26 April 2026

Get In Touch

Penampakan Bulan Tak Pernah Sama, Kenapa?

Penampakan Bulan Tak Pernah Sama, Kenapa?

SURABAYA ( LENTERA ) - Perbedaan sudut pandang membuat orientasi bulan dapat berubah cukup drastis, baik antarwilayah maupun sepanjang waktu.
Para ilmuwan mengungkapkan bahwa tampilan bulan tidak selalu sama jika diamati dari berbagai wilayah di Bumi. Perbedaan sudut pandang menyebabkan orientasi bulan dapat tampak berbeda, bahkan berubah cukup signifikan antara satu lokasi dengan lokasi lainnya maupun seiring waktu.
“Cara kita melihat bulan dan bintang sepenuhnya bergantung pada perspektif,” kata Pamela Gay, ilmuwan senior di Planetary Science Institute, dikutip dari Tempo.

Menurut para astronom, perbedaan sudut pandang tersebut tidak hanya menyebabkan tampilan bulan berbeda di setiap wilayah, tetapi juga membuatnya terlihat seolah berputar sejak terbit hingga terbenam di sejumlah daerah.

Sebagai ilustrasi, saat bulan purnama diamati dari Kutub Utara, kawah Tycho terlihat berada di bagian bawah permukaan bulan. Namun, jika dilihat dari Kutub Selatan, posisi kawah tersebut tampak berada di bagian atas.
Perbedaan orientasi ini juga terjadi di wilayah lintang menengah. Data dari Lunar and Planetary Institute mencatat bahwa posisi bulan di Wellington, Selandia Baru. 

Berbeda sekitar 97,1 derajat berlawanan arah jarum jam dibandingkan dengan yang terlihat dari Los Angeles. Variasi tersebut dipengaruhi oleh perbedaan garis lintang di masing-masing lokasi.

Secara sederhana, pengamat di Belahan Bumi Utara umumnya melihat pola “manusia di bulan” dalam posisi tegak. Sementara itu, di belahan selatan, pola yang sama dapat tampak berbeda dan menyerupai bentuk lain. 

“Bulan kini terlihat seperti kelinci yang melompat ke bawah,” ujar Gay menggambarkan perbedaan persepsi tersebut.
Meski demikian, pada dasarnya seluruh wilayah di Bumi mengamati sisi bulan yang sama. Hal ini disebabkan bulan berputar pada porosnya dengan durasi yang sama seperti waktu yang dibutuhkan untuk mengelilingi Bumi, sebuah fenomena yang dikenal sebagai rotasi sinkron.

Perbedaan juga terlihat pada fase bulan antara Belahan Bumi Utara dan Selatan. Di belahan utara, perubahan fase tampak bergerak dari kanan ke kiri, sedangkan di belahan selatan berlangsung sebaliknya.

“Hal ini dipengaruhi oleh susunan bidang cakrawala lokal terhadap posisi Bumi, bulan, dan Matahari,” ujar Catherine Miller, spesialis observatorium di Mittelman Observatory, Middlebury College.

Sementara itu, di wilayah ekuator terjadi fenomena yang lebih khas. Saat bulan terbit, bentuknya tampak berkembang secara vertikal menuju fase purnama, sehingga fase sabit kerap terlihat menyerupai perahu.

Selain itu, di berbagai wilayah, orientasi bulan juga dapat terlihat berubah sepanjang malam. Di daerah ekuator, perubahan ini bahkan bisa mencapai sekitar 180 derajat. “Wajah bulan dapat tampak berputar hingga sekitar 180 derajat dalam satu malam,” ujar Miller.

Namun, fenomena tersebut bukan disebabkan oleh bulan yang benar-benar berputar, melainkan akibat perubahan posisi pengamat saat mengikuti pergerakan bulan di langit. “Semuanya bergantung pada bagaimana bulan bergerak mengikuti lintasan lengkungnya,” kata Gay.

Fenomena “perputaran” ini cenderung berkurang di wilayah lintang tinggi karena bulan tidak melintasi titik tepat di atas kepala (zenit). 
Akibatnya, pengamat tidak perlu mengubah posisi secara penuh untuk mengikuti pergerakannya. Dengan demikian, perbedaan tampilan bulan di berbagai belahan Bumi pada dasarnya dipengaruhi oleh perubahan sudut pandang pengamat sesuai dengan letak geografis masing-masing. (Ella Alfatika-mahasiswa UINSA, berkontribusi dalam tulisan ini)
 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.