03 April 2026

Get In Touch

Marak Kasus di AS, Kemenkes: Varian Baru Covid-19 Belum Terdeteksi di RI

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman. (foto:Ditjen KPM)
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman. (foto:Ditjen KPM)

JAKARTA (Lentera) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan varian baru Covid-19 bernama 'Cicada' yang dilaporkan marak di Amerika Serikat (AS) hingga kini belum terdeteksi di Indonesia.

"Sampai saat ini belum ditemukan varian Cicada di Indonesia. Varian yang dominan saat ini adalah XFG sebesar 57 persen, LF.7 sebesar 29 persen, dan XFG 3.4.3 sebesar 14 persen dengan risiko rendah," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman,  dalam keterangan resminya, melansir Bloomberg, Kamis (2/4/2026).

Meski varian baru tersebut tengah menjadi perhatian global, Kemenkes memastikan belum ada kebijakan pengetatan di pintu masuk negara. Hal ini didasarkan pada situasi epidemiologis yang dinilai masih aman dan terkendali.

"Karena situasi masih terkendali dan berisiko rendah, tidak ada tindakan khusus berupa pengetatan di pintu masuk negara," jelasnya.

Namun demikian, pemerintah tetap memperkuat sistem kewaspadaan melalui berbagai langkah pengawasan. Mulai dari surveilans aktif, pelaporan rutin dari fasilitas kesehatan, hingga pengujian sampel di laboratorium terus dilakukan guna mendeteksi potensi masuknya varian baru.

"Penguatan surveilans, pelaporan rutin dari lapangan, pengujian sampel di laboratorium, serta komunikasi risiko tetap kami jalankan," imbuh Aji.

Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk tidak lengah dan tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam aktivitas sehari-hari. Langkah pencegahan dasar dinilai masih menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko penularan.

"Masyarakat agar membiasakan penerapan PHBS, seperti rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, serta menggunakan masker saat sakit atau berada di keramaian," tambahnya.

Sebagai informasi, varian 'Cicada' merupakan turunan dari Omicron BA.3 yang telah ditetapkan sebagai Varian Under Monitoring (VUM) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 5 Desember 2025.

Meski masuk dalam kategori pemantauan, hingga kini belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan varian tersebut menyebabkan peningkatan keparahan penyakit, angka rawat inap, maupun kematian.

"Varian tersebut belum menunjukkan peningkatan sirkulasi, dan tidak ada data yang mengindikasikan peningkatan keparahan, hospitalisasi, maupun kematian," pungkas Aji.

Editor:Santi

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.