21 April 2026

Get In Touch

Dosen Unair: Populasi Ikan Sapu-sapu Meledak Akibat Pencemaran

Ilustrasi ikan sapu-sapu di sungai. (ChatGPT)
Ilustrasi ikan sapu-sapu di sungai. (ChatGPT)

SURABAYA (Lentera) - Meledaknya populasi ikan sapu-sapu di sejumlah sungai perkotaan menjadi sinyal kuat memburuknya kualitas lingkungan perairan. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan tingginya tingkat pencemaran, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan ekosistem ikan lokal.

Menanggapi hal itu, Dosen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (Unair), Dr. Veryl Hasan, SPi., MP., menjelaskan dominasi ikan sapu-sapu umumnya terjadi di perairan dengan kondisi yang telah tercemar berat, seperti yang banyak ditemukan di wilayah perkotaan termasuk Jakarta.

"Ketika sungai tercemar berat, ikan lokal mati, sementara sapu-sapu tetap bertahan dan berkembang pesat. Itu yang membuat populasinya terlihat meledak," ujarnya, Senin (20/4/2026).

Menurutnya, ikan sapu-sapu memiliki daya tahan tinggi terhadap lingkungan ekstrem, sehingga mampu bertahan ketika spesies ikan lain tidak sanggup hidup.

Veryl menjelaskan, ikan sapu-sapu merupakan spesies asli Amerika Selatan yang awalnya didatangkan sebagai ikan hias. Di habitat aslinya, ikan ini tergolong biasa dan bahkan dapat dikonsumsi. Namun, ketika masuk ke perairan Indonesia tanpa pengendalian, spesies ini berubah menjadi ancaman karena tidak memiliki predator alami.

Selain itu, ikan sapu-sapu dikenal sebagai predator oportunis yang memanfaatkan hampir seluruh sumber daya yang tersedia di perairan, mulai dari tumbuhan hingga organisme kecil. Kondisi ini membuat ikan lokal semakin terdesak dalam persaingan mendapatkan makanan dan ruang hidup.

"Di luar habitat aslinya, sapu-sapu bisa menggeser populasi ikan lokal karena minimnya predator yang mengontrol jumlahnya," jelasnya.

Ia menambahkan, pada ekosistem yang masih sehat, dominasi ikan sapu-sapu cenderung tidak terjadi karena adanya keseimbangan alami antarspesies.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Veryl menekankan pentingnya penegakan regulasi terkait larangan pelepasan ikan asing ke perairan umum. Ia menilai, aturan yang ada harus diiringi dengan pengawasan ketat serta tindakan nyata di lapangan.

Selain itu, upaya pemulihan kualitas air sungai juga menjadi langkah krusial. Dengan kondisi lingkungan yang membaik, ikan lokal memiliki peluang untuk kembali berkembang dan menjaga keseimbangan ekosistem.

"Solusinya bukan hanya menangkap ikan sapu-sapu, tetapi juga memperbaiki habitat sungainya agar ekosistem bisa pulih," tuturnya.

Sebagai langkah tambahan, ia menyarankan penangkapan ikan sapu-sapu secara manual untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku tepung ikan, khususnya untuk pakan ikan hias. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melepas ikan eksotik ke alam bebas.

"Jika tidak mampu merawat ikan, sebaiknya diserahkan kepada penghobi yang bertanggung jawab atau dimusnahkan dengan benar, bukan dilepas ke sungai," pungkasnya.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.