MALANG (Lentera) - Dosen Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (UB), Rosalina Ariesta Laeliocattleya, menyulap limbah rambut jagung menjadi sunscreen yang ramah pada kulit anak-anak.
"Sebenarnya untuk rambut jagung sendiri kami gunakan karena kami ingin memanfaatkan sesuatu yang awalnya tidak ada nilai fungsi, tetapi akhirnya memiliki nilai guna dan manfaat," ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Menurut perempuan yang akrab dengan sapaan Ocha ini, ide tersebut muncul saat tim peneliti mencari bahan baku alami yang tidak dilirik, namun tersedia melimpah di Indonesia. Rambut jagung menjadi salah satu pilihan karena selama ini hanya dianggap sebagai limbah pertanian.
Berangkat dari temuan awal tersebut, tim kemudian melakukan kajian literatur dan riset lanjutan. Hasilnya menunjukkan, rambut jagung memiliki sejumlah potensi, meskipun penelitian terkait bahan ini masih tergolong terbatas.
Penelitian pun berlanjut dengan mengkaji karakteristik rambut jagung di Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan pengembangan produk kosmetik.
Di tengah tren meningkatnya kebutuhan perawatan kulit, terutama sunscreen bagi anak-anak, bahan alami dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan.
Menariknya, penemuan ini berawal dari proses sederhana saat tim memisahkan bagian tongkol dan rambut jagung. Dari situ, mereka menemukan bahwa rambut jagung memiliki pigmen warna tertentu yang menjadi kunci dalam perlindungan terhadap sinar ultraviolet (UV).
"Ketika kami melakukan pemisahan, ternyata rambut jagung ini memiliki warna. Itu yang menjadi dasar kami untuk menggunakannya," kata Ocha.
Dijelaskannya, pigmen tersebut diduga berperan dalam menangkal paparan sinar UV. Dalam konsep perlindungan kulit, bahan yang memiliki pigmen tertentu berpotensi menyerap atau menghambat radiasi UV.
Berdasarkan berbagai metode penelitian yang dilakukan, rambut jagung terbukti memiliki potensi fotoprotektif (phototropic) yang cukup tinggi. Hal ini menjadikannya kandidat kuat sebagai bahan aktif dalam produk sunscreen.
Hasil riset tersebut tidak hanya berhenti di laboratorium. Ocha menyebut, inovasi ini telah memasuki tahap perlindungan hak kekayaan intelektual dan saat ini tengah diproses sebagai paten melalui jalur resmi di lingkungan universitas.
Lebih lanjut, produk sunscreen di bawah merk dagang BOUMI ini juga telah memasuki tahap produksi massal. Dalam pengembangannya, tim peneliti bekerja sama dengan PT Cedefindo yang merupakan bagian dari Martha Tilaar Group.
"Untuk produksi massal, kami bekerja sama dengan PT Cedefindo," ungkapnya.
Dari sisi kualitas, sunscreen ini diklaim memiliki tingkat perlindungan tinggi dengan SPF 50 dan PA++++, yang menunjukkan perlindungan optimal terhadap sinar UVA dan UVB.
Ocha berharap inovasi ini dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian. Tidak hanya sebagai pengekspor bahan mentah, tetapi juga sebagai produsen bahan aktif bernilai tinggi untuk industri kosmetik, pangan, hingga kesehatan.
"Inilah peluang bagi masyarakat Indonesia. Kita bisa mengembangkan bahan mentah menjadi bahan aktif yang bernilai ekonomi lebih tinggi," pungkasnya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Santi





.jpg)
