30 March 2026

Get In Touch

Dokter Muda Meninggal karena Campak, Ini Penyebab Dewasa Bisa Tertular

Ilustrasi campak. 10 negara teratas dengan wabah campak di dunia (Freepik)
Ilustrasi campak. 10 negara teratas dengan wabah campak di dunia (Freepik)

SURABAYA (Lentera) -Kasus meninggalnya seorang dokter muda akibat campak membuka kembali perhatian publik terhadap penyakit yang selama ini identik dengan anak-anak. 

Seorang dokter berinisial AMW (26) meninggal dunia akibat campak saat menjalani masa internship di RSUD Cimacan, Cianjur, Jawa Barat, pada Kamis (26/3/2026). 

Sebelum meninggal, ia mengalami gejala berupa demam, ruam merah pada kulit, hingga sesak napas berat.

Lantas, mengapa orang dewasa masih bisa terinfeksi campak?

Penyebab orang dewasa bisa terkena campak

Epidemiolog dari Universitas Griffith, dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH, menjelaskan bahwa penyebab utama campak, baik pada anak maupun dewasa, tetap berasal dari virus yang sama. Kronologi Tindakan Asusila Penyebab Ketua KPU Hasyim Asy’ari Diberhentikan Artikel Kompas.id

“Tentu penyebabnya sama dari infeksi virus measles. Tapi ada beberapa faktor kunci yang menjadi kerentanan,” kata dr. Dicky saat dihubungi.

Meski virusnya sama, kondisi tubuh dan riwayat imunisasi seseorang dapat memengaruhi tingkat kerentanan terhadap infeksi tersebut.

1. Tidak memiliki kekebalan spesifik

Salah satu faktor utama yang membuat orang dewasa bisa terkena campak adalah tidak adanya kekebalan spesifik terhadap virus.

“Pertama, orang dewasa ini tidak memiliki kekebalan spesifik atau dia tidak pernah divaksin campak khususnya dan tidak pernah juga terinfeksi sebelumnya,” jelasnya.

Tanpa vaksinasi atau riwayat infeksi sebelumnya, tubuh tidak memiliki memori imun untuk melawan virus campak. Hal ini membuat seseorang lebih mudah terinfeksi ketika terpapar virus. Baca juga: Waspadai Penularan, Dokter di Cianjur Meninggal karena Campak

2. Penurunan kekebalan seiring waktu

Selain itu, faktor lain yang turut berperan adalah menurunnya kekebalan tubuh terhadap campak seiring waktu, terutama pada individu yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap.

“Lalu, ada waning immunity atau penurunan kekebalan. Hal ini bisa terjadi pada sebagian individu, khususnya kalau baru diberi satu dosis dulunya,” ungkap dr. Dicky, dikutip Kompas, Minggu (29/3/2026).

Kondisi ini menunjukkan bahwa perlindungan dari vaksin dapat berkurang jika tidak dilengkapi dengan dosis yang sesuai, sehingga risiko infeksi tetap ada di kemudian hari. 

3. Faktor risiko kesehatan dan gaya hidup

Kerentanan terhadap campak pada orang dewasa juga dipengaruhi oleh kondisi kesehatan dan gaya hidup.

“Kemudian, faktor risiko dewasa yang mungkin punya komorbid, diabetes, penyakit paru, malnutrisi, dan lain sebagainya,” lanjutnya. Penyakit penyerta atau kondisi kesehatan tertentu dapat melemahkan sistem imun, sehingga tubuh lebih sulit melawan infeksi.

Selain itu, faktor gaya hidup juga tidak bisa diabaikan. Aktivitas yang padat dan tekanan sehari-hari dapat berdampak pada daya tahan tubuh.

“Bisa juga karena stres, kelelahan, mobilitas tinggi yang membuatnya berisiko. Imunitas lebih kuat itu tidak relevan jika tidak ada memori imun spesifik terhadap virus campak,” jelas dr. Dicky.

Meskipun seseorang merasa sehat atau memiliki daya tahan tubuh yang baik, hal tersebut tidak cukup untuk melindungi dari campak jika tidak memiliki kekebalan spesifik terhadap virus.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa campak bukan hanya penyakit anak-anak. Orang dewasa yang tidak memiliki perlindungan imun yang memadai tetap berisiko terinfeksi, terutama jika berada di lingkungan dengan paparan virus yang tinggi (*)

Editor: Arifin BH

 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.