25 April 2026

Get In Touch

Tak Ada Ritual Thudong di Waisak 2026, 50 Bhante Akan Jalan Kaki dari Bali ke Borobudur

Ilustrasi: Perjalanan para biksu di Candi Borobudur, Magelang. (foto: ist/Ant)
Ilustrasi: Perjalanan para biksu di Candi Borobudur, Magelang. (foto: ist/Ant)

MAGELANG (Lentera) - Tradisi ritual Thudong, yakni perjalanan kaki para biksu dari Thailand menuju Candi Borobudur tidak akan digelar pada peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE/2026. Sebagai gantinya, panitia menghadirkan konsep baru bertajuk Indonesia Walk for Peace 2026.

Sebanyak 50 bhante akan melakukan perjalanan spiritual dengan berjalan kaki dari Bali menuju Borobudur. Kegiatan ini dijadwalkan dimulai pada 9 Mei 2026 dan berakhir pada 28 Mei 2026, atau tiga hari sebelum puncak perayaan Waisak yang jatuh pada 31 Mei 2026.

"Untuk tahun ini memang bukan Thudong. Teman-teman di Malaysia tidak bisa membantu karena fokus pada kegiatan Waisak selama satu bulan di sana," ujar Pembina Acara Indonesia Walk for Peace 2026, Romo Wawan, mengutip Detik, Sabtu (25/4/2026).

Ditambahkannya, rute lintas negara yang biasanya melibatkan Thailand, Malaysia, dan Singapura kemungkinan akan kembali digelar pada 2027. "Tahun depan mudah-mudahan bisa kembali lewat Malaysia," imbuhnya.

Mengusung tema Walk for Peace, kegiatan ini disebut terinspirasi dari gerakan serupa yang dilakukan para bhante di Amerika Serikat. Wawan menilai penggunaan istilah berbahasa Inggris mencerminkan pesan universal yang ingin disampaikan, yakni perdamaian lintas batas.

"Thudong artinya berjalan. Dalam bahasa Inggris menjadi Walk for Peace. Pesannya sama, tentang perdamaian," jelasnya.

Perjalanan akan dimulai dari Brahmavihara Arama. Para bhante dijadwalkan sudah tiba di Bali pada 7 Mei 2026 untuk menjalani rangkaian persiapan sebelum pelepasan resmi dua hari kemudian.

Rute awal akan membawa rombongan menuju Kabupaten Jembrana, sebelum menyeberang ke Banyuwangi melalui Selat Bali. Di tengah penyeberangan, para bhante akan menggelar doa dan tabur bunga untuk mengenang korban tragedi di perairan tersebut.

Setibanya di Jawa Timur, perjalanan dilanjutkan melintasi sejumlah daerah, di antaranya Banyuwangi, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun, Ngawi, hingga Sragen. Di sejumlah titik, rombongan dijadwalkan singgah di vihara maupun tempat ibadah lintas agama sebagai simbol toleransi.

Di Surabaya, misalnya, para bhante akan mengunjungi Balai Kota serta Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya sebagai bagian dari pesan kerukunan antarumat beragama.

Memasuki Jawa Tengah, perjalanan akan berlanjut ke Solo, Klaten, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Kota Solo, rombongan akan mengikuti Kirab Waisak dan bermalam di vihara setempat, sebelum melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.

Di Yogyakarta, para bhante dijadwalkan bertemu dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, di Kompleks Kepatihan.

Memasuki hari-hari terakhir, rombongan akan bergerak menuju Muntilan, Kabupaten Magelang, sebelum akhirnya tiba di kawasan Borobudur. Penyambutan akan dilakukan di gerbang utama kawasan candi pada 28 Mei 2026.

Wawan menegaskan, misi utama kegiatan ini tetap konsisten seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni menyuarakan perdamaian dan memperkuat toleransi antarumat beragama di Indonesia. "Pesan yang kami bawa tetap sama, yaitu perdamaian dan toleransi," pungkasnya.

Editor: Santi

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.