18 March 2026

Get In Touch

Menabung Ketahanan Pangan Melalui Inovasi Lintas Generasi (2- Habis): Tuah Limbah Nanas Racikan Petani Senior Nganjuk 

Darianto, petani Warga Desa Patihan, Kecamatan Loceret, Nganjuk menunjukkan hasil panen padi yang diberi Pupuk Organik Cair (POC) Kulit Nanas.(Lentera/Widya)
Darianto, petani Warga Desa Patihan, Kecamatan Loceret, Nganjuk menunjukkan hasil panen padi yang diberi Pupuk Organik Cair (POC) Kulit Nanas.(Lentera/Widya)

NGANJUK (Lentera)-JIKA Ahmad Lafillian Romadhi di Jombang mengembangkan pertanian modern dengan menggunakan sensor smartphone, seorang petani senior bernama Darianto (54) di Nganjuk melakukan perubahan dengan cara yang berbeda. 

Warga Desa Patihan, Kecamatan Loceret, ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berasal dari laboratorium yang canggih, melainkan dari ketajaman perasaan dan rasa tanggung jawab terhadap tanah yang mulai terganggu.

Titik perubahan bagi Darianto dimulai di awal tahun ketika ia melihat kondisi tanah sawahnya kritis.

Bentuk tanah terasa keras, padat, dan seolah kehilangan tenaga karena ketergantungan yang lama pada pupuk kimia. Di sisi lain, biaya produksi terus meningkat, namun hasil panen tetap stagnan.

Solusi atas kritis tersebut justru ditemukan oleh Darianto dari tumpukan sampah di Pasar Berbek. Ia melihat gunungan kulit nanas yang membusuk. Bukan limbah, melainkan sebagai sumber nutrisi yang terbuang.

"Saya tahu kulit nanas memiliki gula, enzim, dan vitamin. Sayang sekali jika hanya jadi sampah," kenang Darianto.

Ia membuat Pupuk Organik Cair (POC) Kulit Nanas secara sederhana. Limbah tersebut difermentasi bersama air kelapa, air cucian beras, dan gula merah selama 14 hari. 

Hasilnya adalah cairan kaya akan enzim amilase, protease, hingga hormon alami seperti auksin dan sitokinin.

Menurut Darianto, inilah 'teknologi' masa depan. Tidak hanya murah, tetapi juga mudah.

Meski profilnya adalah petani 'jadul' (Jaman Dulu, Red), cara kerja Darianto sangat modern.

Dalam hal pencatatan dan observasi, ia menerapkan prinsip teliti, telaten, open, tur kopen. Sebuah filosofi kerja yang menuntut kecermatan data di lapangan.

Darianto, menunjukkan Pupuk Organik Cair (POC) Kulit Nanas yang telah dikemas dan bisa dibeli petani lain. (Lentera/Widya)
Darianto, menunjukkan Pupuk Organik Cair (POC) Kulit Nanas yang telah dikemas dan bisa dibeli petani lain. (Lentera/Widya)

Inovasi racikan organiknya pun terbukti mampu mengubah struktur tanah menjadi lebih remah dan "berapas". Dampaknya pada produktivitas pun sangat nyata. Mulai dari efisiensi biaya. Dia mampu menekan ketergantungan pupuk kimia secara signifikan.

Hasil panen juga melimpah. Di lahan 1,5 hektar miliknya, Darianto bisa memanen hingga 11,32 ton per hektare untuk varietas Logawa dan Mentik Wangi. Angka yang melampaui rata-rata nasional.

Ekosistem sehat juga tercipta. Ia mengaku tak lagi perlu matun (menyiangi rumput) hingga dua kali karena tanah yang sehat mampu menekan gulma secara alami.

Bahkan untuk urusan hama, Darianto menggunakan logika ekosistem. Alih-alih pestisida keras, ia membangun 'pagupon' untuk mengundang burung hantu sebagai pemangsa tikus alami. 

Apa yang dilakukan Darianto di Nganjuk kini menjadi magnet bagi lintas generasi. 

Inovasinya menarik perhatian mulai dari sesama petani di Magetan, siswa SMKN 1 Bagor, hingga mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) yang datang untuk meneliti proses fermentasinya.

Aroma asam manis dari drum fermentasi di rumah Darianto kini menjadi simbol kemandirian. 

"Inilah kedaulatan. Kalau pupuk kimia langka, petani tidak perlu panik karena bisa bikin sendiri dari bahan di sekitar," tegasnya.

Bagi Darianto, hasil akhir dari inovasi ini bukan sekadar angka tonase, melainkan kualitas hidup. Dengan metode alami, ia menghasilkan beras premium yang minim residu kimia. 

Ia membuktikan bahwa pertanian modern tidak harus meninggalkan akar tradisi, melainkan memperkuatnya dengan manajemen yang lebih rapi.

Kisah Lian di Jombang dengan Smart Greenhouse dan Darianto di Nganjuk melalui POC Kulit Nanas adalah dua sisi mata uang yang sama. 

Dari tangan mereka membuktikan, ketahanan pangan Indonesia sedang dirajut kembali melalui inovasi yang berani. Baik lewat layar ponsel maupun lewat ember fermentasi.

"Tanah itu seperti tubuh manusia. Kalau diberi makanan alami, dia akan sehat kembali dan membuat kita sehat lewat hasil panennya," tutup Darianto. 

Reporter: Widyawati/ Editor: Arifin BH

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.