30 March 2026

Get In Touch

Dokter Muda Meninggal Suspek Campak

Ilustrasi vaksin (Freepik)
Ilustrasi vaksin (Freepik)

CIANJUR (Lentera) -Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mempercepat pelaksanaan vaksinasi measles-rubella (MR) bagi seluruh tenaga kesehatan (nakes).

Langkah ini diambil menyusul meninggalnya AMW (26), seorang dokter internship yang diduga sebagai suspek campak. Direktur RSUD Pagelaran, Irvan Nur Fauzy, menyatakan pihaknya telah merampungkan pendataan status imunisasi seluruh pegawai dan tenaga medis untuk mengidentifikasi kebutuhan vaksinasi tambahan.

“Semua sudah didata, baik yang sudah maupun yang belum, sehingga hal ini segera akan kami tindak lanjuti. Meski sebenarnya vaksinasi ini sudah berjalan secara simultan,” ujar Irvan.

Hasil Tracing Kontak Erat

Selain imunisasi massal, RSUD Pagelaran bersama Kementerian Kesehatan RI telah melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE). Tim melakukan penelusuran kontak erat serta memeriksa kondisi kesehatan seluruh karyawan rumah sakit.

Berdasarkan pengecekan di seluruh instalasi, Irvan memastikan belum ditemukan adanya nakes atau karyawan yang menunjukkan gejala menyerupai campak. Dua rekan sejawat almarhum yang juga dokter internship telah diperiksa dan dinyatakan sehat. Kemendikdasmen Fokus Pemulihan Korban Ledakan di SMAN 72 Jakarta  Artikel Kompas.id

“Selama tidak ada gejala, tidak masalah untuk kembali bertugas. Namun, kami meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk mengkaji standar operasional untuk menjamin keselamatan pegawai,” tutur Irvan, mengutip Kompas, Minggu (29/3/2026).

Menunggu Rilis Resmi Kemenkes

Hingga saat ini, status medis AMW masih dinyatakan sebagai suspek campak. Manajemen rumah sakit dan Dinas Kesehatan masih menunggu rilis resmi hasil pemeriksaan laboratorium dari Kementerian Kesehatan dalam beberapa hari ke depan.

Irvan Nur Fauzy menyebutkan, AMW tengah menjalani program internship setelah sebelumnya menuntaskan program serupa selama enam bulan di Puskesmas Sukanagara Cianjur.

Irvan mengungkapkan, sebelum meninggal dunia, AMW sempat mengajukan izin tidak masuk kerja kepada pendampingnya karena mengeluhkan sakit.

“Pada Sabtu (21/3/2026), itu almarhum masih tugas jaga di rumah sakit, dan keesokan harinya izin istirahat karena sakit yang kemudian disetujui pendampingnya selama sepekan,” ujar Irvan.

Sejak saat itu, Irvan mengaku tidak mengetahui perkembangan kondisi kesehatan AMW, dan saat mengajukan izin istirahat kepada pendampingnya, AMW hanya menyampaikan tidak enak badan tanpa merinci gejalanya.

“Almarhum sosok yang sangat antusias, berdedikasi, dan memiliki inisiatif baik. Almarhum kerap mendapat apresiasi dari para dokter karena sigap membantu tugas-tugas medis,” kenang Irvan.

Sebelum meninggal dunia, AMW sempat menjalani perawatan intensif akibat komplikasi pneumonia. Kemenkes menyebutkan almarhum mengalami gejala klinis berupa demam, ruam merah, dan sesak napas berat sebelum kondisinya memburuk (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.