07 March 2026

Get In Touch

Deteksi Kanker Payudara dalam 10 Detik, Mahasiswa UB Raih Juara 2 Kompetisi Internasional

Dastino Putra Rendy Lovind dengan BUDDY (breast urgency detection device with thermography). (dok. Humas UB)
Dastino Putra Rendy Lovind dengan BUDDY (breast urgency detection device with thermography). (dok. Humas UB)

MALANG (Lentera) - Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berhasil menciptakan teknologi yang mampu mendeteksi potensi kanker payudara, hanya dalam waktu sekitar 10 detik. 

Inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) tersebut, mengantarkan 4 mahasiswa UB meraih juara kedua dalam ajang International Student Competition 2026 yang diselenggarakan oleh CEM UPM Malaysia.

Keempat mahasiswa tersebut adalah Dastino Putra Rendy Lovind dan Anggie Fadillah Dwiva dari Program Studi Teknik Bioproses Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), serta Livy Noer Azizah dan Rifda Alfia Safina dari Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan FTP. Mereka mengembangkan inovasi teknologi bernama BUDDY (Breast Urgency Detection Device with Thermography).

"Ide yang kami usung bernama BUDDY, yaitu sistem deteksi dini kanker payudara yang memanfaatkan kamera termal. Sistem ini dapat dijalankan melalui aplikasi di ponsel dan mampu memberikan hasil analisis secara cepat, sekitar lima hingga sepuluh detik," ujar Dastino, Sabtu (7/3/2026).

Dijelaskannya, gagasan pengembangan teknologi tersebut berangkat dari kepekaan tim terhadap tingginya prevalensi kanker payudara. 

Meski metode deteksi dini seperti SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) dan SADANIS (pemeriksaan payudara klinis) telah dikenal luas, menurutnya masih banyak masyarakat yang merasa kurang nyaman melakukannya. "Selain itu, tingkat edukasi mengenai deteksi mandiri juga masih rendah," katanya.

Berdasarkan kondisi tersebut, tim mahasiswa UB mencoba merancang alternatif metode pemeriksaan yang lebih praktis dan dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Melalui aplikasi BUDDY, pengguna terlebih dahulu diminta mengisi survei terkait kondisi kesehatan.

Setelah itu, proses pemindaian dilakukan menggunakan kamera termal dengan jarak sekitar 60cm secara horizontal dari area payudara. Hasil pemindaian kemudian dikirimkan ke sistem BUDDY melalui server hosting untuk dianalisis lebih lanjut.

Menurut Dastino, analisis data dilakukan menggunakan teknologi kecerdasan buatan yang telah dilatih menggunakan ribuan sampel gambar. Sistem tersebut memanfaatkan dataset DMR, anotasi Roboflow, serta model AI YOLO v8 untuk mengidentifikasi indikasi kanker payudara.

"Secara garis besar, sistem ini memiliki dua komponen utama. Kamera termal berfungsi sebagai 'mata' untuk menangkap citra, sedangkan perangkat lunak yang dilengkapi AI menjadi 'otak' untuk menganalisis data tersebut," tambahnya.

Melalui sistem tersebut, lanjut Dastino, aplikasi BUDDY mampu mendeteksi sejumlah parameter penting. Mulai dari lokasi indikasi, ukuran, hingga potensi stadium kanker payudara. Hasil analisis kemudian ditampilkan secara langsung kepada pengguna melalui aplikasi.

Di balik keberhasilan meraih prestasi di tingkat internasional, Dastino mengungkapkan dirinya bersama tim sempat menghadapi kendala pembiayaan, khususnya untuk menutupi biaya registrasi sebagai finalis kompetisi.

Meski demikian, ia mengaku bersyukur karena pihak fakultas dan tim internal memberikan dukungan pendanaan meskipun belum sepenuhnya menutup kebutuhan biaya yang diperlukan.

"Agar mahasiswa lebih berani mengikuti kompetisi internasional, kami berharap pihak kampus dapat memberikan dukungan yang lebih besar, terutama dari sisi pendanaan," tuturnya.

Ke depan, Dastino berharap inovasi BUDDY dapat terus dikembangkan hingga tahap komersialisasi dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat dengan dukungan pemerintah maupun pihak terkait.

Sebagai bentuk perlindungan terhadap inovasi tersebut, teknologi BUDDY telah didaftarkan hak patennya dengan nomor EC00202467457 dengan tanggal permohonan pada 18 Juli 2024.


Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.