SURABAYA (Lentera) -Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim, Wara Sundari Renny Pramana menyoroti perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jawa Timur yang berada di kawasan Timur Tengah menyusul memanasnya konflik di kawasan Teluk.
Ia menilai situasi tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran bagi PMI yang berencana pulang ke tanah air menjelang Lebaran 2026.
“Sekarang ini Timur Tengah lagi memanas. Terus nasib PMI asal Jatim yang akan mudik tentunya akan was-was untuk kembali ke tanah air. Pemerintah harus memperhatikan nasib mereka,” ungkapnya, Jumat (6/3/2026).
Menurut Bendahara DPD PDI Perjuangan Jatim ini, perlu sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta keluarga PMI untuk memantau kondisi para pekerja migran yang berada di kawasan tersebut.
“Perlu ada pendataan jumlah yang terbaru PMI asal Jatim yang bekerja disana. Dan tentunya pemprov meminta pemerintah pusat juga harus memastikan kepastian adanya saluran komunikasi yang tak terputus agar interaksi PMI dengan keluarga tetap bisa terhubung,” katanya.
Renny menambahkan, kepastian kondisi para PMI di kawasan Teluk menjadi bentuk kehadiran negara dalam melindungi warganya yang bekerja di luar negeri.
Selain itu, ia juga meminta pemerintah memastikan kondisi PMI asal Jawa Timur yang tidak terdaftar secara resmi.
“Saya kira Disnakertrans Jatim harus buat posko pengaduan memastikan jumlah PMI asal Jatim yang terdaftar atau tidak dan nasib mereka yang terkini ditempat bekerjanya tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, konflik di kawasan Teluk yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan warga negara Indonesia di kawasan tersebut.
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI) periode 2022–2026, sekitar 7.000 PMI asal Jawa Timur tercatat masih berada di Timur Tengah. Mayoritas tersebar di Arab Saudi sebanyak 3.994 orang, Turki 958 orang, dan Qatar 638 orang.
Adapun di wilayah yang berdekatan dengan titik konflik tercatat terdapat 13 PMI di Yordania dan satu PMI di Lebanon.
Reporter: Pradhita|Editor: Arifin BH





.jpg)
