19 March 2026

Get In Touch

Muhammadiyah Bali Keluarkan Maklumat Takbiran di Rumah saat Nyepi

Gubernur Bali Wayan Koster sampaikan keputusan organisasi keagamaan terkait potensi Hari Raya Nyepi bersamaan malam takbiran, Denpasar, Senin 16/3/2026. (foto:ist/Ant)
Gubernur Bali Wayan Koster sampaikan keputusan organisasi keagamaan terkait potensi Hari Raya Nyepi bersamaan malam takbiran, Denpasar, Senin 16/3/2026. (foto:ist/Ant)

DENPASAR (Lentera) - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali mengeluarkan maklumat yang mengimbau, agar warga Muhammadiyah di Bali menjalankan takbiran menjelang Idul Fitri di rumah masing-masing karena bertepatan dengan Hari Raya Nyepi.

“Ini juga arahan dari pusat, karena kalau tidak memungkinkan takbiran, kami diimbau melaksanakan takbiran di rumah masing-masing, sehingga kami mengeluarkan maklumat agar takbiran di rumah,” kata Ketua PWM Bali, Husnul Fahmi saat di konfirmasi di Denpasar mengutip Antara, Rabu (18/3/2026).

Fahmi menuturkan, sebenarnya hasil pertemuan bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali dan Gubernur Bali memutuskan bahwa umat Islam, khususnya Muhammadiyah diperkenankan melakukan takbiran di masjid pada Kamis, 19 Maret 2026.

Dengan cacatan, takbiran hanya boleh dilakukan di masjid atau mushalla terdekat, ditempuh dengan berjalan kaki, tanpa pengeras suara, dan penerangan yang sangat sedikit.

Namun, demi menjaga toleransi dan kerukunan di Bali, keputusan takbiran di rumah masing-masing dipilih dan mendapat respons positif dari warga Muhammadiyah.

“Sudah kami sampaikan ke umat, bagikan ke media sosial juga maklumat itu, satu minggu lalu dan diterima masyarakat bahwa pelaksanaan takbiran di rumah, dan dua hari lalu kami bertemu Pak Gubernur Bali kami sampaikan kesepakatan itu,” ujar Fahmi.

PWM Bali melalui maklumatnya berharap seluruh warga Muhammadiyah menjalankan imbauan ini, namun di beberapa kabupaten memiliki kebijakan masing-masing, seperti di Jembrana dan Buleleng yang memang memperkenankan, sehingga diimbau agar tetap jalan sesuai aturan.

Di Bali, warga Muhammadiyah biasanya merayakan malam menjelang Idul Fitri tidak dengan takbir keliling maupun konvoi kendaraan.

Mereka cenderung merayakan kemenangan setelah puasa Ramadhan dengan takbiran di masjid atau mushalla, namun tambahannya hanya dengan pengeras suara.

Fahmi menyampaikan, langkah mengimbau takbiran di rumah masing-masing ini bukan persoalan, sebab di Bali hubungan baik umat Muslim khususnya Muhammadiyah dengan umat Hindu sudah terjalin sejak lama.

Kerap kali kegiatan umat Muslim dibantu, seperti ketika pelaksanaan tarawih yang dijaga pecalang dan sempat terjadi shalat Jumat bertepatan dengan Nyepi, sehingga umat diantar menuju mushalla atau masjid.

“Memang belum pernah sedekat ini Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri atau bertepatan malam takbiran, tapi sebelumnya pernah Jumatan dan kami tetap bisa shalat, bahkan diantar, jadi kami sudah sangat terjaga kerukunannya,” paparnya.

Bahkan, persiapan PWM Bali di lokasi-lokasi shalat Ied yang disiapkan hari ini, juga akan dibantu dijaga selama 24 jam oleh pecalang desa adat setempat.

“Kami persiapan shalat Ied di Renon hari ini, seperti menyiapkan podium dan lainnya itu melibatkan pecalang, pecalang juga menjaga nanti malam sampai besok malam menjelang Idul Fitri, dan kami ada dua lokasi lainnya, yaitu di Jalan Batanta dan Gedung PWM Bali,” ungkapnya.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.