JAKARTA (Lentera)- Pasar keuangan mengawali perdagangan Senin (23/3/2026) dengan volatilitas tinggi. Bursa saham Asia ambles, sementara kontrak berjangka (futures) ekuitas Amerika Serikat (AS) dan harga minyak mentah mengalami fluktuasi tajam. Ini merupakan dampak perang di Iran yang memasuki minggu keempat tanpa sinyal de-eskalasi.
Indeks MSCI Asia Pasifik merosot 1,2%, dengan bursa Jepang anjlok hingga 3% setelah kembali beroperasi pasca-libur Jumat lalu. Indeks Kospi Korea Selatan juga terpangkas lebih dari 4%, sementara saham-saham Australia melemah hingga 2%, mendekati zona koreksi.
Harga minyak mentah menunjukkan pergerakan tajam; sempat melonjak 1,9% di awal perdagangan sebelum berbalik arah dan jatuh hampir 1,8% ke kisaran US$112 per barel. Situasi serupa terjadi pada futures S&P 500 yang bergerak fluktuatif sebelum akhirnya turun 0,4%. Di pasar obligasi, surat utang pemerintah Australia tenor 10 tahun memperpanjang pelemahan dengan imbal hasil (yield) melonjak 13 basis poin.
Ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Donald Trump telah mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listrik mereka—tenggat waktu yang akan berakhir pada Senin malam waktu New York. Iran merespons dengan mengancam akan menutup jalur pelayaran tersebut secara permanen dan menargetkan infrastruktur energi AS serta Israel di seluruh kawasan.
"Menarik diri dari perang ini bukan keputusan Trump semata," ujar Matt Maley, kepala strategi pasar di Miller Tabak. "Ketidakpastian telah meningkat selama tiga minggu dan kini melonjak drastis. Bahkan jika orang tidak menjual, mereka tidak akan membeli, dan jika tidak ada penawaran beli, maka akan tercipta kekosongan pasar."
Pasar global telah porak-poranda akibat perang AS-Iran. Pekan lalu, saham dan obligasi mengalami aksi jual serentak. Yield Treasury AS kini berada di level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir setelah tiga minggu berturut-turut mengalami kerugian obligasi.
Pasar global terpukul oleh perang AS-Iran, yang memicu aksi jual serentak pada saham dan obligasi pekan lalu. Imbal hasil obligasi AS kini berada di level tertinggi dalam beberapa bulan setelah tiga pekan berturut-turut mengalami penurunan harga. Obligasi tenor pendek memimpin pelemahan, dengan imbal hasil Treasury dua tahun naik 18 basis poin menjadi 3,90%, mengikuti tekanan di pasar obligasi Eropa seiring investor mengantisipasi kenaikan suku bunga.
Aksi jual di pasar AS meningkat pada Jumat ketika pelaku pasar mulai memperkirakan bahwa Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dapat kembali menaikkan suku bunga tahun ini, seiring lonjakan harga minyak yang berpotensi memicu tekanan inflasi baru. Pasar juga mengantisipasi langkah serupa dari bank sentral di Jepang, Eropa, dan Inggris, meski perang turut menekan prospek pertumbuhan ekonomi global.
Kebuntuan di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, semakin memperdalam krisis pasokan yang telah berdampak pada harga bahan bakar, biaya pupuk, dan produksi pangan. Lalu lintas di selat tersebut praktis terhenti sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Setelah penutupan pasar pada Jumat, Trump sempat mengindikasikan keinginan untuk meredakan konflik melalui unggahan di media sosial dengan menyatakan bahwa ia mempertimbangkan untuk mengurangi operasi militer di Iran dan mengklaim AS “sangat dekat” mencapai tujuannya. Namun, ancaman lanjutan untuk menyerang pembangkit listrik, serta janji balasan dari Iran, menunjukkan minimnya kemajuan menuju gencatan senjata.
“Ini awal yang relatif lunak untuk aset berisiko, namun mungkin cukup terkendali mengingat ultimatum yang membayangi pasar,” kata kepala riset Pepperstone Group di Melbourne, Chris Weston.
Risiko ganda berupa kenaikan inflasi dan potensi perlambatan pertumbuhan mendorong indeks S&P 500 turun 1,5% pada Jumat, menandai penurunan selama empat pekan berturut-turut, terpanjang dalam setahun. Imbal hasil obligasi acuan 10 tahun AS melonjak 13 basis poin menjadi 4,38%, tertinggi sejak akhir Juli.
Indeks S&P 500 kini berada “jauh di bawah” rata-rata pergerakan 200 hari dan menguji level terendah kuartal keempat di 6.521, kata kepala teknisi pasar BTIG, Jonathan Krinsky, dalam catatan pada Minggu.
“Secara anekdot, kami masih melihat pelaku pasar lebih khawatir kehilangan reli akibat de-eskalasi dibandingkan risiko penurunan yang signifikan,” tulisnya. “Kami masih melihat risiko penurunan lebih besar dibanding potensi kenaikan.”
Editor:Widyawati/blo,ist





.jpg)
