24 April 2026

Get In Touch

Kisah Suster Yustina, Biarawati NTT yang Lulus dari Kampus Nahdlatul Ulama

Seorang biarawati, asal Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur bernama Suster (Sr) Yustina Klun Kolo menjadi salah satu wisudawan yang lulus dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Kamis (23/4/2026) (Humas Unusa)
Seorang biarawati, asal Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur bernama Suster (Sr) Yustina Klun Kolo menjadi salah satu wisudawan yang lulus dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Kamis (23/4/2026) (Humas Unusa)

SURABAYA (Lentera) -Seorang biarawati asal Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Suster (Sr) Yustina Klun Kolo menjadi salah satu wisudawan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Kamis (23/4/2026).

Dengan mengenakan busana biarawati yang dipadukan dengan jas wisuda hitam, Yustina maju ke podium dengan senyum bangga sebagai lulusan Program Studi D4 Analisis Kesehatan.

“Saya merasakan langsung suasana kampus yang inklusif dan penuh toleransi. Interaksi dengan dosen maupun teman-teman berlangsung sangat baik, tanpa membedakan latar belakang,” ungkap Yustina.

Belajar di Lingkungan Mayoritas Muslim

Sebagai mahasiswa yang hampir seluruhnya berlatar belakang Islam, Yustina mengaku tetap merasa diterima dengan baik meski ia penganut Katolik yang taat.

Ia menilai pengalaman tersebut justru memperkaya pemahaman tentang kehidupan sosial yang harmonis.

“Saya belajar memahami nilai-nilai keislaman yang moderat, sekaligus pentingnya hidup berdampingan secara harmonis. Dosen dan tenaga pendidikan bersikap adil, profesional, dan tidak membeda-bedakan mahasiswa,” kata dia.

Perbedaan Jadi Kekuatan

Anak keempat dari tujuh bersaudara ini menyebut keberagaman di lingkungan kampus bukan menjadi penghalang, melainkan kekuatan untuk mempererat persatuan.

“Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat persatuan. Perbedaan agama, ras, suku, dan budaya hendaknya menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghargai,” ujarnya, dikutip Kompas.

Perempuan kelahiran Dili, Timor Leste, pada 1994 ini tidak kembali ke kampung halamannya di NTT setelah lulus. Ia memilih mengabdikan diri sebagai tenaga kesehatan di Rumah Sakit Katolik (RSK) Budi Rahayu di Blitar, Jawa Timur (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.