JAKARTA (Lentera) - Bank Indonesia (BI) mengungkap ketidakpastian geopolitik global menjadi pemicu pelemahan nilai tukar rupiah yang bahkan mencapai Rp17.300 pada Kamis (23/4/2026).
Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Juli Budi Winantya, mengungkapkan pasar keuangan global saat ini tengah mengalami tekanan signifikan akibat ketidakpastian tersebut.
"Terjadi pergeseran aliran modal ke safe haven assets, sementara aliran modal ke emerging market semakin terbatas," ujar Juli dalam forum diskusi kelompok terarah (FGD) di Bandung, Jumat (24/4/2026), mengutip Kumparan, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), yang menjadi daya tarik utama bagi investor global.
Kenaikan yield tersebut, lanjut Juli, dipicu oleh proyeksi defisit fiskal AS yang semakin melebar. Salah satu faktor utamanya adalah peningkatan belanja negara untuk membiayai perang.
"Amerika Serikat akan mengeluarkan belanja yang lebih besar. Defisit fiskal meningkat, sehingga yield US Treasury, baik tenor 10 tahun maupun 2 tahun, terus naik," jelasnya.
Kondisi tersebut mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju pasar keuangan AS. Akibatnya, dolar AS terus menguat terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.
"Dampaknya, apresiasi dolar AS terus terjadi. Ini yang memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah," tambah Juli.
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sebelumnya menegaskan pelemahan rupiah tidak terjadi secara terisolasi. Mata uang di kawasan Asia juga mengalami tekanan serupa akibat sentimen global yang memburuk.
"Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional. Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan," ujar Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4/2026).
Secara kumulatif, nilai tukar rupiah tercatat melemah sebesar 3,54 persen secara year to date (ytd), mencerminkan tekanan yang cukup signifikan sejak awal tahun.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia memastikan terus melakukan langkah-langkah stabilisasi untuk menjaga kepercayaan pasar dan daya tarik aset domestik.
Langkah tersebut dilakukan melalui intervensi di berbagai lini pasar, baik di pasar offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF), maupun di pasar domestik melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Selain itu, BI juga aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna menjaga likuiditas dan stabilitas pasar keuangan.
"Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market," tegas Destry.
Di sisi fundamental, BI memastikan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang aman. Per akhir Maret 2026, cadangan devisa tercatat sebesar USD 148,2 miliar.
Editor: Santi





.jpg)
