SURABAYA (Lentera) - Tantangan perempuan di era digital kini bukan lagi soal akses, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan antara peran publik, keluarga, dan tekanan sosial seperti fenomena fear of missing out (FOMO).
Di tengah perubahan tersebut, peran ibu menjadi semakin krusial sebagai penentu arah keluarga sekaligus benteng dalam menghadapi derasnya arus informasi.
"Perjuangan Kartini hari ini bukan lagi soal membuka akses, tetapi bagaimana memanfaatkan peluang tanpa mengabaikan peran di dalam keluarga," kata Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, Senin (20/4/2026).
Rini memaknai peringatan Hari Kartini sebagai momentum refleksi atas transformasi peran perempuan. Jika dahulu perjuangan identik dengan membuka akses pendidikan dan kesetaraan, kini tantangan bergeser menjadi lebih kompleks, yakni bagaimana tetap adaptif tanpa kehilangan jati diri.
Menurutnya, perempuan masa kini hidup dalam kelimpahan peluang. Akses pendidikan semakin luas dan ruang berkarya terbuka lebar. Namun, kondisi tersebut juga menuntut kemampuan mengelola peran ganda secara seimbang.
"Keseimbangan menjadi kunci agar perempuan tetap bisa berkembang sekaligus menjalankan peran domestik yang strategis," imbuhnya.
Ia menilai, tantangan semakin kompleks di era digital, di mana ruang tumbuh anak tidak lagi terbatas pada lingkungan fisik, tetapi juga dunia maya. Dalam kondisi ini, orangtua khususnya ibu, dituntut tidak hanya mengawasi, tetapi juga terlibat aktif memahami keseharian anak.
"Orang tua harus memahami apa yang diakses anak melalui gawai. Teknologi bisa membawa manfaat besar, tapi juga berisiko jika tidak diarahkan," jelasnya.
Rini juga menuturkan teknologi memiliki dua sisi, sebagai peluang sekaligus ancaman. Karena itu, peran ibu bukan membatasi, melainkan mengarahkan agar pemanfaatannya tetap positif dan produktif.
Perubahan karakter generasi juga menjadi perhatian. Ia menyebut generasi saat ini cenderung lebih terbuka dan ekspresif, sehingga membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda.
"Ibu harus bisa menjadi teman bagi anak. Pola komunikasi satu arah sudah tidak relevan, anak perlu didengar, bukan hanya diatur," katanya.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya batasan dalam pengasuhan. Pola tarik ulur antara kebebasan dan kontrol dinilai menjadi strategi efektif dalam membentuk karakter anak.
Selain itu, fenomena FOMO juga menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Tekanan untuk selalu mengikuti tren berpotensi membuat anak kehilangan jati diri.
"Setiap anak memiliki potensi berbeda. Jangan memaksakan diri mengikuti orang lain, karena keunggulan justru muncul saat seseorang mengenali dirinya sendiri," tegasnya.
Di sisi lain, isu kesehatan perempuan, baik fisik maupun mental, juga menjadi perhatian utama. Menurutnya, kondisi psikologis ibu sangat berpengaruh terhadap kualitas pengasuhan dan keharmonisan keluarga.
"Ibu adalah penopang keluarga. Jika ibu sehat dan bahagia, keluarga juga akan ikut sehat," ujarnya.
Lebih jauh, ia menekankan peran ibu merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter dan masa depan anak.
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, sinergi antara Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan TP PKK Surabaya terus diperkuat melalui berbagai program.
Edukasi pengasuhan anak usia dini dilakukan melalui Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH), sementara pendampingan bagi orang tua dengan anak remaja diperkuat lewat program Kemangi (Kelas Remaja, Orang Tua Tangguh, Kreatif, dan Mandiri).
Program-program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan perempuan agar tetap adaptif di tengah perubahan zaman.
Pada akhirnya, Rini Indriyani menilai Kartini masa kini adalah perempuan yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri memiliki literasi teknologi, ketahanan mental, dan empati sosial.
"Tiga hal itu penting, kemampuan teknologi, kekuatan mental, dan empati. Dengan itu, perempuan tidak hanya melanjutkan perjuangan Kartini, tetapi juga menciptakan masa depan," pungkasnya.
Reporter: Amanah/Editor: Santi





.jpg)
