07 March 2026

Get In Touch

Buka Puasa Para Mantan Harian Surabaya Post, Historiker yang Liyan

Dengan rasa haru tuan rumah M. Anis (tengah baju utih) menyambut kehadiran para tamu Buka Puasa Ramadhan di kediamannya, Sabtu (7/3/2026)
Dengan rasa haru tuan rumah M. Anis (tengah baju utih) menyambut kehadiran para tamu Buka Puasa Ramadhan di kediamannya, Sabtu (7/3/2026)

KOLOM (Lentera) -Sebelas hari lagi perjalanan bulan puasa Ramadhan akan berakhir. Terbentanglah sebuah ruangan besar dengan keramaian di sekitarnya.

Gambar perjalanan riuh dengan figur-figur yang tengah berarak-arakan menjalani ibadah di Bulan Suci. Ruangan besar dengan banyak pintu dan jendela terbuka lebar.

Tampak wajah-wajah bahagia tergambar dalam susasana gembira. Wajah semringah seolah mengejar pahala yang disediakan oleh Allah.

Bulan Ramadhan, bagi umat Islam, adalah salah satu alamat dan tempat untuk meningkatkan ketakwaan. Lewat berbagai-bagai macam ibadah.

Sabtu, 7 Maret 2026. Kediaman wartawan senior M. Anis di Jalan Nyamplungan Surabaya, kedatangan sejumlah tamu. Sore itu ada acara: bukber -baka puasa bersama.

Sebagian besar adalah mantan redaksi dan non redaksi Harian Sore Surabaya Post. Ini tradisi rutin setiap tahun. Setiap bulan Ramadhan.

Alhamdulilah, meskipun bukan dari Surabaya Post, saya bisa mendapat kesempatan hadir.

Haji Yunus Supanto, mantan wartawan koran ini, cerita: setiap tahun dalam bulan Ramadhan, acara buka puasa bersama dengan sponsor tunggal, Haji M. Anis. Wartawan senior Surabaya Post (yang juga seniman pelukis), menyediakan kediamannya, kampung Arab, Jalan Nyamplungan, Surabaya, sebagai ruang pertemuan.

“Sudah berlangsung sekitar satu dekade, M. Anis, menjadi sponsor pertemuan. Termasuk dihadiri wartawan senior H. Ali Salim dahulu ber-inisial (al), juga wartawan senior H. Zainal Arifin Emka (dulu ber-inisial (za).” 

Terdapat pula wartawan senior Saiful Irwan berinisial (ir). Pernah hadir wartawan senior Muflihana ber-inisial (mf), istri Budiono Darsono, pendiri detik.com yang berdomisili di Jakarta 

Yunus mencatat, beberapa wartawan tergolong “senior muda,” pun hadir. Kini banyak menjadi pemimpin redaksi beberapa media online. Ya, ada generasi Sapto, yang pernah mendirikan “tirto.” 

“Sebelum bukber arah pembicaraan masa lalu. Sampai terdengar adzan dari masjid Ampel (radius 30 meter saja dari rumah M. Anis). Menikmati ta’jil dengan es campur, dan kue,” kata wartawan yang berinisial yn ini 

Ada kuliner khas kampung Arab. Berlanjut shalat maghrib di masjid persis di sebelah tuan rumah. Setelah itu makan prasmanan. Ada nasi goreng, nasi briyani, kabuli (khas Arab). Juga daging kambing, dan ikan segar. Seolah-olah di resto besar. Semuanya gratis.

“Surabaya Post, koran harian sore yang pernah kesohor me-nasional, sudah tiga dekade tidak terbit lagi.  Juga tidak ada forum “forum alumni,” ujar Yunus Supanto, kini Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Surabaya.

Menurut Yunus, para mantan karyawan, dan wartawan bisa melepas kerinduan. Menumpahkan cerita kenangan. Walau setahun sekali, acara buka bersama (bukber) menjadi momentum yang ditunggu-tunggu.

Saya menyaksikan bagaimana silaturahmi dihadirkan kembali oleh M. Anis dengan cara-cara yang tidak biasa: sejarah jurnalistik telah hadir dalam balutan usia yang menua.

Historiker yang liyan

M. Anis menyambut hadirin dengan suara-suara terbata-bata. Dia terlihat sangat terharu.

Para karyawan redaksi dan non redaksi Harian Surabaya Post foto bersama di akhir acara Buka Puasa bersama, Sabtu (7/3/2026)
Para karyawan redaksi dan non redaksi Harian Surabaya Post foto bersama di akhir acara Buka Puasa bersama, Sabtu (7/3/2026)

"Meskipun setiap tahun terselenggara, perasaan saya selalu diliputi rasa was-was. Sampai enggak...sampai enggak...Alhamdulillah, akhirnya datang juga" 

Maksudnya, apakah jadwal buka bersama itu bisa mencapai waktunya. Apa bisa terwujud. Sebuah perasaan yang sangat manusiawi.

Napas silaturahmi ala jurnalis senior ini seperti novel tebal. Halaman demi halaman terus dipertahankan. 

Dari Ramadhan ke Ramadhan itulah, M. Anis menulis novel ini. Ia tak ubahnya sebagai seorang yang dapat disebut historiker yang liyan: penulis sejarah yang berbeda.  

Titik berat di sini mengenai bagaimana M. Anis seperti menuliskan sebuah masa dengan sebebas-bebasnya.

Potongan-potongan masa Surabaya Post seperti harta karun, dan sesuatu yang terdapat setelahnya.

M. Anis adalah tokoh di balik penerbitan autobiografi Erros Djarot, yang dipandang sebagai kesaksian penting yang harus terbit dan dibaca.

Buku tersebut memuat kisah nyata perjalanan Erros, termasuk perannya dalam membimbing Megawati Soekarnoputri menuju pemimpin nasional, yang ditulis dengan kaidah sastra yang kuat. 

Kiprah Romo Anis -demikian saya biasa memanggilnya, sangat panjang. Silakan Anda telisik di internet. Jejak digitalnya sebagai jurnalis tertulis sangat manis.

Malam datang bergulir. Buka puasa bersama harus berakhir.

Apakah ada cara lain menuliskan kembali sejarah yang terbentang dalam ruang silaturahmi untuk menjadi berbeda?

Arifin BH, Pemimpin Redaksi

 

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.