23 April 2026

Get In Touch

UTBK Disabilitas di Unesa, Peserta Tuna Netra Gunakan Sistem Audio

Salah satu peserta disabilitas mengikuti UTBK di Unesa. (Amanah/Lentera)
Salah satu peserta disabilitas mengikuti UTBK di Unesa. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera) – Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) - Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 hari ketiga di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berjalan lancar, termasuk bagi peserta penyandang disabilitas. 

Hingga, Kamis (23/4/2026) hari ini , tercatat lima peserta disabilitas mengikuti ujian di kampus tersebut dengan fasilitas dan pendampingan khusus.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof. Dr. Martadi, M.Sn mengatakan dari total peserta disabilitas, satu orang merupakan tuna rungu yang telah mengikuti ujian pada hari kedua.

Sementara itu, empat peserta lainnya yang mengikuti ujian hari ini merupakan penyandang tuna netra total.

“Untuk peserta tuna netra, semuanya ditempatkan dalam satu ruangan dan masing-masing didampingi satu orang pendamping. Sistem ujian menggunakan audio, sehingga soal disampaikan dalam bentuk suara,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).

Dijelaskannya, para pendamping tidak terlibat dalam isi soal maupun jawaban peserta. Pendamping hanya membantu jika terjadi kendala teknis, seperti kesalahan klik atau gangguan perangkat. Bahkan, layar komputer yang digunakan peserta tidak menampilkan teks soal, melainkan hanya audio yang langsung diterima melalui headset masing-masing peserta.

“Potensi intervensi dari pendamping sangat kecil, karena mereka tidak bisa melihat atau mengakses soal. Semua berbasis suara yang hanya didengar oleh peserta,” jelasnya.

Dari sisi substansi ujian, Martadi memastikan tidak ada perbedaan antara peserta umum dan peserta disabilitas. Jumlah soal, waktu pengerjaan, serta tingkat kesulitan tetap sama. Perbedaan hanya terletak pada metode penyampaian soal yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta.

“Waktunya sama, jumlah soal sama. Hanya kemasan soal yang berbeda, khususnya untuk tuna netra menggunakan audio,” tambahnya.

Berdasarkan data panitia, keempat peserta tuna netra yang mengikuti ujian hari ini seluruhnya mendaftar ke Unesa dengan pilihan program studi beragam, mulai dari Hukum, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, hingga Pendidikan Luar Sekolah. Sementara peserta tuna rungu pada sesi sebelumnya diketahui mendaftar ke Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Salah satu peserta tuna netra asal Sidoarjo, Vera mengaku tidak mengalami kendala berarti selama mengikuti UTBK. Ia menyebut perangkat komputer berjalan lancar dan sistem audio sangat membantu dalam memahami soal.

“Kendalanya sedikit di hitung-hitungan matematika, tapi sudah disediakan alat tulis Braille seperti reglet dan stylus, jadi tetap bisa menghitung,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, telah mempersiapkan diri selama enam bulan dengan mengikuti berbagai try out online yang menggunakan sistem audio serupa.

“Latihannya lebih banyak mendengarkan soal, jadi sudah terbiasa,” tutupnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.