemudian berdatangan ke fasilitas layanan kesehatan setempat.

Tenaga epidemiologi Puskesmas Majegan, Wahyu Handoyo menjelaskan dari penyelidikan di lapangan ada 17 sekolah penerima manfaat MBG, terdapat siswa dan guru yang bergejala.

"Ada 17 titik penerima. Ada 219 orang, 22 diantaranya guru yang bergejala (data sementara), pembagian MBG itu kemarin," katanya, Rabu (29/4/2026).

Gejala utama, kata Wahyu, mual dan pusing. Mulai dibawa ke layanan kesehatan sekitar pukul 07.00-08.00 WIB hari ini.

"Gejalanya kemarin, mulai dibawa ke klinik-klinik dan layanan jam 07.00 WIB ada juga jam 08.00 WIB," ungkap Wahyu.

Mendapat informasi ini, Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo bersama kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten Anggit Budiarto, Kepala Dinas Pendidikan Titin Windyarsih, camat dan lainnya langsung mengecek ke SPPG dan Puskesmas.

Bupati Klaten Hamenang menyatakan, dirinya mendapat laporan siswa SD dan SMP bergejala itu, Rabu (28/4/2026) kemarin. Hari ini turun, untuk mengecek langsung.

"Kita ngyakinke (mengecek), ternyata tidak hanya enam orang tapi ada beberapa orang, makin bertambah. Di RS PKU Muhammadiyah Jatinom juga ada beberapa, kondisinya ada yang lemas, pusing dan semua diare," kata Hamenang kepada wartawan.

"Hasilnya karena keracunan atau apa itu nanti menunggu hasil lab, sampel sudah kita kirim ke lab," imbuhnya.

Terpisah, ibu salah seorang siswa, Bekti mengatakan anaknya kelas VII C SMPN 1 Tulung, sampai rumah itu malah tidak mau makan. 

"Habis Maghrib kemarin mulai mual dan pusing," ungkap Bekti di lokasi, Kamis (30/4/2026) siang.

Dijelaskan Bekti, meskipun mengalami gejala sakit perut dan pusing, anaknya tidak muntah. Setelah tidak membaik, akhirnya pagi ini dibawa ke Puskesmas Majegan.

"Pagi ini tadi saya bawa ke Puskesmas. Katanya makan sop galantin jam 10.00 WIB habis istirahat," kata Bekti.

Demikian juga disampaikan, siswa kelas IX B SMPN 1 Tulung, Stevani dirinya makan sop galantin MBG, Selasa (28/4/2026). Menunya sop galantin, tempe dan ada telur puyuh.

"Ada sop galantin, tempe dan ada telur puyuh. Yang tidak enak sop sama telur puyuh tidak enak, rasanya gimana gitu," katanya.

Terpisah, Kepala SPPG Sorogaten, Roni Subekti mengatakan sudah berupaya menjaga kebersihan dan layanan sebaik mungkin, namun SPPG siap melakukan evaluasi.

"Ya kita siap untuk melakukan evaluasi, agar lebih baik lagi," kata Roni.

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.